Komoditas Kesehatan Sumbang Inflasi di Kota Probolinggo

TUNGGU PEMBELI: Seorang pedagang daging ayam di Pasar Baru, Kota Probolinggo, menunggu pembeli. Kini, harga daging ayam semakin murah dan tak menyumbang inflasi. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KADEMANGAN, Radar BromoPerekonomian Kota Probolinggo mencatat inflasi terendah dalam tiga bulan terakhir. Bulan kemarin, Inflasi Kota Probolinggo hanya 0,04 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding inflasi Februari yang mencapai 0,39 persen.

Angka inflasi tercatat tertinggi untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok kesehatan. “Inflasi pada bulan Maret tercatat 0,04 persen. Jauh lebih rendah dibanding Februari yang mencapai 0,39 persen,” ujar Kepala BPS Kota Probolinggo Adenan.

Menurut data BPS, ada 4 kelompok yang menyumbang inflasi. Meliputi, kelompok perawatan pribadi dan jasa; kelompok kesehatan; kelompok perumahan; dan kelompok pakaian. Sedangkan, yang menyumbangkan deflasi hanya kelompok makanan. “Dalam kelompok kesehatan ini komoditas yang dihitung bukan seperti hand sanitizer atau masker, tapi yang naik biaya atau tarif periksa dokter spesialis,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Statistik dan Distribusi BPS Kota Probolinggo Moch. Machsus menjelaskan, dalam penghitungan inflasi alkohol, hand sanitizer, serta sejumlah komoditas yang banyak diburu masyarakat saat wabah korona tidak masuk perhitungan inflasi.

“Dalam situasi normal, alkohol dan hand sanitizer penjualannya standar. Sehingga, tidak masuk penghitungan inflasi. Komoditas yang masuk penghitungan inflasi ini adalah kenaikan tarif dokter spesiaslis,” ujarnya.

Sedangkan, kelompok perawatan pribadi dan jasa terjadinya inflasi karena tingginya kenaikan harga emas, terutama emas perhiasan. Sebaliknya, harga sejumlah kebutuhan pangan tercatat turun harga. Seperti cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, bawang putih, dan ikan tongkol. “Daging ayam ras sebelumnya masih kisaran Rp 30 ribu, sekarang Rp 28 ribu per kilogram,” ujarnya. (put/rud/fun)