alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Pokmas Bromo Kelurahan Ketapang Inisiatif Gelar Pelatihan Hidroponik

PANDEMI telah membuat ketidakpastian hampir seluruh sektor lapisan masyarakat. Tak hanya dari sisi kesehatan, tapi juga perekonomian. Salah satunya harus banyak mengurangi aktivitas di luar. Kegalauan ini pula yang dirasakan bagi warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Berangkat dari rembug bersama warga, idepun muncul sebagai salah satu solusi terbaik agar bisa move on dari pandemi. Termasuk Kelompok Masyarakat Bromo Mandiri, Kelurahan Ketapang, Kota Probolinggo. Kelompok ini menginisiasi pelatihan budi daya tanaman hidoponik bagi warga Kelurahan Ketapang, sebagai upaya untuk mendukung ketahanan pangan keluarga di masa pandemi.

NARSUM: Paparan materi pertama disampaikan narasumber Ir. Sri Harjimah, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda, dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kota Probolinggo. (Foto: Istimewa)

Untuk kali pertama, Pokmas Bromo Mandiri sukses menggelar pelatihan bagi warga, yang digelar Kamis (5/6). Pelatihan hidroponik ini diselenggarakan di teras rumah salah satu warga Kelurahan Ketapang, Salekan. Lokasinya tepat berada di depan Mapolsek Kademangan.

Tak lebih dari 30 warga menjadi peserta pelatihan siang itu. Mereka hadir mewakili masing-masing RW. Karena digelar di masa pandemi, tentu pelatihan berlangsung terbatas dan menerapkan protokol kesehatan ketat. Salah satunya memakai masker selama pelatihan.

Dua narasumber hadir mengisi pelatihan tersebut. Di antaranya, narasumber Ir. Sri Harjimah, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda, dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kota Probolinggo. Dia menyampaikan materi terkait ketahanan pangan di masa pandemi. Sementara satu narasumber lagi adalah Agung Pramono, praktisi tanaman hidroponik. Pria asal Kelurahan Ketapang ini memberikan praktik bagaimana budi daya tanaman hidroponik skala rumah tangga.

ANTUSIAS: Peserta yang ikut pelatihan. Mereka adalah perwakilan dari 5 RW se-Kelurahan Ketapang. (Foto: Istimewa)

“Pandemi yang tak berkesudahan ini membuat banyak warga yang bingung. Di satu sisi kita harus mengindahkan kebijakan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan ketat, dan membatasi aktivitas di luar rumah. Tapi di sisi lain, kalau kita tidak keluar rumah, bagaimana bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari? Pendapatan keluarga juga semakin tidak pasti, mau beli sayur dan lauk juga kadang kita waswas,” ungkap ketua Pokmas Bromo Mandiri, Bambang Supriadi.

Berawal dari situlah, lanjut Bambang, Pokmas menginisiasi menggelar pelatihan hidroponik ini. Menurutnya, budi daya hidroponik menjadi solusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan bagi keluarga.

“Budi daya hidroponik juga dapat mengurangi sampah. Karena dapat dibuat dari bahan bekas pakai seperti stereofoam bekas makanan atau buah, gelas dan botol plastik air mineral yang sulit terurai cepat di tanah. Dan yang terpenting, bila dilakukan dengan baik dan benar, tanaman hidroponik ini juga berpotensi sebagai ide usaha alternatif meningkatkan sumber pendapatan keluarga,” lanjut Bambang.

PRAKTIK: Selain dibekali ilmu, peserta langsung praktik bagaimana menanam tanaman sayur dari hidroponik dengan media rockwool. (Foto: Istimewa)

Mendapati gagasan tersebut, Lurah Ketapang Zainul Faruk, menyambut antusias dengan memfasilitasi kegiatan warganya. “Kami mencoba, bagaimana sekiranya warga bisa menanam sesuatu yang ada hubungannya dengan kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang ada di rumah-rumah. Kalau skala RT atau skala RW, biasanya masih ribet. Lantaran itulah, kami berharap agar kegiatan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga kelurahan Ketapang. Jadi, tidak melulu di satu RW/ RT saja tapi semuanya,” ungkap Lurah Zainul Faruk.

Kasi Pemberdayaan Masyarakat, pada Kelurahan Ketapang, Abdul Jamal, menambahkan, pelatihan hidroponik bagi warga sangat tepat. Mengingat, pengalaman pengetahuan bagi masyarakat ini diperuntukkan dengan memanfaatkan keterbatasan pekarangan. Sangat cocok dengan kondisi pekarangan di wilayah perkotaan.

“Sekarang kan banyak pekarangan yang sudah berkurang. Sehingga, untuk menanam tanaman pangan juga berkurang. Dengan teknik hidroponik ini, tentu dapat dimungkinkan dilakukan penanaman tanaman pangan dengan maksimal, karena hidroponik memiliki banyak keunggulan,” tambah Jamal.

Dalam perkembangannya, Kelurahan Ketapang kini hanya memiliki 1 KRPL. Digelarnya pelatihan hidroponik inipun menjadi motivasi sekaligus pemicu agar angan-angan semua RW punya KRPL segera dapat terwujud.

Sementara itu, dalam paparannya, Sri Harjimah, menegaskan dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan. Tahun 2020, KRPL berubah menjadi Pekarangan Pangan Lestar (P2L). Sumbernya dari DAK Nonfisik pemanfaatannya untuk pemantapan Ketahanan Pangan.

Tahun 2021 ini adalah tahun percobaan penerapannya di seluruh Indonesia. Kota Probolinggo dapat 8 titik. Secara garis besar, penekanan materi yang disampaikan narsum Sri Harjimah lebih pada upaya ketahanan pangan masyarakat dengan urban farming di masa pandemi.

Narsum kedua, Agung Pramono membahas seputar konsep dasar hidroponik, media yang digunakan, nutrisinya, hingga bagaimana menyiapkannya sampai teknik semai menggunakan rockwool dan cenderung langsung pada praktik pelatihan hidroponik kepada peserta.

“Selain menghasilkan kualitas tanaman yang lebih baik, tanaman terhindar dari hama, penggunaan pupuk menjadi lebih hemat. Termasuk tempat karena tidak memerlukan lahan tanah yang luas untuk menanam tanaman. Tanaman dapat tumbuh dengan cepat, hemat tenaga dan waktu,” beber Agung Pramono.

Rosminar, warga RT 2 RW 5 bersyukur, berkesempatan mengikuti pelatihan hidroponik. “Kegiatan yang bagus, bermanfaat sekali bagi kita ibu-ibu. Di rumah ada tanaman hias biasa. Insyaallah habis ini mulai menanam sayuran hidoponik. Saya ingin tanam sawi. Alhamdulillah, setelah pelatihan, kami juga dibekali perlengkapan dan media tanam hidroponik lengkap dengan nutrisinya. Bismillah berhasil. Nanti, kalau ini bibit sawi sudah habis, kemungkinan saya beli bibit lainnya,” ungkapnya. Membudidayakan sayuran hidroponik bagi Rosminar sangat hemat dan sehat, utamanya di masa pandemi. (*/el)

PANDEMI telah membuat ketidakpastian hampir seluruh sektor lapisan masyarakat. Tak hanya dari sisi kesehatan, tapi juga perekonomian. Salah satunya harus banyak mengurangi aktivitas di luar. Kegalauan ini pula yang dirasakan bagi warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Berangkat dari rembug bersama warga, idepun muncul sebagai salah satu solusi terbaik agar bisa move on dari pandemi. Termasuk Kelompok Masyarakat Bromo Mandiri, Kelurahan Ketapang, Kota Probolinggo. Kelompok ini menginisiasi pelatihan budi daya tanaman hidoponik bagi warga Kelurahan Ketapang, sebagai upaya untuk mendukung ketahanan pangan keluarga di masa pandemi.

NARSUM: Paparan materi pertama disampaikan narasumber Ir. Sri Harjimah, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda, dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kota Probolinggo. (Foto: Istimewa)

Untuk kali pertama, Pokmas Bromo Mandiri sukses menggelar pelatihan bagi warga, yang digelar Kamis (5/6). Pelatihan hidroponik ini diselenggarakan di teras rumah salah satu warga Kelurahan Ketapang, Salekan. Lokasinya tepat berada di depan Mapolsek Kademangan.

Tak lebih dari 30 warga menjadi peserta pelatihan siang itu. Mereka hadir mewakili masing-masing RW. Karena digelar di masa pandemi, tentu pelatihan berlangsung terbatas dan menerapkan protokol kesehatan ketat. Salah satunya memakai masker selama pelatihan.

Dua narasumber hadir mengisi pelatihan tersebut. Di antaranya, narasumber Ir. Sri Harjimah, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda, dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kota Probolinggo. Dia menyampaikan materi terkait ketahanan pangan di masa pandemi. Sementara satu narasumber lagi adalah Agung Pramono, praktisi tanaman hidroponik. Pria asal Kelurahan Ketapang ini memberikan praktik bagaimana budi daya tanaman hidroponik skala rumah tangga.

ANTUSIAS: Peserta yang ikut pelatihan. Mereka adalah perwakilan dari 5 RW se-Kelurahan Ketapang. (Foto: Istimewa)

“Pandemi yang tak berkesudahan ini membuat banyak warga yang bingung. Di satu sisi kita harus mengindahkan kebijakan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan ketat, dan membatasi aktivitas di luar rumah. Tapi di sisi lain, kalau kita tidak keluar rumah, bagaimana bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari? Pendapatan keluarga juga semakin tidak pasti, mau beli sayur dan lauk juga kadang kita waswas,” ungkap ketua Pokmas Bromo Mandiri, Bambang Supriadi.

Berawal dari situlah, lanjut Bambang, Pokmas menginisiasi menggelar pelatihan hidroponik ini. Menurutnya, budi daya hidroponik menjadi solusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan bagi keluarga.

“Budi daya hidroponik juga dapat mengurangi sampah. Karena dapat dibuat dari bahan bekas pakai seperti stereofoam bekas makanan atau buah, gelas dan botol plastik air mineral yang sulit terurai cepat di tanah. Dan yang terpenting, bila dilakukan dengan baik dan benar, tanaman hidroponik ini juga berpotensi sebagai ide usaha alternatif meningkatkan sumber pendapatan keluarga,” lanjut Bambang.

PRAKTIK: Selain dibekali ilmu, peserta langsung praktik bagaimana menanam tanaman sayur dari hidroponik dengan media rockwool. (Foto: Istimewa)

Mendapati gagasan tersebut, Lurah Ketapang Zainul Faruk, menyambut antusias dengan memfasilitasi kegiatan warganya. “Kami mencoba, bagaimana sekiranya warga bisa menanam sesuatu yang ada hubungannya dengan kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang ada di rumah-rumah. Kalau skala RT atau skala RW, biasanya masih ribet. Lantaran itulah, kami berharap agar kegiatan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga kelurahan Ketapang. Jadi, tidak melulu di satu RW/ RT saja tapi semuanya,” ungkap Lurah Zainul Faruk.

Kasi Pemberdayaan Masyarakat, pada Kelurahan Ketapang, Abdul Jamal, menambahkan, pelatihan hidroponik bagi warga sangat tepat. Mengingat, pengalaman pengetahuan bagi masyarakat ini diperuntukkan dengan memanfaatkan keterbatasan pekarangan. Sangat cocok dengan kondisi pekarangan di wilayah perkotaan.

“Sekarang kan banyak pekarangan yang sudah berkurang. Sehingga, untuk menanam tanaman pangan juga berkurang. Dengan teknik hidroponik ini, tentu dapat dimungkinkan dilakukan penanaman tanaman pangan dengan maksimal, karena hidroponik memiliki banyak keunggulan,” tambah Jamal.

Dalam perkembangannya, Kelurahan Ketapang kini hanya memiliki 1 KRPL. Digelarnya pelatihan hidroponik inipun menjadi motivasi sekaligus pemicu agar angan-angan semua RW punya KRPL segera dapat terwujud.

Sementara itu, dalam paparannya, Sri Harjimah, menegaskan dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan. Tahun 2020, KRPL berubah menjadi Pekarangan Pangan Lestar (P2L). Sumbernya dari DAK Nonfisik pemanfaatannya untuk pemantapan Ketahanan Pangan.

Tahun 2021 ini adalah tahun percobaan penerapannya di seluruh Indonesia. Kota Probolinggo dapat 8 titik. Secara garis besar, penekanan materi yang disampaikan narsum Sri Harjimah lebih pada upaya ketahanan pangan masyarakat dengan urban farming di masa pandemi.

Narsum kedua, Agung Pramono membahas seputar konsep dasar hidroponik, media yang digunakan, nutrisinya, hingga bagaimana menyiapkannya sampai teknik semai menggunakan rockwool dan cenderung langsung pada praktik pelatihan hidroponik kepada peserta.

“Selain menghasilkan kualitas tanaman yang lebih baik, tanaman terhindar dari hama, penggunaan pupuk menjadi lebih hemat. Termasuk tempat karena tidak memerlukan lahan tanah yang luas untuk menanam tanaman. Tanaman dapat tumbuh dengan cepat, hemat tenaga dan waktu,” beber Agung Pramono.

Rosminar, warga RT 2 RW 5 bersyukur, berkesempatan mengikuti pelatihan hidroponik. “Kegiatan yang bagus, bermanfaat sekali bagi kita ibu-ibu. Di rumah ada tanaman hias biasa. Insyaallah habis ini mulai menanam sayuran hidoponik. Saya ingin tanam sawi. Alhamdulillah, setelah pelatihan, kami juga dibekali perlengkapan dan media tanam hidroponik lengkap dengan nutrisinya. Bismillah berhasil. Nanti, kalau ini bibit sawi sudah habis, kemungkinan saya beli bibit lainnya,” ungkapnya. Membudidayakan sayuran hidroponik bagi Rosminar sangat hemat dan sehat, utamanya di masa pandemi. (*/el)

MOST READ

BERITA TERBARU