Gaya Gravitasi Macet, Desa Jurangjero Masuk Wilayah Baru

GADING, Radar Bromo – Desa Jurangjero, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, menjadi daerah terdampak kekeringan. Sebelumnya, desa ini hanya masuk dalam data wilayah berpotensi kekeringan. Tahun ini masuk daerah baru karena saluran air yang menggunakan daya gravitasi macet.

Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Probolinggo mencatat setidaknya ada 8 kecamatan yang setiap tahun rawan mengalami kekeringan. Tahun ini ada wilayah baru yang mengalaminya. Karenanya, BPBD segera mengecek penyebabnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo Sugeng Suprisayoga mengatakan, 8 kecamatan yang rawan terjadi kekekeringan itu diketahui karena sering meminta kiriman air bersih. Tahun ini ada Desa Jurangjero yang menjadi wilayah baru.

“Kecamatan Gading, tepatnya Desa Jurangjero, ini sebelumnya hanya masuk 16 wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan. Kemarin, karena ada permintaan, kami lakukan dropping air. Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah meminta. Berbeda dengan 14 desa di 8 kecamatan yang memang setiap tahun kami kirimi air,” ujarnya.

BPBD mengirim air ke RT 8/RW 7, Desa Jurangjero, yang dihuni oleh 74 kepala keluarga atau 607 jiwa. Terhitung, sudah dua kali BPBD mengirim air ke daerah ini. Sugeng mengaku juga telah mengecek penyebab wilayah baru ini meminta bantuan air.

“Kami sudah menerjunkan tim untuk mengecek kenapa warga setempat mengalami kekurungan air. Ternyata, aliran air yang biasanya memenuhi kebutuhan masyarakat tidak mengalir lagi,” ujarnya.

Sugeng mengatakan, selama ini warga RT 8/RW 7, Desa Jurangjero, memanfaatkan air dari sumber mata air yang lokasinya masih masuk Kecamatan Krucil. Namun, kali ini alirannya macet. “Untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga menggunakan pipa besar dan tidak menggunakan mesin. Hanya mengandalkan gaya gravitasi. Mungkin karena gaya gravitasinya berubah atau bagaimana, menyebabkan air tidak mengalir,” jelasnya. (mg1/rud)