alexametrics
26C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Tanggul Ambrol di Dringu Harus Dibronjong

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

DRINGU, Radar Bromo – UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDA WS) Welang Pakelan di Pasuruan menyarankan agar tanggul yang ambrol di Dringu diperbaiki semipermanen. Yaitu menggunakan bronjong.

Penegasan ini disampaika Kepala UPT PSDA WS Welang Pekalen Novita Andrianie saat mendatangi lokasi tanggul ambrol yang paling parah. Yaitu di RT 2/RW 1, Dusun Gandean, Desa/Kecamatan Dringu.

Total ada empat titik yang ambrol. Yaitu tiga titik di Desa Dringu dan satu titik di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu.

Menurutnya, pascabanjir di hari pertama tanggul yang ambrol langsung dipasang sandbag atau karung berisi pasir oleh pemerintah setempat dibantu warga. Pemasangan sandbag merupakan upaya penanganan sementara.

Namun penanganan sementara itu rupanya tidak cukup kuat. Terbukti, air sungai kembali meluap ke permukiman warga saat banjir susulan terjadi di hari kedua.

Karena itu, Novita menyarankan perbaikan tanggul dilakukan semipermanen menggunakan bronjong. Namun memang anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit. Total dibutuhkan anggaran sekitar Rp 300 juta untuk membuat bronjong di 4 titik tanggul yang ambrol.

Pihaknya pun akan berkoordinasi dengan Pemkab Probolinggo untuk membicarakan sharing anggaran perbaikan. Sehingga, perbaikan tanggul bisa didanai pemkab dan pemprov.

“Kami upayakan koordinasi secepat mungkin. Sebab, memang anggaran pengadaan bronjong ini biayanya tidak sedikit. Selain itu, pandemi membuat sejumlah anggaran seret. Jadi, kami masih koordinasi dengan Pemkab untuk sharing anggaran,” terangnya.

Di sisi lain, menurut Novita, penyebab amblesnya tanggul yang ada di sungai Kedunggaleng itu kompleks. Di antaranya, ada degradasi di hulu sungai. Di mana Sungai ini menjadi satu aliran dengan sungai di Leces, Sumber, dan Kuripan.

Selain itu, terjadi pengalihan fungsi lahan di daerah hulu. Dan yang paling tampak yakni banyaknya sampah di sungai.

“Harusnya kan pengelolaan sampah di darat. Termasuk tidak membuang sampah ke sungai. Bagi kami, sampah yang dibuang ke sungai itu bencana,” katanya, Selasa (2/3) siang.

Suprapto, 33, warga Dusun Gandean, Desa/Kecamatan Dringu berharap perbaikan tersebut segera dilakukan. Sebab, saat debit air sungai naik dan dibarengi dengan air laut pasang seperti beberapa hari lalu, maka air sungai akan meluap. Dan rumah warga pasti akan kembali terendam.

“Semoga segera tertangani. Sebab, banyak tembok dan pagar warga yang rusak akibat ambles. Termasuk perabotan seperti TV, kulkas, dan sepeda motor yang tergenang. Bahkan lumpur yang masuk rumah cukup banyak,” katanya. (rpd/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

DRINGU, Radar Bromo – UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDA WS) Welang Pakelan di Pasuruan menyarankan agar tanggul yang ambrol di Dringu diperbaiki semipermanen. Yaitu menggunakan bronjong.

Penegasan ini disampaika Kepala UPT PSDA WS Welang Pekalen Novita Andrianie saat mendatangi lokasi tanggul ambrol yang paling parah. Yaitu di RT 2/RW 1, Dusun Gandean, Desa/Kecamatan Dringu.

Total ada empat titik yang ambrol. Yaitu tiga titik di Desa Dringu dan satu titik di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu.

Mobile_AP_Half Page

Menurutnya, pascabanjir di hari pertama tanggul yang ambrol langsung dipasang sandbag atau karung berisi pasir oleh pemerintah setempat dibantu warga. Pemasangan sandbag merupakan upaya penanganan sementara.

Namun penanganan sementara itu rupanya tidak cukup kuat. Terbukti, air sungai kembali meluap ke permukiman warga saat banjir susulan terjadi di hari kedua.

Karena itu, Novita menyarankan perbaikan tanggul dilakukan semipermanen menggunakan bronjong. Namun memang anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit. Total dibutuhkan anggaran sekitar Rp 300 juta untuk membuat bronjong di 4 titik tanggul yang ambrol.

Pihaknya pun akan berkoordinasi dengan Pemkab Probolinggo untuk membicarakan sharing anggaran perbaikan. Sehingga, perbaikan tanggul bisa didanai pemkab dan pemprov.

“Kami upayakan koordinasi secepat mungkin. Sebab, memang anggaran pengadaan bronjong ini biayanya tidak sedikit. Selain itu, pandemi membuat sejumlah anggaran seret. Jadi, kami masih koordinasi dengan Pemkab untuk sharing anggaran,” terangnya.

Di sisi lain, menurut Novita, penyebab amblesnya tanggul yang ada di sungai Kedunggaleng itu kompleks. Di antaranya, ada degradasi di hulu sungai. Di mana Sungai ini menjadi satu aliran dengan sungai di Leces, Sumber, dan Kuripan.

Selain itu, terjadi pengalihan fungsi lahan di daerah hulu. Dan yang paling tampak yakni banyaknya sampah di sungai.

“Harusnya kan pengelolaan sampah di darat. Termasuk tidak membuang sampah ke sungai. Bagi kami, sampah yang dibuang ke sungai itu bencana,” katanya, Selasa (2/3) siang.

Suprapto, 33, warga Dusun Gandean, Desa/Kecamatan Dringu berharap perbaikan tersebut segera dilakukan. Sebab, saat debit air sungai naik dan dibarengi dengan air laut pasang seperti beberapa hari lalu, maka air sungai akan meluap. Dan rumah warga pasti akan kembali terendam.

“Semoga segera tertangani. Sebab, banyak tembok dan pagar warga yang rusak akibat ambles. Termasuk perabotan seperti TV, kulkas, dan sepeda motor yang tergenang. Bahkan lumpur yang masuk rumah cukup banyak,” katanya. (rpd/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2