alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Kumkum di Pelabuhan Mayangan, Warga Citarum Tenggelam  

MAYANGAN, Radar Bromo – Sebenarnya tidak hanya sekali Irfan, 27, kumkum atau berendam di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Kota Probolinggo. Namun, Jumat (2/7) Irfan sedang apes. Ia meninggal saat berendam di kawasan pelabuhan itu.

Tubuh pemuda asal Jalan Citarum, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu ditemukan mengambang. Jenazahnya ditemukan warga yang juga kumkum di dekat korban yang menemukan pertama kali.

Saat itu juga, sejumlah warga yang berendam membawanya ke tepi pantai. Warga lantas menghubungi nomor darurat 112.

Tidak lama kemudian, petugas Polsek Mayangan datang ke lokasi kejadian. Datang juga Tim Ident Polres Probolinggo Kota (Polresta) dan ambulans petugas kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh.

Olah TKP sempat dilakukan di lokasi kejadian. Keluarga korban pun datang ke TKP. Namun, sempat terjadi keributan di sana antara keluarga dan petugas Polsek Mayangan.

Juardi, petugas kamar mayat yang datang ke lokasi mengatakan, keluarga minta jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka dengan menggunakan ambulans. “Namun, petugas menolak. Korban tetap harus dibawa ke kamar mayat.  Kemudian diotopsi,” terangnya.

Korban akhirnya tetap dibawa ke kamar mayat. Namun, otopsi tidak dilakukan dengan pernyataan khusus dari keluarga korban. Dari kamar mayat, korban dibawa ke rumah duka.

“Keluarga menolak korban diotopsi. Akhirnya tidak kami otopsi dengan surat pernyataan dari keluarga,” terang Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari S.

Lokasi berendam di PPP Mayangan sendiri ada dua. Di bagian utara dan selatan. Tempat ini tidak begitu jauh. Hanya kedalamannya saja yang agak berbeda.

Bagian selatan agak rendah dibanding bagian utara. Karena itu, warga yang tidak bisa berenang, biasanya berendam di bagian selatan. Sementara warga yang bisa berenang, lebih suka berendam di bagian utara.

“Kalau tidak bisa berenang, seharusnya memang kumkum di sebelah sana (sisi selatan). Tempat itu lebih rendah dan dangkal,” terang Samiati, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan yang saban hari kumkum sambil menunjuk ke arah selatan.

Adi (bukan nama sebenarnya) seorang kerabat korban mengatakan, keluarga mendapat informasi korban meninggal pada pukul 16.30. Namun, kapan korban mulai berendam, Adi mengaku tidak tahu.

“Kami dapat informasi Irfan meninggal tenggelam di pelabuhan di daerah kumkum. Akhirnya kami langsung ke sini. Ada juga yang ke kamar mayat,” tegas Adi saat ditemui di PPI Mayangan.

Korban sendiri, menurut Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari S sebenarnya bisa berenang. Namun, diduga dia kelelahan dan kram. Lantas tenggelam dan meninggal.

“Menurut keluarga, korban ini bisa berenang. Diduga akibat kelelahan, sehingga korban kram dan tenggelam,” bebernya. Saat ini, menurut Kapolsek, pihaknya sedang mendalami kasus tersebut. (rpd/hn)

MAYANGAN, Radar Bromo – Sebenarnya tidak hanya sekali Irfan, 27, kumkum atau berendam di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Kota Probolinggo. Namun, Jumat (2/7) Irfan sedang apes. Ia meninggal saat berendam di kawasan pelabuhan itu.

Tubuh pemuda asal Jalan Citarum, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu ditemukan mengambang. Jenazahnya ditemukan warga yang juga kumkum di dekat korban yang menemukan pertama kali.

Saat itu juga, sejumlah warga yang berendam membawanya ke tepi pantai. Warga lantas menghubungi nomor darurat 112.

Tidak lama kemudian, petugas Polsek Mayangan datang ke lokasi kejadian. Datang juga Tim Ident Polres Probolinggo Kota (Polresta) dan ambulans petugas kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh.

Olah TKP sempat dilakukan di lokasi kejadian. Keluarga korban pun datang ke TKP. Namun, sempat terjadi keributan di sana antara keluarga dan petugas Polsek Mayangan.

Juardi, petugas kamar mayat yang datang ke lokasi mengatakan, keluarga minta jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka dengan menggunakan ambulans. “Namun, petugas menolak. Korban tetap harus dibawa ke kamar mayat.  Kemudian diotopsi,” terangnya.

Korban akhirnya tetap dibawa ke kamar mayat. Namun, otopsi tidak dilakukan dengan pernyataan khusus dari keluarga korban. Dari kamar mayat, korban dibawa ke rumah duka.

“Keluarga menolak korban diotopsi. Akhirnya tidak kami otopsi dengan surat pernyataan dari keluarga,” terang Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari S.

Lokasi berendam di PPP Mayangan sendiri ada dua. Di bagian utara dan selatan. Tempat ini tidak begitu jauh. Hanya kedalamannya saja yang agak berbeda.

Bagian selatan agak rendah dibanding bagian utara. Karena itu, warga yang tidak bisa berenang, biasanya berendam di bagian selatan. Sementara warga yang bisa berenang, lebih suka berendam di bagian utara.

“Kalau tidak bisa berenang, seharusnya memang kumkum di sebelah sana (sisi selatan). Tempat itu lebih rendah dan dangkal,” terang Samiati, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan yang saban hari kumkum sambil menunjuk ke arah selatan.

Adi (bukan nama sebenarnya) seorang kerabat korban mengatakan, keluarga mendapat informasi korban meninggal pada pukul 16.30. Namun, kapan korban mulai berendam, Adi mengaku tidak tahu.

“Kami dapat informasi Irfan meninggal tenggelam di pelabuhan di daerah kumkum. Akhirnya kami langsung ke sini. Ada juga yang ke kamar mayat,” tegas Adi saat ditemui di PPI Mayangan.

Korban sendiri, menurut Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari S sebenarnya bisa berenang. Namun, diduga dia kelelahan dan kram. Lantas tenggelam dan meninggal.

“Menurut keluarga, korban ini bisa berenang. Diduga akibat kelelahan, sehingga korban kram dan tenggelam,” bebernya. Saat ini, menurut Kapolsek, pihaknya sedang mendalami kasus tersebut. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/