Toko Besar-Perbankan di Pasar Gotong Royong Ditarik Tarif Bedak

MAYANGAN, Radar Bromo – Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi II DPRD Kota Probolinggo dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) dan Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan, dan Aset (BPPKA) mengungkap, retribusi pasar untuk pertokoan besar dan bank yang menempati Pasar Gotong Royong besarnya sama dengan pedagang pasar. Sebab, retribusi yang dikenakan sama yaitu mengacu pada Perda Nomor 3/2011 tentang Retribusi Jasa Umum.

“Untuk pertokoan seperti Indomaret atau bank yang ada di Pasar Gotong Royong, bagaimana penarikan retribusinya. Apakah ada ketentuan khusus atau kerja sama yang dilakukan?” tanya Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo Sibro Malisi.

Kabid Pendapatan, Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset (BPPKA) Kota Probolinggo Slamet Swantoro menjelaskan, pertokoan besar dan perbankan yang menempati bedak di Pasar Gotong Royong mengikuti tarif retribusi sesuai Perda. “Mereka mengikuti tarif retribusi di perda. Kalau di Pasar Baru Rp 400 per meter persegi per hari untuk kios, toko, dan bedak. Sedangkan di Gotong Royong Rp 250 per meter persegi per hari untuk los, halaman, pelataran, atau penjaja,” ujarnya.

Slamet tidak menampik besaran retribusi yang dibayarkan oleh pertokoan besar dan perbankan tidak besar. Karena acuannya bukan pada jenis usaha, melainkan tarif yang telah diatur dalam perda.

Saat ditemui terpisah, Slamet menjelaskan, perubahan tarif retribusi pasar merupakan kewenangan DKUPP untuk mengajukan. BPPKA dalam hal ini memberikan masukan terkait perubahan yang bisa dilakukan.

“Misalnya dibuat berbeda tarif retribusi pasar berdasarkan lokasi tempat usahanya. Misalnya lokasi paling depan dan strategis diterapkan tarif yang lebih tinggi. Sedangkan yang ada di dalam pasar berbeda. Seperti yang dilakukan di Jogjakarta. Juga ada perbedaan tarif retribusi sesuai lokasi jualannya,” terangnya. (put/hn)