alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Waspada Gelombang Tinggi di Laut Hingga Tiga Hari ke Depan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Cuaca di awal Maret ini diprediksi masih termasuk kategori ekstrem. Bahkan gelombang tinggi berpotensi bisa terjadi. Di perairan, gelombang tinggi bisa terjadi hingga 3 meter.

Meski hingga tiga hari mendatang cuaca kurang mendukung dengan gelombang tinggi, sejumlah nelayan tetap pilih untuk melaut. Oleh karenanya pihak PPP Mayangan mengimbau agar para nelayan waspada.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis Pelabuhan pada PPP Mayangan Arif Wahyudi, menerangkan, sesuai prediksi BMKG Surabaya, gelombang laut Jawa dan Madura, ketinggian ombak hingga Minggu (7/3) mendatang bisa mencapai 3 meter. Tentunya dengan ketinggian ombak yang kurang bersahabat itu , ia mengimbau agar para nelayan waspada saat melaut.

“Kami imbau nelayan untuk tetap waspada. Namun pada dasarnya para nelayan yang sudah terbiasa dnegan kondisi ektrem, biasanya tetap melaut. Selanjutnya ketika di tengah kondisinya kurang baik, maka mereka menepi untuk sementara,” katanya.

Menurutnya hal itu dilakukan lantaran cuaca mendatang sifatnya hanya prediksi. Mengingat faktor alam sulit untuk diduga. “Itu alasan sejumlah nelayan. Sebab sebagian menilai hanyalah prediksi. Bisa jadi dan bisa tidak. Karenanya sebagian memilih tetap melalut. Jika di tengah cuaca tidak bagus, maka kapal menepi,” tambah Arif.

Sementara itu, Sunarto, 42 warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan yang biasa ikut kapal jonggrang untuk melaut menurturkan, kapalnya tetap melaut meski cauca kurang bagus. Hanya saja, ia bersama dengan 9 kru lainnya, memilih mencari ikan tidak sampai ke tengah perairan jika cuaca diprediksi buruk. Sehingga ketika cuaca buruk bisa segera ke tepi untuk sementara waktu.

“Jika kami tetap melaut. Saya dari umur 16 sudah ikut ayah dulu melaut. Jadi walau cuaca buruk, kami tetap berangkat,” kata pria yang saat itu mengenakan kopiah putih.

Hal senada juga diungkapkan Saronam, 45. Pria 4 anak asal Mayangan itu menerangkan bahwa yang paling sulit bukan hanya pada saat cuca. Melainkan pada saat terang bulan atau yang biasa mereka sebut terak’an. Dalam kondisi itu ikan sangat jarang. Sehingga jumlah yang ditangkap sedikit.

Jika terlalu sedikit, dan biaya operasional lebih banyak, bisa jadi majikannya memilih untuk berlibur sementara waktu. “Jumlah tangkapan ikan kan tidak menentu. Nah, biasanya mandor (majikan) kami kalau terak’an, dari 6 kapal, yang dijalankan hanya 3 kapal. Sisanya, kapal diliburkan (melaut, Red) dulu,” terangnya. (rpd/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Cuaca di awal Maret ini diprediksi masih termasuk kategori ekstrem. Bahkan gelombang tinggi berpotensi bisa terjadi. Di perairan, gelombang tinggi bisa terjadi hingga 3 meter.

Meski hingga tiga hari mendatang cuaca kurang mendukung dengan gelombang tinggi, sejumlah nelayan tetap pilih untuk melaut. Oleh karenanya pihak PPP Mayangan mengimbau agar para nelayan waspada.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis Pelabuhan pada PPP Mayangan Arif Wahyudi, menerangkan, sesuai prediksi BMKG Surabaya, gelombang laut Jawa dan Madura, ketinggian ombak hingga Minggu (7/3) mendatang bisa mencapai 3 meter. Tentunya dengan ketinggian ombak yang kurang bersahabat itu , ia mengimbau agar para nelayan waspada saat melaut.

Mobile_AP_Half Page

“Kami imbau nelayan untuk tetap waspada. Namun pada dasarnya para nelayan yang sudah terbiasa dnegan kondisi ektrem, biasanya tetap melaut. Selanjutnya ketika di tengah kondisinya kurang baik, maka mereka menepi untuk sementara,” katanya.

Menurutnya hal itu dilakukan lantaran cuaca mendatang sifatnya hanya prediksi. Mengingat faktor alam sulit untuk diduga. “Itu alasan sejumlah nelayan. Sebab sebagian menilai hanyalah prediksi. Bisa jadi dan bisa tidak. Karenanya sebagian memilih tetap melalut. Jika di tengah cuaca tidak bagus, maka kapal menepi,” tambah Arif.

Sementara itu, Sunarto, 42 warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan yang biasa ikut kapal jonggrang untuk melaut menurturkan, kapalnya tetap melaut meski cauca kurang bagus. Hanya saja, ia bersama dengan 9 kru lainnya, memilih mencari ikan tidak sampai ke tengah perairan jika cuaca diprediksi buruk. Sehingga ketika cuaca buruk bisa segera ke tepi untuk sementara waktu.

“Jika kami tetap melaut. Saya dari umur 16 sudah ikut ayah dulu melaut. Jadi walau cuaca buruk, kami tetap berangkat,” kata pria yang saat itu mengenakan kopiah putih.

Hal senada juga diungkapkan Saronam, 45. Pria 4 anak asal Mayangan itu menerangkan bahwa yang paling sulit bukan hanya pada saat cuca. Melainkan pada saat terang bulan atau yang biasa mereka sebut terak’an. Dalam kondisi itu ikan sangat jarang. Sehingga jumlah yang ditangkap sedikit.

Jika terlalu sedikit, dan biaya operasional lebih banyak, bisa jadi majikannya memilih untuk berlibur sementara waktu. “Jumlah tangkapan ikan kan tidak menentu. Nah, biasanya mandor (majikan) kami kalau terak’an, dari 6 kapal, yang dijalankan hanya 3 kapal. Sisanya, kapal diliburkan (melaut, Red) dulu,” terangnya. (rpd/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2