alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Merasa Dikhianati, Mantan Wali Kota Probolinggo Resmi Keluar dari PPP

KADEMANGAN, Radar Bromo – Betapa kecewanya HM Buchori. Politisi senior Kota Probolinggo yang pernah menjadi wali kota tersebut menyatakan mundur dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Probolinggo. Dia menilai hasil demokrasi pemilihan ketua DPC PPP Kota Probolinggo yang telah dibentuk tidak lagi dihargai. Terbukti, SK DPP PPP terkait ketua DPC PPP Kota Probolinggo, tidak sesuai dengan hasil musyawarah cabang (muscab).

”Saya kaget, berubah lagi ketua (DPC PPP) tidak sesuai dengan hasil pemilihan demokrasi. Itu artinya tidak menghargai saya. Ada yang mempengaruhi hasil demokrasi itu. Saya tidak diintervensi seperti itu, tidak suka. Akhirnya saya menyatakan diri, resmi keluar dari PPP, karena saya dikhianati,” kata HM. Buchori, saat ditemui di rumahnya, Ketapang Kota Probolinggo.

Buchori yang tercatat sebagai penasihat PPP Kota Probolinggo menceritakan, dirinya berpolitik sudah sejak tahun 1971. Nah, dirinya ingin kembali berkiprah ke PPP, yang dulu pernah masuk di dalamnya. Karena dirinya adalah Nahdliyin. Bahkan, dirinya pernah menjadi pengurus PWNU Jatim tahun 2008-2013. ”Saya tidak pernah bisa lepas dari Nahdliyin sejak kecil,” ujarnya.

Hingga akhirnya tahun 1982 dikatakan Buchori, dirinya memilih keluar dari partai berlambang Kakbah tersebut. Sebab, saat itu ketua PPP yang awalnya dari Nahdliyin digeser dari Masyumi. Sehingga, dirinya saat itu diterima PDI-P dan sebagai ketua ranting Mangunharjo. ”Sampai saya merasa gak kerasan (di PDI-P) dan memutuskan masuk di PPP,” tuturnya.

Buchori menerangkan, awalnya dirinya enjoy-enjoy saja di PPP. Termasuk saat ketemu wakil ketua umum DPP PPP. Saat itu dirinya diminta bertahan di PPP dan sampai terjadi Muscab.

Saat itu, dirinya mendukung hasil muscab, Sholeh yang terpilih sebagai ketua DPC PPP Kota Probolinggo. ”Saat itu, Sholeh didukung hampir semua ranting. Akhirnya, DPP tidak berkenan, karena dianggap menyalahi AD/ART. Jika memang salahi AD/ART, kenapa dilanjutkan muscab itu,” ungkapnya.

KADEMANGAN, Radar Bromo – Betapa kecewanya HM Buchori. Politisi senior Kota Probolinggo yang pernah menjadi wali kota tersebut menyatakan mundur dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Probolinggo. Dia menilai hasil demokrasi pemilihan ketua DPC PPP Kota Probolinggo yang telah dibentuk tidak lagi dihargai. Terbukti, SK DPP PPP terkait ketua DPC PPP Kota Probolinggo, tidak sesuai dengan hasil musyawarah cabang (muscab).

”Saya kaget, berubah lagi ketua (DPC PPP) tidak sesuai dengan hasil pemilihan demokrasi. Itu artinya tidak menghargai saya. Ada yang mempengaruhi hasil demokrasi itu. Saya tidak diintervensi seperti itu, tidak suka. Akhirnya saya menyatakan diri, resmi keluar dari PPP, karena saya dikhianati,” kata HM. Buchori, saat ditemui di rumahnya, Ketapang Kota Probolinggo.

Buchori yang tercatat sebagai penasihat PPP Kota Probolinggo menceritakan, dirinya berpolitik sudah sejak tahun 1971. Nah, dirinya ingin kembali berkiprah ke PPP, yang dulu pernah masuk di dalamnya. Karena dirinya adalah Nahdliyin. Bahkan, dirinya pernah menjadi pengurus PWNU Jatim tahun 2008-2013. ”Saya tidak pernah bisa lepas dari Nahdliyin sejak kecil,” ujarnya.

Hingga akhirnya tahun 1982 dikatakan Buchori, dirinya memilih keluar dari partai berlambang Kakbah tersebut. Sebab, saat itu ketua PPP yang awalnya dari Nahdliyin digeser dari Masyumi. Sehingga, dirinya saat itu diterima PDI-P dan sebagai ketua ranting Mangunharjo. ”Sampai saya merasa gak kerasan (di PDI-P) dan memutuskan masuk di PPP,” tuturnya.

Buchori menerangkan, awalnya dirinya enjoy-enjoy saja di PPP. Termasuk saat ketemu wakil ketua umum DPP PPP. Saat itu dirinya diminta bertahan di PPP dan sampai terjadi Muscab.

Saat itu, dirinya mendukung hasil muscab, Sholeh yang terpilih sebagai ketua DPC PPP Kota Probolinggo. ”Saat itu, Sholeh didukung hampir semua ranting. Akhirnya, DPP tidak berkenan, karena dianggap menyalahi AD/ART. Jika memang salahi AD/ART, kenapa dilanjutkan muscab itu,” ungkapnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/