alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Istri Mau Dipeluk, Hajar Tamu yang Tagih Utang di Indekos Cokro

KANIGARAN, Radar Bromo – Keributan terjadi di indekos keluarga GG II, RT 5/ RW 11, JL Cokroaminoto, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Seorang lelaki keluar dari indekos dengan kondisi bersimbah darah di wajahnya.

Hanafi, 67, Ketua RT 5, menerangkan, kronologi kejadian tersebut masih belum jelas. Pasalnya, yang bersangkutan saat ditanya jawabannya juga ke mana-mana.

Namun yang jelas, ada tiga orang yang berselisih. Semuanya warga pendatang dari Madura. Dua di antaranya pasangan suami-istri (pasutri) asal Madura indekos di tempat Bu Atmi sekitar sebulan terakhir.

Ketiga warga dari Madura yang berselisih itu yakni IM, 22 dan SM, 45, keduanya pasangan suami-istri yang indekos di tempat Bu Atmi. Seorang lagi yakni SW, 45.

Informasi yang diterima pak RT, SW dari Madura datang ke indekos pasutri IM dan SM. Tujuannya untuk menagih utang. “Dari (utang) Rp 10 juta itu, sebagian sudah dibayar. Sisanya yang belum dibayar tinggal Rp 8,3 juta,” kata Hanafi.

Rupanya WS pernah menjalin hubungan dengan IM. SW dan IM pun duduk sambil ngobrol santai di teras indekos. Sementara SM sang suami di lantai dua. Saat itulah, SW berupaya memeluk IM. Kontan IM berteriak.

Begini Pengakuan Pria yang Dihajar di Kos-kosan Cokro

 

“Dari teriakan itu, SM yang merupakan suaminya langsung turun dan memukuli WS. Bahkan akibat pemukulan itu ia (SW) alami luka robek di bagian kepala, pelipis dan dahi akibat dipukul dengan kayu,” ujar Hanafi.

WS yang bersimbah darah berupaya kabur dan meminta pertolongan warga sekitar. Ia kemudian dibawa ke rumah ketua RW. Termasuk memanggil Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Ketiga orang yang bersangkutan termasuk ketua RW yang memfasilitasi untuk memediasi ketganya enggan dimintai keterangan. Dengan kepala dan bagian pelipis dan dahi diperban SW meminta agar dirinya tidak difoto. “Sudah jangan foto saya,” singkat SW.

Beruntung mediasi berjalan lancar. Sehingga peristiwa yang menghebohkan warga di GG II Cokro itu selesai secara damai. “Jadi yang mukul bersedia untuk membiayai biaya perawatan luka yang diterima oleh SW. Dan selesai secara kekeluargaan,” kata Bhabinkamtibmas Polresta yang enggan namanya disebutkan. Dengan demikian pula, sekitar pukul 22.00 warga yang menyemut di rumah ketua RW membubarkan diri. (rpd/mie)

KANIGARAN, Radar Bromo – Keributan terjadi di indekos keluarga GG II, RT 5/ RW 11, JL Cokroaminoto, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Seorang lelaki keluar dari indekos dengan kondisi bersimbah darah di wajahnya.

Hanafi, 67, Ketua RT 5, menerangkan, kronologi kejadian tersebut masih belum jelas. Pasalnya, yang bersangkutan saat ditanya jawabannya juga ke mana-mana.

Namun yang jelas, ada tiga orang yang berselisih. Semuanya warga pendatang dari Madura. Dua di antaranya pasangan suami-istri (pasutri) asal Madura indekos di tempat Bu Atmi sekitar sebulan terakhir.

Ketiga warga dari Madura yang berselisih itu yakni IM, 22 dan SM, 45, keduanya pasangan suami-istri yang indekos di tempat Bu Atmi. Seorang lagi yakni SW, 45.

Informasi yang diterima pak RT, SW dari Madura datang ke indekos pasutri IM dan SM. Tujuannya untuk menagih utang. “Dari (utang) Rp 10 juta itu, sebagian sudah dibayar. Sisanya yang belum dibayar tinggal Rp 8,3 juta,” kata Hanafi.

Rupanya WS pernah menjalin hubungan dengan IM. SW dan IM pun duduk sambil ngobrol santai di teras indekos. Sementara SM sang suami di lantai dua. Saat itulah, SW berupaya memeluk IM. Kontan IM berteriak.

Begini Pengakuan Pria yang Dihajar di Kos-kosan Cokro

 

“Dari teriakan itu, SM yang merupakan suaminya langsung turun dan memukuli WS. Bahkan akibat pemukulan itu ia (SW) alami luka robek di bagian kepala, pelipis dan dahi akibat dipukul dengan kayu,” ujar Hanafi.

WS yang bersimbah darah berupaya kabur dan meminta pertolongan warga sekitar. Ia kemudian dibawa ke rumah ketua RW. Termasuk memanggil Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Ketiga orang yang bersangkutan termasuk ketua RW yang memfasilitasi untuk memediasi ketganya enggan dimintai keterangan. Dengan kepala dan bagian pelipis dan dahi diperban SW meminta agar dirinya tidak difoto. “Sudah jangan foto saya,” singkat SW.

Beruntung mediasi berjalan lancar. Sehingga peristiwa yang menghebohkan warga di GG II Cokro itu selesai secara damai. “Jadi yang mukul bersedia untuk membiayai biaya perawatan luka yang diterima oleh SW. Dan selesai secara kekeluargaan,” kata Bhabinkamtibmas Polresta yang enggan namanya disebutkan. Dengan demikian pula, sekitar pukul 22.00 warga yang menyemut di rumah ketua RW membubarkan diri. (rpd/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/