alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Wisata Edukasi Watupanjang, Nikmati Alam sambil Belajar Tentang Kopi

Menikmati kopi yang sudah tersaji di secangkir kopi adalah hal biasa. Apalagi kini semakin menjamur coffee shop. Tapi beda rasanya jika menikmati kopi yang baru diambil dari kebunnya. Ini bisa kita dapatkan di Wisata Edukasi Kopi Organik di Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil.

—————

LOKASINYA berada di ketinggian 700 Meter di atas permukaan laut (Mdpl). Sehingga dari sisi geografis, Desa Watupanjang pas untuk budidaya kopi. Alamnya, tentu saja indah untuk dikunjungi wisatawan.

Dan sejak Januari 2021, Watupanjang sudah berdiri Wisata Edukasi Kopi Organik. Sebuah wisata yang digagas para pemuda yang terhimpun di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cahaya Abadi. Tentu saja, yang dijual adalah kopi. Tapi, wisatawan bisa mengenal kopi lebih mendalam.

“Banyak metode dalam penyeduhan kopi. Nah, di wisata ini kami berikan cara-caranya kepada para wisatawan,” ujar Irfan Prayudi, bendahara BUMDes Cahaya Abadi sembari memperlihatkan alat-alat seperti seperti Vietnam drip, mokapot, dan lainnya.

Cara pengolahan kopi yang diberikan kepada para wisatawan tidak terlepas dari tiga tahap proses yang biasanya dilakukan oleh para barista. Mulai roasting (proses Penyangraian), grinding (proses penggilingan), hingga brewing (proses penyeduhan). Semua proses tersebut dilakukan di lokasi wisata.

“Tujuan wisata ini tidak lain adalah untuk memberikan edukasi terhadap wisatawan tentang kopi. Sehingga wisatawan tak hanya mendapatkan fasilitas wisata berupa keindahan alam. Namun juga pemahaman tentang kopi,” ujarnya.

Dengan kesejukan alam, wisatawan pasti betah untuk berlama-lama di lokasi. Ada pemandangan alam nan indah. Belum lagi pegunungan yang terlihat dari lokasi wisata, bunga-bunga beragam jenis juga ditanam, yang tentu saja menarik untuk spot foto.

Asyiknya lagi, kita bisa menikmati kopi yang bisa dipesan di kafe Kafa. Sebuah kafe dengan interior kayu dan ruangan yang minimalis, namun nyaman. “Suasana alam memang dibangun di dalam kafe, untuk nuansa segar dan tidak terlalu mewah namun elegan,” terang Irfan.

Kopi yang dipesan wisatawan juga bisa dinikmati di luar kafe. “Apalagi dari luar kafe, menikmati kopi sambil menikmati keindahan alam sangatlah nikmat,” ujarnya.

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung kesana, terlihat di taman-taman wisatawan sedang bersenda gurau hingga berswafoto. Sebagian menikmati pemandangan, seraya ingin mencari ketenangan.

Wisatawan juga tidak perlu merogoh kocek dalam. Sebab untuk masuk ke wisata ini masih belum dikenakan karcis. Sementara itu untuk menikmati kopi organik di wisata ini, hanya perlu membayar Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Itu untuk memesan kopi.

“Memang harus bayar. Hanya saja harganya lumayan bersahabat,” terangnya dengan memperlihatkan beberapa jenis kopi yang ada di kafe tersebut.

Irfan menuturkan, kopi yang disediakan di kafe tersebut ialah kopi hasil dari petani setempat. Utamanya kopi arabika dan robusta. Semua kopi tersebut tertata rapi di tempat barista mengolah kopi untuk pesanan.

PETIK LANGSUNG: Pohon kopi yang siap petik di Desa Watupanjang. (Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Bisa Melihat Proses dari Awal

Tak jauh dari lokasi wisata, terhampar sekitar 2 hektare kebun kopi. Di lokasi tersebut, dijadikan tempat edukasi proses awal, mulai dari penanaman, perawatan hingga panen dilakukan. Kebun dengan tanaman kopi berkualitas tinggi itu dapat didatangi oleh para wisatawan.

Pengunjung cukup berjalan sekitar 10 meter dari lokasi wisata. Di lokasi inilah terdapat hamparan kebun kopi di sisi kanan maupun kiri jalan.

“Bagi yang berminat untuk melihat secara langsung bagaimana proses penanaman, perawatan, hingga proses panen bisa langsung datang ke lokasi kebun kopi,” ujar Irfan Prayudi, bendahara BUMDes Cahaya Abadi Desa Watupanjang.

Memberikan edukasi melalui wisata ini, menurut Irfan, adalah salah satu upaya untuk memberitahu bagaimana menciptakan kopi dengan kualitas yang baik. Tidak hanya untuk para wisatawan, akan tetapi para petani kopi yang ada di desa tersebut.

“Tujuannya juga untuk para pembudidaya kopi di Watupanjang. Sehingga kualitas kopi dalam desa dapat terus merangkak naik,” ujarnya.

Pemberian edukasi tentang kopi ini dipilih lantaran pasar kopi kian tinggi. Selain itu wisata edukasi kopi ini juga dipilih mengikuti potensi alam yang ada.

“Untuk muda-mudi wisata edukasi kopi ini masih sangat diminati. Banyak para pemuda yang yang ingin mengetahui bagaimana menciptakan kopi yang berkualitas,” ujarnya.

Selain mendatangi lokasi perkebunan kopi, para wisatawan juga dapat memetik secara langsung kopi di lokasi perkebunan. Sehingga, sensasi dalam berwisata edukasi ini cukup lengkap. Ditambah lagi, proses dari awal hingga penyeduhan kopi juga ada di lokasi wisata.

“Lengkap dari proses awal sampai dengan menciptakan secangkir kopi yang berkualitas,” ujarnya.

Dengan melalui proses panjang yang diketahui oleh para wisatawan, Irfan meyakini, wisatawan akan dapat lebih menikmati kopi. Levelnya beda jika dibandingkan dengan suasana coffee shop kebanyakan, yang hanya menyediakan kopi siap saji. (mu/fun)

Menikmati kopi yang sudah tersaji di secangkir kopi adalah hal biasa. Apalagi kini semakin menjamur coffee shop. Tapi beda rasanya jika menikmati kopi yang baru diambil dari kebunnya. Ini bisa kita dapatkan di Wisata Edukasi Kopi Organik di Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil.

—————

LOKASINYA berada di ketinggian 700 Meter di atas permukaan laut (Mdpl). Sehingga dari sisi geografis, Desa Watupanjang pas untuk budidaya kopi. Alamnya, tentu saja indah untuk dikunjungi wisatawan.

Dan sejak Januari 2021, Watupanjang sudah berdiri Wisata Edukasi Kopi Organik. Sebuah wisata yang digagas para pemuda yang terhimpun di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cahaya Abadi. Tentu saja, yang dijual adalah kopi. Tapi, wisatawan bisa mengenal kopi lebih mendalam.

“Banyak metode dalam penyeduhan kopi. Nah, di wisata ini kami berikan cara-caranya kepada para wisatawan,” ujar Irfan Prayudi, bendahara BUMDes Cahaya Abadi sembari memperlihatkan alat-alat seperti seperti Vietnam drip, mokapot, dan lainnya.

Cara pengolahan kopi yang diberikan kepada para wisatawan tidak terlepas dari tiga tahap proses yang biasanya dilakukan oleh para barista. Mulai roasting (proses Penyangraian), grinding (proses penggilingan), hingga brewing (proses penyeduhan). Semua proses tersebut dilakukan di lokasi wisata.

“Tujuan wisata ini tidak lain adalah untuk memberikan edukasi terhadap wisatawan tentang kopi. Sehingga wisatawan tak hanya mendapatkan fasilitas wisata berupa keindahan alam. Namun juga pemahaman tentang kopi,” ujarnya.

Dengan kesejukan alam, wisatawan pasti betah untuk berlama-lama di lokasi. Ada pemandangan alam nan indah. Belum lagi pegunungan yang terlihat dari lokasi wisata, bunga-bunga beragam jenis juga ditanam, yang tentu saja menarik untuk spot foto.

Asyiknya lagi, kita bisa menikmati kopi yang bisa dipesan di kafe Kafa. Sebuah kafe dengan interior kayu dan ruangan yang minimalis, namun nyaman. “Suasana alam memang dibangun di dalam kafe, untuk nuansa segar dan tidak terlalu mewah namun elegan,” terang Irfan.

Kopi yang dipesan wisatawan juga bisa dinikmati di luar kafe. “Apalagi dari luar kafe, menikmati kopi sambil menikmati keindahan alam sangatlah nikmat,” ujarnya.

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung kesana, terlihat di taman-taman wisatawan sedang bersenda gurau hingga berswafoto. Sebagian menikmati pemandangan, seraya ingin mencari ketenangan.

Wisatawan juga tidak perlu merogoh kocek dalam. Sebab untuk masuk ke wisata ini masih belum dikenakan karcis. Sementara itu untuk menikmati kopi organik di wisata ini, hanya perlu membayar Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Itu untuk memesan kopi.

“Memang harus bayar. Hanya saja harganya lumayan bersahabat,” terangnya dengan memperlihatkan beberapa jenis kopi yang ada di kafe tersebut.

Irfan menuturkan, kopi yang disediakan di kafe tersebut ialah kopi hasil dari petani setempat. Utamanya kopi arabika dan robusta. Semua kopi tersebut tertata rapi di tempat barista mengolah kopi untuk pesanan.

PETIK LANGSUNG: Pohon kopi yang siap petik di Desa Watupanjang. (Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Bisa Melihat Proses dari Awal

Tak jauh dari lokasi wisata, terhampar sekitar 2 hektare kebun kopi. Di lokasi tersebut, dijadikan tempat edukasi proses awal, mulai dari penanaman, perawatan hingga panen dilakukan. Kebun dengan tanaman kopi berkualitas tinggi itu dapat didatangi oleh para wisatawan.

Pengunjung cukup berjalan sekitar 10 meter dari lokasi wisata. Di lokasi inilah terdapat hamparan kebun kopi di sisi kanan maupun kiri jalan.

“Bagi yang berminat untuk melihat secara langsung bagaimana proses penanaman, perawatan, hingga proses panen bisa langsung datang ke lokasi kebun kopi,” ujar Irfan Prayudi, bendahara BUMDes Cahaya Abadi Desa Watupanjang.

Memberikan edukasi melalui wisata ini, menurut Irfan, adalah salah satu upaya untuk memberitahu bagaimana menciptakan kopi dengan kualitas yang baik. Tidak hanya untuk para wisatawan, akan tetapi para petani kopi yang ada di desa tersebut.

“Tujuannya juga untuk para pembudidaya kopi di Watupanjang. Sehingga kualitas kopi dalam desa dapat terus merangkak naik,” ujarnya.

Pemberian edukasi tentang kopi ini dipilih lantaran pasar kopi kian tinggi. Selain itu wisata edukasi kopi ini juga dipilih mengikuti potensi alam yang ada.

“Untuk muda-mudi wisata edukasi kopi ini masih sangat diminati. Banyak para pemuda yang yang ingin mengetahui bagaimana menciptakan kopi yang berkualitas,” ujarnya.

Selain mendatangi lokasi perkebunan kopi, para wisatawan juga dapat memetik secara langsung kopi di lokasi perkebunan. Sehingga, sensasi dalam berwisata edukasi ini cukup lengkap. Ditambah lagi, proses dari awal hingga penyeduhan kopi juga ada di lokasi wisata.

“Lengkap dari proses awal sampai dengan menciptakan secangkir kopi yang berkualitas,” ujarnya.

Dengan melalui proses panjang yang diketahui oleh para wisatawan, Irfan meyakini, wisatawan akan dapat lebih menikmati kopi. Levelnya beda jika dibandingkan dengan suasana coffee shop kebanyakan, yang hanya menyediakan kopi siap saji. (mu/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/