alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Prof. Wawan Dhewanto, Guru Besar ITB Alumni SMAN 1 Probolinggo

PROBOLINGGO, Radar Bromo Inilah guru besar yang sedang hangat diperbincangkan. Ya, Prof. Wawan Dhewanto, S.T,. M.Sc., Ph.D adalah sosok pria sederhana yang baru –baru ini menyandang gelar profesor dalam bidang Ilmu Kewirausahaan di Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kabar inipun menuai apresiasi dari sejumlah guru, teman sekolah, bahkan teman orang tua yang menjadi saksi perjalanan hidup, siapakah sosok Prof. Wawan Dhewanto semasa sekolah di SMA Negeri 1 Probolinggo. Dan fakta menariknya, Prof. Wawan Dhewanto ini merupakan adalah putra pertama pasangan Alm. Drs. Sarwanto, dan Ir. Retno Widjajaningsih. Saat itu, Drs. Sarwanto adalah Wali Kota Probolinggo periode 1990-1993.

Namun, meski terlahir sebagai seorang anak seorang eksekutif yang memimpin kota Probolinggo, kesan yang melekat di sosok Wawan remaja adalah anak yang cerdas dan memiliki banyak teman dari semua kalangan dan termasuk salah satu siswa yang paling berkesan bagi guru-guru.

“Syukur Alhamdulillah, mendengar kabar ada siswa saya sudah jadi Profesor. Saya ikut bangga menjadi salah satu gurunya,“ ungkap salah seorang guru biologi Endah Sudarwati. Endah yang masih mengajar di SMA NEGERI 1 Probolinggo ini mengaku,”Anak-anak dulu memang sregep-sregep belajar, kesekolah ya untuk belajar. Tidak macam-macam.“

“Seingat saya, saya mengajar biologi sewaktu Wawan duduk di kelas X. Sementara Wawan adalah siswa kelas Fisika. Sepengetahuan saya, Wawan itu siswa yang pendiam, cerdas, dan sederhana. Jadi, meskipun dia anak pejabat, Wawan ini penampilannya biasa saja, seperti anak-anak lainnya. Ke sekolahpun menggunakan sepeda. Tidak pernah diantar mobil atau sopir. Dimata kami guru-guru, selain pintar dan cerdas, Wawan itu familiar sekali memiliki banyak teman-teman,“ ungkap Endah.

REUNI PERAK: Bahkan saat menjadi orang besarpun, Prof. Wawan Dhewanto tak pernah berubah sedikitpun. Tampak saat Reuni Perak Smasa, Prof Wawan kompak bersama teman-teman berada di baris kedua (keempat dari kiri).

Kesan senada, juga begitu lekat dirasakan Nurhasanah, teman yang kini menjadi guru di SMAN 1 (Smasa) Probolinggo. “Wawan adalah anak wali kota. Namun, ia tidak sombong, mau berteman dengan siapa saja, tidak membeda-bedakan, meskipun dari kalangan tidak mampu sekalipun. Sama semua teman itu baik,“ ungkapnya Nurhasanah.

“Hingga sekarangpun, sudah menjadi orang besar seperti sekarang ini, ia masih saja tetap menjalin silaturahmi dengan baik. Bahkan meski sibuk luar biasa, Wawan selalu menyempatkan komunikasi. Tiap usai kelulusan baru misalnya, mesti menanyakan siapa saja adik-adik alumni Smasa Probolinggo yang lolos masuk ITB,“ lanjut Nurhasanah lagi.

Selain guru, Wawan remaja juga dikenal baik oleh Sri Martini (Bu Sochih), salah satu teman dari Alm. Drs. Sarwanto yang kini telah purna tugas. “Dulu saya adalah bagian rumah tangganya Alm. Pak Sarwanto. Jadi tahu betul keseharian Wawan setiap harinya. Pulang sekolah, ganti baju, yang dicari pasti tas sekolahnya. Lalu, mengerjakan tugas-tugas dan sibuk belajar. Begitu setiap hari,“ kenang Sri Martini.

Selain Sri Martini, Suwignyo Widodo yang saat itu dinas sebagai ajudan Wali Kota ikut menambahkan,”Sekalipun bapak sibuk dinas, ibu pun juga sibuk dinas, tapi keduanya adalah tipe orang tua yang tidak pernah luput memberikan perhatiannya terhadap keluarga, khususnya pada anak.“

“Benar kata orang, bahwa anak adalah miniatur orang tua. Alm. pak Sarwanto dan Ibu Retno ini sama-sama orang pintar, dan sabar. Meskipun sama-sama orang penting tapi mudah bergaul dengan siapa saja. Tekun, bijaksana, sederhana. Makanya, semua anak-anaknya juga nurun,“ lanjut Suwignyo, ASN yang masih dinas di Pemkot Probolinggo ini.

“Hal yang paling saya ingat, saat Wawan ditinggal Pak Sarwanto meninggal dunia. Alm. Pak Sarwanto meninggal mendadak saat masih menjabat Wali Kota, saat itu Wawan masih kelas 2 SMA kalau tidak salah. Karena Alm. Pak Sarwanto sudah tidak menjabat, ibunda dan 2 saudara Wawan ini pulang balik ke Trenggalek. Tapi hebatnya, Wawan ini tetap bertahan di Probolinggo melanjutkan sekolahnya hingga lulus dari Smasa,”.

“Saat itu, Wawan ngekos dan hidup sendirian. Namun dari pantauan saya, hari-harinya Wawan begitu tegar meskipun tanpa sanak saudara di Probolinggo. Bahkan belajarnya semakin tekun dan rajin. Bagi saya ya, Wawan ini sudah seperti anak sendiri,”.

Beda lagi dengan cerita kenangan yang melekat dalam benak Fadjriyah, salah satu teman Wawan. Baginya, Wawan adalah satu-satunya teman kelas yang sangat jenius. “Kalau sudah ulangan matematika, Wawan selalu dapat nilai tertinggi. Dari dulu Wawan itu memang tekun. Tidak ada waktu luang tanpa baca buku. Wawan sering nraktir makan teman-taman satu kelas.“

SISWA BERPRESTASI: Wawan Dhewanto remaja (tengah) bersama 2 rekannya Elisabeth dan Dini Santi Ikawati di grup A, menjadi delegasi dari kota Probolinggo dalam Final Lomba Cepat Tepat di TVRI, Surabaya.

Selain Fadjriyah, teman Wawan lainnya, Dini Santi Ikawati juga beranggapan sama saat ditanya sosok Wawan. “Masa-masa SMA memang masa yang tak terlupakan. Dia itu kan pendiam tapi begitu ngomong dia itu lucu. Nah, begitu kami semua tertawa atau pas dia malu gitu, teman-teman ngledekin kalau telinganya jadi merah,” ungkap Dini.

Perjuangan menjadi siswa berprestasi juga tak kalah serunya. “Kami pernah dikirim mewakili kota Probolinggo dalam Lomba Cerdas Tepat SLTA tampil di TVRI. Final itu, kami pulang bawa piala dan sertifikat. Tapi sayang, teman-teman suporter yang rela ikut dampingi Wawan malah kena marah karena tidak ijin. Lah, yang ikut sampai 2 mobil eh. Mungkin saat itu, guru-guru pada bingung ya, dikelas kok anak-anak banyak yang ngilang,” kenang Dini sambil tertawa.

“Wawan adalah teman yang paling sering mengingatkan, kalau kita berbuat gaduh di kelas. Mungkin karena dia pendiam dan cerdas itu, dia punya karisma sendiri. Ujung-ujungnya kita sendiri yang gak enak kalau sudah membuat gaduh dikelas. Yang jelas, sampai sekarang, perhatiannya dan sifatnya tidak pernah berubah. Kami semua bangga menjadi temannya,”.

Prof. Wawan Dhewanto sendiri menamatkan S1 Teknik Industri (TI) di ITB Bandung – Indonesia (2000), lalu melanjutkan S2 nya mengambil System Engineering, Policy Analysis, and Management (SEPA) berhasil meraih Master of Science dari Technisce Universiteit, Delft – Belanda (2003) dan

S3 Management dan berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy dari Monash University, Australia.

Sepak terjang Wawan mengabdikan diri ke dunia pendidikan dimulai sejak tahun 2004 silam. Saat itu, Wawan Dhewanto mulai bergabung dengan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (SBM ITB). Seiring berjalannya waktu, Wawan juga ikut merintis pengembangan program studi baru di SBM ITB. Wajar bila saat itu ia pun dipercaya sebagai Ketua Program Studi Sarjana Kewirausahaan SBM ITB pertama, pada tahun 2013 – 2018.

Pada tahun 2019 hingga kini, Wawan menjabat sebagai Sekretaris Senat Akademik ITB (SA ITB). Hingga kini, minat penelitiannya tak hanya meliputi analisis kebijakan kewirausahaan, tapi juga ekosistem kewirausahaan, start-up digital, usaha kecil menengah dan inovasi bisnis.

Mewakili Guru Smasa, Sudarman, guru Fisika didampingi sang istri Sunar, guru Kimia yang sama-sama mengajar Wawan di tahun 1994 silam, mengaku bangga, senang dan terharu saat mendapat kabar, Wawan salah satu siswa teladannya kini telah menjadi Profesor.

“Tetaplah low profile, tularkan ilmu yang dimiliki melalui dedikasimu di dunia pendidikan agar membawa bangsa Indonesia ke arah lebih baik di masa depan,“ pesannya untuk Prof. Wawan. Sudarman dan sang istri Sunar, telah belasan tahun memasuki masa purna tugas sebagai guru di Smasa Probolinggo.

Joko Priyono, Kasubag Komunikasi Humas pada Pemerintah kota Malang yang dulu menjadi ajudan Wali Kota saat Alm. Sarwanto menjabat, tak ketinggalan turut mengapresiasi. Baik dari sisi ketekunannya, kesederhanaannya, sopan santun kepada orang tua hingga kerendahan hatinya begitu melekat pada figur Wawan yang kini telah menjadi seorang Profesor. “Sosok seperti Mas Wawan inilah teladan bagi anak muda jaman sekarang.“

Saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bromo di tengah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Pandemi Covid-19, Prof. Wawan mengungkapkan apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan anugerah dari Allah SWT.

“Terima kasih saya kepada ibunda Ir. Retno Widjajaningsih dan Almarhum ayahanda, Drs. Sarwanto. Ibunda dan ayahanda adalah sumber inspirasi bagi hidup saya. Atas doa dan didikan beliau pula, saya bisa berada dititik ini,“ ungkap Prof. Wawan saat ditemui melalui Google Meets.

“Apresiasi setinggi-tingginya, juga saya sampai untuk semua bapak ibu guru saya, teman orang tua, hingga teman-teman hebat saya yang sudah mengukir indah perjalanan hidup saya saat masa sekolah. Terimakasih semuanya. Tanpa Anda semua, tidak mungkin saya menjadi seorang Wawan yang seperti sekarang,” lanjut Prof. Wawan.

Suami dari M.T.A. Penia Kresnowati inipun menyampaikan prinsip hidupnya agar bisa menjadi motivasi bagi lainnya. “Lakukan yang terbaik di bidang masing-masing, jangan setengah-setengah. Selalu beradaptasi dalam segala kondisi, bisa bergaul dengan semua kalangan, kerja keras dan pantang menyerah adalah syarat utama. Tapi kuncinya, Be Your Self saja,“ ungkap pria kelahiran 19 Oktober 1976 ini. (*/el)

PROBOLINGGO, Radar Bromo Inilah guru besar yang sedang hangat diperbincangkan. Ya, Prof. Wawan Dhewanto, S.T,. M.Sc., Ph.D adalah sosok pria sederhana yang baru –baru ini menyandang gelar profesor dalam bidang Ilmu Kewirausahaan di Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kabar inipun menuai apresiasi dari sejumlah guru, teman sekolah, bahkan teman orang tua yang menjadi saksi perjalanan hidup, siapakah sosok Prof. Wawan Dhewanto semasa sekolah di SMA Negeri 1 Probolinggo. Dan fakta menariknya, Prof. Wawan Dhewanto ini merupakan adalah putra pertama pasangan Alm. Drs. Sarwanto, dan Ir. Retno Widjajaningsih. Saat itu, Drs. Sarwanto adalah Wali Kota Probolinggo periode 1990-1993.

Namun, meski terlahir sebagai seorang anak seorang eksekutif yang memimpin kota Probolinggo, kesan yang melekat di sosok Wawan remaja adalah anak yang cerdas dan memiliki banyak teman dari semua kalangan dan termasuk salah satu siswa yang paling berkesan bagi guru-guru.

“Syukur Alhamdulillah, mendengar kabar ada siswa saya sudah jadi Profesor. Saya ikut bangga menjadi salah satu gurunya,“ ungkap salah seorang guru biologi Endah Sudarwati. Endah yang masih mengajar di SMA NEGERI 1 Probolinggo ini mengaku,”Anak-anak dulu memang sregep-sregep belajar, kesekolah ya untuk belajar. Tidak macam-macam.“

“Seingat saya, saya mengajar biologi sewaktu Wawan duduk di kelas X. Sementara Wawan adalah siswa kelas Fisika. Sepengetahuan saya, Wawan itu siswa yang pendiam, cerdas, dan sederhana. Jadi, meskipun dia anak pejabat, Wawan ini penampilannya biasa saja, seperti anak-anak lainnya. Ke sekolahpun menggunakan sepeda. Tidak pernah diantar mobil atau sopir. Dimata kami guru-guru, selain pintar dan cerdas, Wawan itu familiar sekali memiliki banyak teman-teman,“ ungkap Endah.

REUNI PERAK: Bahkan saat menjadi orang besarpun, Prof. Wawan Dhewanto tak pernah berubah sedikitpun. Tampak saat Reuni Perak Smasa, Prof Wawan kompak bersama teman-teman berada di baris kedua (keempat dari kiri).

Kesan senada, juga begitu lekat dirasakan Nurhasanah, teman yang kini menjadi guru di SMAN 1 (Smasa) Probolinggo. “Wawan adalah anak wali kota. Namun, ia tidak sombong, mau berteman dengan siapa saja, tidak membeda-bedakan, meskipun dari kalangan tidak mampu sekalipun. Sama semua teman itu baik,“ ungkapnya Nurhasanah.

“Hingga sekarangpun, sudah menjadi orang besar seperti sekarang ini, ia masih saja tetap menjalin silaturahmi dengan baik. Bahkan meski sibuk luar biasa, Wawan selalu menyempatkan komunikasi. Tiap usai kelulusan baru misalnya, mesti menanyakan siapa saja adik-adik alumni Smasa Probolinggo yang lolos masuk ITB,“ lanjut Nurhasanah lagi.

Selain guru, Wawan remaja juga dikenal baik oleh Sri Martini (Bu Sochih), salah satu teman dari Alm. Drs. Sarwanto yang kini telah purna tugas. “Dulu saya adalah bagian rumah tangganya Alm. Pak Sarwanto. Jadi tahu betul keseharian Wawan setiap harinya. Pulang sekolah, ganti baju, yang dicari pasti tas sekolahnya. Lalu, mengerjakan tugas-tugas dan sibuk belajar. Begitu setiap hari,“ kenang Sri Martini.

Selain Sri Martini, Suwignyo Widodo yang saat itu dinas sebagai ajudan Wali Kota ikut menambahkan,”Sekalipun bapak sibuk dinas, ibu pun juga sibuk dinas, tapi keduanya adalah tipe orang tua yang tidak pernah luput memberikan perhatiannya terhadap keluarga, khususnya pada anak.“

“Benar kata orang, bahwa anak adalah miniatur orang tua. Alm. pak Sarwanto dan Ibu Retno ini sama-sama orang pintar, dan sabar. Meskipun sama-sama orang penting tapi mudah bergaul dengan siapa saja. Tekun, bijaksana, sederhana. Makanya, semua anak-anaknya juga nurun,“ lanjut Suwignyo, ASN yang masih dinas di Pemkot Probolinggo ini.

“Hal yang paling saya ingat, saat Wawan ditinggal Pak Sarwanto meninggal dunia. Alm. Pak Sarwanto meninggal mendadak saat masih menjabat Wali Kota, saat itu Wawan masih kelas 2 SMA kalau tidak salah. Karena Alm. Pak Sarwanto sudah tidak menjabat, ibunda dan 2 saudara Wawan ini pulang balik ke Trenggalek. Tapi hebatnya, Wawan ini tetap bertahan di Probolinggo melanjutkan sekolahnya hingga lulus dari Smasa,”.

“Saat itu, Wawan ngekos dan hidup sendirian. Namun dari pantauan saya, hari-harinya Wawan begitu tegar meskipun tanpa sanak saudara di Probolinggo. Bahkan belajarnya semakin tekun dan rajin. Bagi saya ya, Wawan ini sudah seperti anak sendiri,”.

Beda lagi dengan cerita kenangan yang melekat dalam benak Fadjriyah, salah satu teman Wawan. Baginya, Wawan adalah satu-satunya teman kelas yang sangat jenius. “Kalau sudah ulangan matematika, Wawan selalu dapat nilai tertinggi. Dari dulu Wawan itu memang tekun. Tidak ada waktu luang tanpa baca buku. Wawan sering nraktir makan teman-taman satu kelas.“

SISWA BERPRESTASI: Wawan Dhewanto remaja (tengah) bersama 2 rekannya Elisabeth dan Dini Santi Ikawati di grup A, menjadi delegasi dari kota Probolinggo dalam Final Lomba Cepat Tepat di TVRI, Surabaya.

Selain Fadjriyah, teman Wawan lainnya, Dini Santi Ikawati juga beranggapan sama saat ditanya sosok Wawan. “Masa-masa SMA memang masa yang tak terlupakan. Dia itu kan pendiam tapi begitu ngomong dia itu lucu. Nah, begitu kami semua tertawa atau pas dia malu gitu, teman-teman ngledekin kalau telinganya jadi merah,” ungkap Dini.

Perjuangan menjadi siswa berprestasi juga tak kalah serunya. “Kami pernah dikirim mewakili kota Probolinggo dalam Lomba Cerdas Tepat SLTA tampil di TVRI. Final itu, kami pulang bawa piala dan sertifikat. Tapi sayang, teman-teman suporter yang rela ikut dampingi Wawan malah kena marah karena tidak ijin. Lah, yang ikut sampai 2 mobil eh. Mungkin saat itu, guru-guru pada bingung ya, dikelas kok anak-anak banyak yang ngilang,” kenang Dini sambil tertawa.

“Wawan adalah teman yang paling sering mengingatkan, kalau kita berbuat gaduh di kelas. Mungkin karena dia pendiam dan cerdas itu, dia punya karisma sendiri. Ujung-ujungnya kita sendiri yang gak enak kalau sudah membuat gaduh dikelas. Yang jelas, sampai sekarang, perhatiannya dan sifatnya tidak pernah berubah. Kami semua bangga menjadi temannya,”.

Prof. Wawan Dhewanto sendiri menamatkan S1 Teknik Industri (TI) di ITB Bandung – Indonesia (2000), lalu melanjutkan S2 nya mengambil System Engineering, Policy Analysis, and Management (SEPA) berhasil meraih Master of Science dari Technisce Universiteit, Delft – Belanda (2003) dan

S3 Management dan berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy dari Monash University, Australia.

Sepak terjang Wawan mengabdikan diri ke dunia pendidikan dimulai sejak tahun 2004 silam. Saat itu, Wawan Dhewanto mulai bergabung dengan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (SBM ITB). Seiring berjalannya waktu, Wawan juga ikut merintis pengembangan program studi baru di SBM ITB. Wajar bila saat itu ia pun dipercaya sebagai Ketua Program Studi Sarjana Kewirausahaan SBM ITB pertama, pada tahun 2013 – 2018.

Pada tahun 2019 hingga kini, Wawan menjabat sebagai Sekretaris Senat Akademik ITB (SA ITB). Hingga kini, minat penelitiannya tak hanya meliputi analisis kebijakan kewirausahaan, tapi juga ekosistem kewirausahaan, start-up digital, usaha kecil menengah dan inovasi bisnis.

Mewakili Guru Smasa, Sudarman, guru Fisika didampingi sang istri Sunar, guru Kimia yang sama-sama mengajar Wawan di tahun 1994 silam, mengaku bangga, senang dan terharu saat mendapat kabar, Wawan salah satu siswa teladannya kini telah menjadi Profesor.

“Tetaplah low profile, tularkan ilmu yang dimiliki melalui dedikasimu di dunia pendidikan agar membawa bangsa Indonesia ke arah lebih baik di masa depan,“ pesannya untuk Prof. Wawan. Sudarman dan sang istri Sunar, telah belasan tahun memasuki masa purna tugas sebagai guru di Smasa Probolinggo.

Joko Priyono, Kasubag Komunikasi Humas pada Pemerintah kota Malang yang dulu menjadi ajudan Wali Kota saat Alm. Sarwanto menjabat, tak ketinggalan turut mengapresiasi. Baik dari sisi ketekunannya, kesederhanaannya, sopan santun kepada orang tua hingga kerendahan hatinya begitu melekat pada figur Wawan yang kini telah menjadi seorang Profesor. “Sosok seperti Mas Wawan inilah teladan bagi anak muda jaman sekarang.“

Saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bromo di tengah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Pandemi Covid-19, Prof. Wawan mengungkapkan apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan anugerah dari Allah SWT.

“Terima kasih saya kepada ibunda Ir. Retno Widjajaningsih dan Almarhum ayahanda, Drs. Sarwanto. Ibunda dan ayahanda adalah sumber inspirasi bagi hidup saya. Atas doa dan didikan beliau pula, saya bisa berada dititik ini,“ ungkap Prof. Wawan saat ditemui melalui Google Meets.

“Apresiasi setinggi-tingginya, juga saya sampai untuk semua bapak ibu guru saya, teman orang tua, hingga teman-teman hebat saya yang sudah mengukir indah perjalanan hidup saya saat masa sekolah. Terimakasih semuanya. Tanpa Anda semua, tidak mungkin saya menjadi seorang Wawan yang seperti sekarang,” lanjut Prof. Wawan.

Suami dari M.T.A. Penia Kresnowati inipun menyampaikan prinsip hidupnya agar bisa menjadi motivasi bagi lainnya. “Lakukan yang terbaik di bidang masing-masing, jangan setengah-setengah. Selalu beradaptasi dalam segala kondisi, bisa bergaul dengan semua kalangan, kerja keras dan pantang menyerah adalah syarat utama. Tapi kuncinya, Be Your Self saja,“ ungkap pria kelahiran 19 Oktober 1976 ini. (*/el)

MOST READ

BERITA TERBARU

/