alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 28 May 2022

Drone untuk Pertanian Efektif, tapi Harganya Mahal

KRAKSAAN, Radar Bromo – Penyemprotan untuk pengendalian hama dan penyakit lebih efektif dan efisien menggunakan drone. Alat ini bisa menjangkau ke lahan pertanian yang luas. Sayang, harganya masih mahal sehingga masih sulit direalisasiikan. Satu drone butuh anggaran sekitar Rp 400 juta.

Kondisi itu terungkap saat Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur melakukan penyemprotan untuk pengendalian hama dan penyakit dengan memakai drone. Hasilnya, penyemprotan lebih efektif dan efisien. Efektif karena tidak butuh lama dan prosesnya lebih cepat. Sedangkan lebih efisien, karena pestisida yang dibutuhkan menggunakan drone separo disbanding menggunakan penyemprotan manual.

”Sudah dicoba oleh BPTP Jatim di lahan pertanian Kelompok Tani Sidodadi IV Desa Sidopekso, Kraksaan,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi.

Mahbub mengaku, untuk drone tersebut Kabupaten Probolinggo belum memiliki. Karena, alat tersebut harganya cukup mahal. Yaitu berkisar Rp 400 juta untuk satu alat. “Nanti kami coba akan ajukan ke Kementerian Pertanian untuk bantuan alat drone penyemprotan tersebut,” terangnya.

Mahbub mengatakan penyemprotan pengendalian hama dan penyakit menggunakan drone ini merupakan sebuah upaya untuk efisiensi dan efektifitas dalam usaha tani. Jika dilakukan secara konvensional maka biaya semprot yang dibutuhkan jauh lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan drone. Artinya ada efisiensi dari segi biaya. Untuk biaya obatnya tergantung dari pemakaiannya.

“Hal ini kami antisipasi adanya kelangkaan tenaga kerja di sektor usaha tani dan untuk menarik minat buruh tani. Terutama dari kalangan anak muda yang sudah tidak mau turun ke sawah bergelut dengan lumpur,” katanya. (mas/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Penyemprotan untuk pengendalian hama dan penyakit lebih efektif dan efisien menggunakan drone. Alat ini bisa menjangkau ke lahan pertanian yang luas. Sayang, harganya masih mahal sehingga masih sulit direalisasiikan. Satu drone butuh anggaran sekitar Rp 400 juta.

Kondisi itu terungkap saat Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur melakukan penyemprotan untuk pengendalian hama dan penyakit dengan memakai drone. Hasilnya, penyemprotan lebih efektif dan efisien. Efektif karena tidak butuh lama dan prosesnya lebih cepat. Sedangkan lebih efisien, karena pestisida yang dibutuhkan menggunakan drone separo disbanding menggunakan penyemprotan manual.

”Sudah dicoba oleh BPTP Jatim di lahan pertanian Kelompok Tani Sidodadi IV Desa Sidopekso, Kraksaan,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi.

Mahbub mengaku, untuk drone tersebut Kabupaten Probolinggo belum memiliki. Karena, alat tersebut harganya cukup mahal. Yaitu berkisar Rp 400 juta untuk satu alat. “Nanti kami coba akan ajukan ke Kementerian Pertanian untuk bantuan alat drone penyemprotan tersebut,” terangnya.

Mahbub mengatakan penyemprotan pengendalian hama dan penyakit menggunakan drone ini merupakan sebuah upaya untuk efisiensi dan efektifitas dalam usaha tani. Jika dilakukan secara konvensional maka biaya semprot yang dibutuhkan jauh lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan drone. Artinya ada efisiensi dari segi biaya. Untuk biaya obatnya tergantung dari pemakaiannya.

“Hal ini kami antisipasi adanya kelangkaan tenaga kerja di sektor usaha tani dan untuk menarik minat buruh tani. Terutama dari kalangan anak muda yang sudah tidak mau turun ke sawah bergelut dengan lumpur,” katanya. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/