alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Kasus Stunting di Kab Probolinggo Masih Tinggi, Tercatat Ada 13.206 Balita

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

DRINGU, Radar Bromo – Angka kasus stunting di Kabupaten Probolinggo, masih tinggi. Dari data akhir 2019, angka stunting mencapai 16,37 persen. Atau, sebanyak 13.206 balita dari 80.665 balita yang timbang mengalami stunting.

Angka itu sesuai data balita bulan timbang. Berbeda dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang sebutkan kasus stunting di Kabupaten Probolinggo pada 2019, mencapai 39,9 persen.

Kondisi ini mendapatkan perhatian serius dari Pemkab Probolinggo. Mengingat, di sisi lain ada virus korona yang masih menjadi fokus pencegahan dan penanganan.

“Tetapi, upaya dan program untuk mengurangi kasus stunting terus dilakukan. Terutama di bidang layanan kesehatan. Meski fokus kami sekarang pencegahan dan penanganan Covid-19,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Anang Budi Yoelijanto, beberapa waktu lalu.

Anang mengaku terus berupaya memberikan pemahaman kepada para orang tua untuk memperhatikan gizinya. Baik saat sedang hamil, maupun sudah melahirkan. “Dibanding lima tahun terakhir, angka stunting naik. Tapi, dari tahun 2018 ke tahun 2019, kami berhasil menurunkan angka stunting sekitar 1 persen. Itu, sudah sekitar 1.000 balita dinyatakan bebas stunting. Termasuk, tahun ini kami berupaya menurunkan angka stunting,” jelasnya.

Menurutnya, faktor paling kuat tingginya kasus stunting karena pola asuh yang salah dan orang tua tidak siap memiliki anak. Akibatnya, anak kekurangan gizi dan pertumbuhannya terabaikan. Karenanya, pihaknya berkomitmen akan terus berupaya melakukan pencegahan terhadap penyakit kurang gizi itu.

“Kami terus berupaya menyadarkan masyarakat. Ini yang paling penting. Ketika masyarakat sadar dan telah menyadari pentingnya menjaga anak agar tidak stunting, Kabupaten Probolinggo akan terbebas dari stunting,” terangnya.

Stunting, kata Anang, merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis. Sehingga, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Pihak pertama yang paling bertanggung jawab atas kesehatan anak adalah calon ibu dan bapak.

“Karena itu, pencegahan stunting menjadi permasalahan yang harus dihadapi dan ditanggulangi secara terpadu dan terintegrasi melalui kolaborasi semua pihak. Baik pemerintah, pengusaha swasta, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Yang paling berperan adalah dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai individu atau pribadi. Khususnya, dalam pengetahuan gizi perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Anang. (mas/rud/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

DRINGU, Radar Bromo – Angka kasus stunting di Kabupaten Probolinggo, masih tinggi. Dari data akhir 2019, angka stunting mencapai 16,37 persen. Atau, sebanyak 13.206 balita dari 80.665 balita yang timbang mengalami stunting.

Angka itu sesuai data balita bulan timbang. Berbeda dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang sebutkan kasus stunting di Kabupaten Probolinggo pada 2019, mencapai 39,9 persen.

Kondisi ini mendapatkan perhatian serius dari Pemkab Probolinggo. Mengingat, di sisi lain ada virus korona yang masih menjadi fokus pencegahan dan penanganan.

Mobile_AP_Half Page

“Tetapi, upaya dan program untuk mengurangi kasus stunting terus dilakukan. Terutama di bidang layanan kesehatan. Meski fokus kami sekarang pencegahan dan penanganan Covid-19,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Anang Budi Yoelijanto, beberapa waktu lalu.

Anang mengaku terus berupaya memberikan pemahaman kepada para orang tua untuk memperhatikan gizinya. Baik saat sedang hamil, maupun sudah melahirkan. “Dibanding lima tahun terakhir, angka stunting naik. Tapi, dari tahun 2018 ke tahun 2019, kami berhasil menurunkan angka stunting sekitar 1 persen. Itu, sudah sekitar 1.000 balita dinyatakan bebas stunting. Termasuk, tahun ini kami berupaya menurunkan angka stunting,” jelasnya.

Menurutnya, faktor paling kuat tingginya kasus stunting karena pola asuh yang salah dan orang tua tidak siap memiliki anak. Akibatnya, anak kekurangan gizi dan pertumbuhannya terabaikan. Karenanya, pihaknya berkomitmen akan terus berupaya melakukan pencegahan terhadap penyakit kurang gizi itu.

“Kami terus berupaya menyadarkan masyarakat. Ini yang paling penting. Ketika masyarakat sadar dan telah menyadari pentingnya menjaga anak agar tidak stunting, Kabupaten Probolinggo akan terbebas dari stunting,” terangnya.

Stunting, kata Anang, merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis. Sehingga, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Pihak pertama yang paling bertanggung jawab atas kesehatan anak adalah calon ibu dan bapak.

“Karena itu, pencegahan stunting menjadi permasalahan yang harus dihadapi dan ditanggulangi secara terpadu dan terintegrasi melalui kolaborasi semua pihak. Baik pemerintah, pengusaha swasta, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Yang paling berperan adalah dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai individu atau pribadi. Khususnya, dalam pengetahuan gizi perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Anang. (mas/rud/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2