alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Monday, 15 August 2022

3 Bulan Pandemi di Kota Probolinggo, Ada 110 Janda-Duda Baru

KADEMANGAN, Radar Bromo – Angka perceraian di Kota Probolinggo berpotensi meningkat. Terlebih wabah Covid-19 belum mereda yang memicu dampak ekonomi. Mengingat, sejauh ini faktor utama penyebab kerusakan rumah tangga karena tidak stabilnya masalah perekonomian keluarga.

Seperti yang diungkapkan Panitera Pengadilan Agama (PA) Kelas 1B Kota Probolinggo Yomi Kurniawan. Kemarin (9/6), Yomi mengatakan, terhitung mulai Maret hingga 9 Mei 2020, ada 295 kasus perceraian yang ditangani PA Kota Probolinggo. Dari 295 kasus itu, 110 kasus di antaranya sudah dikabulkan. Artinya, selama tiga bulan ada tambahan 110 janda dan duda baru.

Secara terperinci, pada Maret 2020 ada 122 kasus perceraian. Terdiri atas 50 cerai talak dan 72 cerai gugat. Pada April 2020, ada 96 kasus dengan rincian 31 cerai talak dan 65 cerai gugat. Bulan kemarin, menurun ada 77 kasus dengan rincian 26 cerai talak dan 51 cerai gugat.

Menurut Yomi, sejak adanya pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang mengajukan perceraian ke PA Kota Probolinggo. “Semenjak pandemi (Covid-19), perekonomian masyarakat jadi berkurang. Alhasil beban kepala rumah tangga yang mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan istrinya meningkat,” bebernya.

Yomi menerangkan, adanya pandemi korona berdampak pada perekonomian, baik untuk buruh ataupun pelaku usaha. Masalah ini diguna berdampak pada keutuhan rumah tangga. “Terlebih, perceraian memang banyak diakibatkan masalah ekonomi,” ujarnya.

Ia berharap potensi melonjaknya perceraian karena asalan ekonomi yang terdampak Covid-19, bisa diminimalisasi. Salah satunya dengan cara tetap menjaga kestabilan perekonomian masyarakat.

“Ini perlu dipikirkan bersama, sehingga pemerintah bisa tetap menjaga kestabilan perekonomian. Supaya dampak ekonomi dari wabah ini tidak berujung pada meningkatnya angka perceraian di Kota Probolinggo,” ujarnya. (rpd/rud)

KADEMANGAN, Radar Bromo – Angka perceraian di Kota Probolinggo berpotensi meningkat. Terlebih wabah Covid-19 belum mereda yang memicu dampak ekonomi. Mengingat, sejauh ini faktor utama penyebab kerusakan rumah tangga karena tidak stabilnya masalah perekonomian keluarga.

Seperti yang diungkapkan Panitera Pengadilan Agama (PA) Kelas 1B Kota Probolinggo Yomi Kurniawan. Kemarin (9/6), Yomi mengatakan, terhitung mulai Maret hingga 9 Mei 2020, ada 295 kasus perceraian yang ditangani PA Kota Probolinggo. Dari 295 kasus itu, 110 kasus di antaranya sudah dikabulkan. Artinya, selama tiga bulan ada tambahan 110 janda dan duda baru.

Secara terperinci, pada Maret 2020 ada 122 kasus perceraian. Terdiri atas 50 cerai talak dan 72 cerai gugat. Pada April 2020, ada 96 kasus dengan rincian 31 cerai talak dan 65 cerai gugat. Bulan kemarin, menurun ada 77 kasus dengan rincian 26 cerai talak dan 51 cerai gugat.

Menurut Yomi, sejak adanya pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang mengajukan perceraian ke PA Kota Probolinggo. “Semenjak pandemi (Covid-19), perekonomian masyarakat jadi berkurang. Alhasil beban kepala rumah tangga yang mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan istrinya meningkat,” bebernya.

Yomi menerangkan, adanya pandemi korona berdampak pada perekonomian, baik untuk buruh ataupun pelaku usaha. Masalah ini diguna berdampak pada keutuhan rumah tangga. “Terlebih, perceraian memang banyak diakibatkan masalah ekonomi,” ujarnya.

Ia berharap potensi melonjaknya perceraian karena asalan ekonomi yang terdampak Covid-19, bisa diminimalisasi. Salah satunya dengan cara tetap menjaga kestabilan perekonomian masyarakat.

“Ini perlu dipikirkan bersama, sehingga pemerintah bisa tetap menjaga kestabilan perekonomian. Supaya dampak ekonomi dari wabah ini tidak berujung pada meningkatnya angka perceraian di Kota Probolinggo,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/