alexametrics
26C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Puskesmas Tongas Deteksi Hipertensi dengan Jumpa Hati

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

TONGAS, Radar Bromo – Hipertensi menjadi salah satu penyakit silent killer di Indonesia bahkan di dunia. Hipertensi dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius di antaranya stroke dan serangan jantung.

Tidak dikenalinya tanda dan gejala serta rendahnya kesadaran untuk periksa rutin, membuat penyakit ini sulit dikenali dan diobati secara rutin. Termasuk pola makan tinggi natrium (asin-asin) serta abai dikarenakan tidak atau belum merasakan gejala yang mengganggu aktivitas harian.

Puskesmas Tongas sebelum pandemi telah memulai upaya peningkatan deteksi dini hipertensi yang lebih masif melalui pemberdayaan kader di semua desa dan berlangsung sampai saat ini. Perhatian pada kelompok berisiko tinggi ini juga sangat dibutuhkan di era pandemi Covid-19.

“Upaya ini dikenal dengan inovasi JUMPA HATI (Jemput Penderita Hipertensi sampai Diobati). Caranya dengan melatih kader melakukan ssreening hipertensi secara sederhana, dengan form dan alat tensimeter digital serta cara melakukan edukasi pola hidup sehat. Selain itu membuatkan jadwal bertemu dengan tenaga kesehatan, termasuk juga dilatih penggunaan alat pelindung diri saat kunjungan rumah,” terang Kurnia Ramadhani, Kepala Puskesmas Tongas.

Aksi jemput bola ini semakin mendapat sambutan antusias masyarakat. Sebab aksesnya mudah, dekat dan waktunya fleksibel serta dilakukan oleh masyarakat itu sendiri yaitu kader. Menariknya, inovasi ini mendorong kader untuk sampai memastikan penderita bertemu dengan tenaga kesehatan bisa di desa maupun di puskesmas.

“Saat bertemu, tenaga kesehatan akan memastikan ulang tekanan darahnya dan memberikan terapi yang sesuai.,” imbuh Kurnia.

Harapannya, bila semakin banyak kasus hipertensi yang ditemukan, kemudian diedukasi dan dipastikan sampai mendapat pengobatan. Sehingga tekanan darah dapat terkontrol dan mencegah penyakit maupun komplikasi yang lebih berbahaya.

“Inovasi ini didukung sumberdaya baik dari puskesmas maupun dari delapan desa wilayah puskesmas Tongas. Semoga konsep inovasi ini bisa direplikasi baik untuk penyakit lain maupun di tempat lain,” katanya. (dic/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

TONGAS, Radar Bromo – Hipertensi menjadi salah satu penyakit silent killer di Indonesia bahkan di dunia. Hipertensi dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius di antaranya stroke dan serangan jantung.

Tidak dikenalinya tanda dan gejala serta rendahnya kesadaran untuk periksa rutin, membuat penyakit ini sulit dikenali dan diobati secara rutin. Termasuk pola makan tinggi natrium (asin-asin) serta abai dikarenakan tidak atau belum merasakan gejala yang mengganggu aktivitas harian.

Puskesmas Tongas sebelum pandemi telah memulai upaya peningkatan deteksi dini hipertensi yang lebih masif melalui pemberdayaan kader di semua desa dan berlangsung sampai saat ini. Perhatian pada kelompok berisiko tinggi ini juga sangat dibutuhkan di era pandemi Covid-19.

Mobile_AP_Half Page

“Upaya ini dikenal dengan inovasi JUMPA HATI (Jemput Penderita Hipertensi sampai Diobati). Caranya dengan melatih kader melakukan ssreening hipertensi secara sederhana, dengan form dan alat tensimeter digital serta cara melakukan edukasi pola hidup sehat. Selain itu membuatkan jadwal bertemu dengan tenaga kesehatan, termasuk juga dilatih penggunaan alat pelindung diri saat kunjungan rumah,” terang Kurnia Ramadhani, Kepala Puskesmas Tongas.

Aksi jemput bola ini semakin mendapat sambutan antusias masyarakat. Sebab aksesnya mudah, dekat dan waktunya fleksibel serta dilakukan oleh masyarakat itu sendiri yaitu kader. Menariknya, inovasi ini mendorong kader untuk sampai memastikan penderita bertemu dengan tenaga kesehatan bisa di desa maupun di puskesmas.

“Saat bertemu, tenaga kesehatan akan memastikan ulang tekanan darahnya dan memberikan terapi yang sesuai.,” imbuh Kurnia.

Harapannya, bila semakin banyak kasus hipertensi yang ditemukan, kemudian diedukasi dan dipastikan sampai mendapat pengobatan. Sehingga tekanan darah dapat terkontrol dan mencegah penyakit maupun komplikasi yang lebih berbahaya.

“Inovasi ini didukung sumberdaya baik dari puskesmas maupun dari delapan desa wilayah puskesmas Tongas. Semoga konsep inovasi ini bisa direplikasi baik untuk penyakit lain maupun di tempat lain,” katanya. (dic/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2