alexametrics
24.3 C
Probolinggo
Monday, 8 August 2022

Enam Bulan, Temukan 185 Kasus DBD di Kota Probolinggo, 5 Meninggal

MAYANGAN, Radar Bromo- Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Probolinggo masih perlu terus diwaspadai. Tahun ini, sampai Juni, tercatat sudah ada 185 pasien. Jumlah ini masih berpotensi bertambah, meski sudah memasuki awal kemarau.

Seperti disampaikan Sub Koordinator Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Kota Probolinggo Lusi Tri Wahyuni. Katanya, kini tren DBD mulai menurun. Tetapi, penyebarannya tetap harus diantisipasi, karena cuaca tidak menentu.

Pada awal kemarau, masih sering hujan, sehingga masih berpotensi adanya genangan air. Jika tidak dicegah, penyebaran nyamuk Aedes Aegepty yang membawa virus dengue, bisa makin meningkat.

“Trennya sebenarnya sudah menurun. Tetapi, potensi DBD masih ada kalau tidak dicegah sejak dini. Selama ini, masyarakat sering menganggap fogging sebagai upaya mencegah DBD. Padahal, fogging bersifat pengendalian saja,” jelasnya.

Selama enam bulan awal 2022, temuan DBD meningkat dibandingkan tahun lalu. Pada semester pertama, ada 185 kasus yang menyebar di lima kecamatan. Tiga kasus di antaranya berakhir kematian. Tahun lalu, hanya 153 kasus tanpa ada kasus kematian.

Paling tinggi, kasus DBD ditemukan di Kecamatan Kanigaran dan Kecamatan Mayangan. Di Kecamatan Kanigaran ada 72 kasus dan Kecamatan Mayangan 56 kasus. Berikutnya, Kecamatan Kademangan dengan 29 kasus, Kecamatan Kedopok 17 kasus, dan Kecamatan Wonoasih 11 kasus.

“Tiga kasus kematian terjadi pada Januari di Kecamatan Kademangan dan dua lainnya terjadi di Kecamatan Wonoasih dan Kanigaran pada Mei lalu. Kematian ini, karena mereka (keluarga pasien) telat dalam membawa penderita ke fasilitas kesehatan,” jelas Lusi.

MAYANGAN, Radar Bromo- Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Probolinggo masih perlu terus diwaspadai. Tahun ini, sampai Juni, tercatat sudah ada 185 pasien. Jumlah ini masih berpotensi bertambah, meski sudah memasuki awal kemarau.

Seperti disampaikan Sub Koordinator Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Kota Probolinggo Lusi Tri Wahyuni. Katanya, kini tren DBD mulai menurun. Tetapi, penyebarannya tetap harus diantisipasi, karena cuaca tidak menentu.

Pada awal kemarau, masih sering hujan, sehingga masih berpotensi adanya genangan air. Jika tidak dicegah, penyebaran nyamuk Aedes Aegepty yang membawa virus dengue, bisa makin meningkat.

“Trennya sebenarnya sudah menurun. Tetapi, potensi DBD masih ada kalau tidak dicegah sejak dini. Selama ini, masyarakat sering menganggap fogging sebagai upaya mencegah DBD. Padahal, fogging bersifat pengendalian saja,” jelasnya.

Selama enam bulan awal 2022, temuan DBD meningkat dibandingkan tahun lalu. Pada semester pertama, ada 185 kasus yang menyebar di lima kecamatan. Tiga kasus di antaranya berakhir kematian. Tahun lalu, hanya 153 kasus tanpa ada kasus kematian.

Paling tinggi, kasus DBD ditemukan di Kecamatan Kanigaran dan Kecamatan Mayangan. Di Kecamatan Kanigaran ada 72 kasus dan Kecamatan Mayangan 56 kasus. Berikutnya, Kecamatan Kademangan dengan 29 kasus, Kecamatan Kedopok 17 kasus, dan Kecamatan Wonoasih 11 kasus.

“Tiga kasus kematian terjadi pada Januari di Kecamatan Kademangan dan dua lainnya terjadi di Kecamatan Wonoasih dan Kanigaran pada Mei lalu. Kematian ini, karena mereka (keluarga pasien) telat dalam membawa penderita ke fasilitas kesehatan,” jelas Lusi.

MOST READ

BERITA TERBARU

/