alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

BPBD Kab Probolinggo Waspadai Bencana Kekeringan

DRINGU, Radar Bromo – Bencana alam masih terus mengancam Kabupaten Probolinggo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, mencatat dalam kurun waktu 5 bulan terakhir, telah dilanda 60 bencana. Kini, BPBD mulai waspada menghadapi bencana kekeringan.

Personel Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Probolinggo Silvia Verdiana mengatakan, bencana alam yang melanda merupakan gejala alam. Datangnya tidak dapat ditebak, sehingga masyarakat perlu melakukan upaya mitigasi risiko agar dapat meminimalisasi dampaknya. Mulai dari kerugian materiil hingga risiko yang dapat mengancam nyawa.

“Bencana bisa kapan saja datangnya. Tidak ada yang tahu. Karena itu, masyarakat perlu siaga agar mampu melakukan mitigasi risiko,” ujarnya.

Dari data BPBD, tahun ini sampai akhir Mei, telah terjadi 60 bencana alam. Meliputi banjir 22 kejadian, tanah longsor 18 kejadian, dan angin kencang 15 kejadian. Kejadian tersebut meningkat dari setiap bulannya. “Karena potensi bencana masih bisa terjadi, maka juga bisa jadi bertambah,” ujarnya.

Ada tiga wilayah yang terdampak bencana banjir. Yakni, Kecamatan Dringu, Paiton, dan Kraksaan. Kemudian, tanah longsor terjadi di Kecamatan Kraksaan dan Kotaanyar. Sedangkan, angin kencang terjadi di Kecamatan Paiton, Bantaran, dan Gading. “Wilayah terkena bencana berdasarkan pemetaan setiap tahun hampir sama,” tuturnya.

Sementara itu, memasuki musim kemarau, BPBD juga mewaspadai potensi terjadinya kekeringan. Pemetaan potensi kekeringan di beberapa wilayah telah dilakukan. Di antaranya, Kecamatan Kuripan meliputi Desa Wonoasri, Jatisari, dan Kedawung; Kecamatan Tiris di Desa Tulupari; Kecamatan Banyuanyar di Desa Gununggeni.

Selanjutnya, Kecamatan Tegalsiwalan meliputi Desa Tegalsono, Bulujaran Kidul, dan Bulujaran Lor; Kecamatan Lumbang meliputi Desa Lumbang, Tandonsentul, dan Purut; Kecamatan Wonomerto meliputi Desa Sepuhgembol, Pohsangit Lor, Pohsangit Ngisor, dan Sumberkare; Kecamatan Tongas meliputi Desa Sumberkramat dan Sumberejo.

“Wilayah yang sudah kami petakan otomatis kami waspadai. Pemetaan wilayah tersebut bukan tanpa alasan, hal ini didasarkan pada data pengiriman air bersih dan pemantauan kondisi di lapangan,” jelasnya. (ar/rud)

DRINGU, Radar Bromo – Bencana alam masih terus mengancam Kabupaten Probolinggo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, mencatat dalam kurun waktu 5 bulan terakhir, telah dilanda 60 bencana. Kini, BPBD mulai waspada menghadapi bencana kekeringan.

Personel Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Probolinggo Silvia Verdiana mengatakan, bencana alam yang melanda merupakan gejala alam. Datangnya tidak dapat ditebak, sehingga masyarakat perlu melakukan upaya mitigasi risiko agar dapat meminimalisasi dampaknya. Mulai dari kerugian materiil hingga risiko yang dapat mengancam nyawa.

“Bencana bisa kapan saja datangnya. Tidak ada yang tahu. Karena itu, masyarakat perlu siaga agar mampu melakukan mitigasi risiko,” ujarnya.

Dari data BPBD, tahun ini sampai akhir Mei, telah terjadi 60 bencana alam. Meliputi banjir 22 kejadian, tanah longsor 18 kejadian, dan angin kencang 15 kejadian. Kejadian tersebut meningkat dari setiap bulannya. “Karena potensi bencana masih bisa terjadi, maka juga bisa jadi bertambah,” ujarnya.

Ada tiga wilayah yang terdampak bencana banjir. Yakni, Kecamatan Dringu, Paiton, dan Kraksaan. Kemudian, tanah longsor terjadi di Kecamatan Kraksaan dan Kotaanyar. Sedangkan, angin kencang terjadi di Kecamatan Paiton, Bantaran, dan Gading. “Wilayah terkena bencana berdasarkan pemetaan setiap tahun hampir sama,” tuturnya.

Sementara itu, memasuki musim kemarau, BPBD juga mewaspadai potensi terjadinya kekeringan. Pemetaan potensi kekeringan di beberapa wilayah telah dilakukan. Di antaranya, Kecamatan Kuripan meliputi Desa Wonoasri, Jatisari, dan Kedawung; Kecamatan Tiris di Desa Tulupari; Kecamatan Banyuanyar di Desa Gununggeni.

Selanjutnya, Kecamatan Tegalsiwalan meliputi Desa Tegalsono, Bulujaran Kidul, dan Bulujaran Lor; Kecamatan Lumbang meliputi Desa Lumbang, Tandonsentul, dan Purut; Kecamatan Wonomerto meliputi Desa Sepuhgembol, Pohsangit Lor, Pohsangit Ngisor, dan Sumberkare; Kecamatan Tongas meliputi Desa Sumberkramat dan Sumberejo.

“Wilayah yang sudah kami petakan otomatis kami waspadai. Pemetaan wilayah tersebut bukan tanpa alasan, hal ini didasarkan pada data pengiriman air bersih dan pemantauan kondisi di lapangan,” jelasnya. (ar/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/