alexametrics
24.5 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Relokasi PKL Eratex di RTH Brantas Sudah Final

KANIGARAN, Radar Bromo – Lokasi untuk relokasi Pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di Jalan Supriyadi, belakang PT Eratex Djaja, Kota Probolinggo, sudah diputuskan. Namun, banyak pedagang yang enggan dipindah ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) Brantas.

Ada yang beragam alasan yang diutarakan. Salah satunya, karena lokasinya cukup jauh dari PT Eratex serta khawatir sepi pembeli. Karenanya, mereka meminta direlokasi ke RTH di belakang PT Eratex Djaja, tak jauh dari tempat selama ini mereka berjualan.

“Kami minta jangan direlokasi di RTH Brantas. Di sana terlalu jauh dengan akses pulang karyawan Eratex. Kalau di RTH Brantas, pasti karyawan Eratex tidak mau ke sana. Siapa yang akan membeli,” ujar salah seorang PKL, Nuning, 40.

Namun, keluhan dan keinginan Nuning sepertinya sulit direalisasikan. Sebab, Pemkot sudah memutuskan mereka harus pindah ke RTH Brantas. Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, tidak bisa memindahkan PKL ke RTH di belakang PT Eratex Djaja. Hal ini karena berkaitan dengan rekomendasi wali kota.

“Rekomendasi wali kota untuk tempat relokasi PKL ada di RTH Brantas. Lokasi RTH Eratex tidak direkomendasikan karena pasti akan tetap memancing kemacetan. Padahal, yang ingin dicari adalah mengurai masalah kemacetan,” ujarnya.

Terkait kekhawatiran karyawan tidak membeli di PKL, Fitri mengaku sudah berkoordinasi kepada manajemen PT Eratex Djaja. Salah satunya untuk mengarahkan karyawannya berbelanja di PKL di RTH Brantas.

Hal senada diungkapkan Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Kota Probolinggo Setyorini Sayekti. Menurutnya, rekomendasi yang diberikan wali kota untuk relokasi di RTH Brantas. “Sulit untuk direlokasi ke RTH belakang Eratex. Karena rekomendasi di RTH Brantas,” terangnya.

Disinggung mengenai pemanfaatan RTH belakang Eratex, Rini mengungkapkan, perlu ada kajian lebih lanjut. Termasuk peraturan-peratuan jika nanti RTH itu dimanfaatkan oleh masyarakat. “Perlu ada kajian dulu soal pemanfaatan lahan RTH itu. Meski saat ini sudah banyak PKL dan masyarakat yang menggunakannya,” jelasnya. (put/rud)

KANIGARAN, Radar Bromo – Lokasi untuk relokasi Pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di Jalan Supriyadi, belakang PT Eratex Djaja, Kota Probolinggo, sudah diputuskan. Namun, banyak pedagang yang enggan dipindah ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) Brantas.

Ada yang beragam alasan yang diutarakan. Salah satunya, karena lokasinya cukup jauh dari PT Eratex serta khawatir sepi pembeli. Karenanya, mereka meminta direlokasi ke RTH di belakang PT Eratex Djaja, tak jauh dari tempat selama ini mereka berjualan.

“Kami minta jangan direlokasi di RTH Brantas. Di sana terlalu jauh dengan akses pulang karyawan Eratex. Kalau di RTH Brantas, pasti karyawan Eratex tidak mau ke sana. Siapa yang akan membeli,” ujar salah seorang PKL, Nuning, 40.

Namun, keluhan dan keinginan Nuning sepertinya sulit direalisasikan. Sebab, Pemkot sudah memutuskan mereka harus pindah ke RTH Brantas. Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, tidak bisa memindahkan PKL ke RTH di belakang PT Eratex Djaja. Hal ini karena berkaitan dengan rekomendasi wali kota.

“Rekomendasi wali kota untuk tempat relokasi PKL ada di RTH Brantas. Lokasi RTH Eratex tidak direkomendasikan karena pasti akan tetap memancing kemacetan. Padahal, yang ingin dicari adalah mengurai masalah kemacetan,” ujarnya.

Terkait kekhawatiran karyawan tidak membeli di PKL, Fitri mengaku sudah berkoordinasi kepada manajemen PT Eratex Djaja. Salah satunya untuk mengarahkan karyawannya berbelanja di PKL di RTH Brantas.

Hal senada diungkapkan Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Kota Probolinggo Setyorini Sayekti. Menurutnya, rekomendasi yang diberikan wali kota untuk relokasi di RTH Brantas. “Sulit untuk direlokasi ke RTH belakang Eratex. Karena rekomendasi di RTH Brantas,” terangnya.

Disinggung mengenai pemanfaatan RTH belakang Eratex, Rini mengungkapkan, perlu ada kajian lebih lanjut. Termasuk peraturan-peratuan jika nanti RTH itu dimanfaatkan oleh masyarakat. “Perlu ada kajian dulu soal pemanfaatan lahan RTH itu. Meski saat ini sudah banyak PKL dan masyarakat yang menggunakannya,” jelasnya. (put/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/