alexametrics
26C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Normalisasi Sungai atau Buat Sudetan untuk Atasi Banjir di Dringu

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

DRINGU, Radar Bromo – Banjir susulan tidak hanya merendam ribuan rumah di dua desa di Kecamatan Dringu. Tanggul yang jebol di sepanjang Kali Kedunggaleng makin parah akibat banjir itu.

BPBD Kabupaten Probolinggo pun menyiapkan bronjong sebagai penanganan darurat di tanggul yang jebol. Mengingat, perbaikan permanen tanggul masih harus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, ada dua tanggul yang jebol. Yaitu di Desa Kedungdalem dengan panjang 50 meter. Sedangkan tanggul jebol di Desa Dringu yang awalnya hanya 30 meter, kini meluas menjadi sekitar 100 meter.

Kondisi itu pun makin membahayakan warga sekitar. Karena saat debit air sungai tinggi, dipastikan air akan meluber ke permukiman.

Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, dampak banjir susulan itu membuat kerusakan tanggul makin parah. Pihaknya saat ini tengah mengajukan dan menyiapkan bronjong untuk penanganan darurat. Nantinya, bronjong itu akan dipasang di titik-titik tanggul yang jebol.

”Tanggul yang jebol itu ada di Desa Kedungdalem dan Desa Dringu. Tapi paling parah terjadi di Desa Dringu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Rahmad Waluyo melalui Kabid SDA Hengky mengatakan, penanganan permanen tanggul yang jebol masih diajukan ke pemprov. Mengingat, sungai Kedunggaleng merupakan kewenangan pemerintah pusat atau provinsi.

”Kami sudah ajukan dan koordinasi dengan Pemprov Jatim untuk penanganan permanen tanggul yang jebol. Untuk sementara, ditangani dengan penanganan darurat,” katanya.

Dilanjutkan Hengky, penanganan untuk mencegah terjadinya banjir adalah dengan normalisasi sungai. Sebab, sungai Kedunggaleng sudah mengalami sedimentasi atau pendangkalan. Sehingga, saat debit air sungai tinggi dan melebihi tanggul, sungai tidak dapat menampung air. Akhirnya, air meluber ke permukiman warga.

Namun, menurut Hengky, pihak pemprov sempat kesulitan untuk melakukan normalisasi sungai besar tersebut. ”Sudah pernah dilakukan kajian. Memang solusinya normalisasi sungai. Tapi pemprov juga kesulitan melakukan normalisasi sungai yang besar dan curam itu,” ungkapnya.

Hengky mengungkapkan, solusi terbaik yang tengah diajukan ke pemerintah pusat adalah dengan membuat sudetan. Mengingat, normalisasi sungai sulit dilakukan.

Dengan sudetan, nantinya aliran sungai itu bisa dibagi atau dipencar. Hanya saja, membutuhkan anggaran lebih besar untuk membuat sudetan. Mulai dari pembebasan lahan dan pembuatan sungai baru.

”Diparapet (tanggul) juga tidak dapat menyelesaikan masalah. Diparapet tinggi, tapi normalisasi sungai tidak dilakukan juga bisa menjadi bom waktu. Karena saat debit sungai tinggi dan tanggul tak mampu membendung, bisa jebol dan bisa jadi banjir bandang ke permukiman,” ungkapnya.

Terpisah, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Umil Sulistyoningsih yang datang ke lokasi banjir menyebut, banjir memang menjadi langganan di kawasan tersebut. Tetapi kali ini dampaknya paling parah.

”Saya berharap kepada instansi terkait seperti Dinsos, PUPR, Dinas Perkim, Bappeda, dan BPBD untuk segera mengambil langkah-langkah. Supaya dampak banjir segera tertangani dan banjir dapat dicegah kembali terjadi,” harapnya.

TERENDAM: Luapan Sungai Legundi sempat merendam area persawahan di Kelurahan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. (Dok. Radar Bromo)

Belum Ada Laporan Kerusakan

Sementara itu, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kota Probolinggo mendata kerusakan lahan sawah dan ternak setelah banjir di wilayah Selatan kota. Namun, sampai saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan sawah dan ternak.

“Berdasarkan pendataan dari teman-teman penyuluh pertanian, sampai saat ini tidak ada yang terdampak dari sawah maupun ternak,” ujar Yoyok Imam Siswahyudi, Plt Kepala Dispertahankan Kota Probolinggo, kemarin (3/1).

Memang menurutnya, sempat terjadi genangan di sawah sebelah barat RSUD baru dan selatan jalan seluas kurang lebih 2 hektar. Lokasi itu masuk Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok. Namun, banjir cepat surut. Sehingga, tidak sampai merusak tanaman padi.

Yoyok menjelaskan, tidak semua padi di sawah yang terendam banjir perlu disulam. Perlu melihat usia tanaman padi untuk penyulaman.

“Jika padi yang ditanam masih muda dan terkena banjir, baiknya memang segera diganti dan tanam baru. Sedangkan untuk tanaman padi yang usianya 3 bulan, masih bisa dipertahankan,” terangnya.

Sementara untuk ternak menurutnya, biasanya pemilik langsung memindah ternaknya saat banjir. Sehingga kondisi ternak relatif lebih aman. (mas/put/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

DRINGU, Radar Bromo – Banjir susulan tidak hanya merendam ribuan rumah di dua desa di Kecamatan Dringu. Tanggul yang jebol di sepanjang Kali Kedunggaleng makin parah akibat banjir itu.

BPBD Kabupaten Probolinggo pun menyiapkan bronjong sebagai penanganan darurat di tanggul yang jebol. Mengingat, perbaikan permanen tanggul masih harus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, ada dua tanggul yang jebol. Yaitu di Desa Kedungdalem dengan panjang 50 meter. Sedangkan tanggul jebol di Desa Dringu yang awalnya hanya 30 meter, kini meluas menjadi sekitar 100 meter.

Mobile_AP_Half Page

Kondisi itu pun makin membahayakan warga sekitar. Karena saat debit air sungai tinggi, dipastikan air akan meluber ke permukiman.

Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, dampak banjir susulan itu membuat kerusakan tanggul makin parah. Pihaknya saat ini tengah mengajukan dan menyiapkan bronjong untuk penanganan darurat. Nantinya, bronjong itu akan dipasang di titik-titik tanggul yang jebol.

”Tanggul yang jebol itu ada di Desa Kedungdalem dan Desa Dringu. Tapi paling parah terjadi di Desa Dringu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Rahmad Waluyo melalui Kabid SDA Hengky mengatakan, penanganan permanen tanggul yang jebol masih diajukan ke pemprov. Mengingat, sungai Kedunggaleng merupakan kewenangan pemerintah pusat atau provinsi.

”Kami sudah ajukan dan koordinasi dengan Pemprov Jatim untuk penanganan permanen tanggul yang jebol. Untuk sementara, ditangani dengan penanganan darurat,” katanya.

Dilanjutkan Hengky, penanganan untuk mencegah terjadinya banjir adalah dengan normalisasi sungai. Sebab, sungai Kedunggaleng sudah mengalami sedimentasi atau pendangkalan. Sehingga, saat debit air sungai tinggi dan melebihi tanggul, sungai tidak dapat menampung air. Akhirnya, air meluber ke permukiman warga.

Namun, menurut Hengky, pihak pemprov sempat kesulitan untuk melakukan normalisasi sungai besar tersebut. ”Sudah pernah dilakukan kajian. Memang solusinya normalisasi sungai. Tapi pemprov juga kesulitan melakukan normalisasi sungai yang besar dan curam itu,” ungkapnya.

Hengky mengungkapkan, solusi terbaik yang tengah diajukan ke pemerintah pusat adalah dengan membuat sudetan. Mengingat, normalisasi sungai sulit dilakukan.

Dengan sudetan, nantinya aliran sungai itu bisa dibagi atau dipencar. Hanya saja, membutuhkan anggaran lebih besar untuk membuat sudetan. Mulai dari pembebasan lahan dan pembuatan sungai baru.

”Diparapet (tanggul) juga tidak dapat menyelesaikan masalah. Diparapet tinggi, tapi normalisasi sungai tidak dilakukan juga bisa menjadi bom waktu. Karena saat debit sungai tinggi dan tanggul tak mampu membendung, bisa jebol dan bisa jadi banjir bandang ke permukiman,” ungkapnya.

Terpisah, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Umil Sulistyoningsih yang datang ke lokasi banjir menyebut, banjir memang menjadi langganan di kawasan tersebut. Tetapi kali ini dampaknya paling parah.

”Saya berharap kepada instansi terkait seperti Dinsos, PUPR, Dinas Perkim, Bappeda, dan BPBD untuk segera mengambil langkah-langkah. Supaya dampak banjir segera tertangani dan banjir dapat dicegah kembali terjadi,” harapnya.

TERENDAM: Luapan Sungai Legundi sempat merendam area persawahan di Kelurahan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. (Dok. Radar Bromo)

Belum Ada Laporan Kerusakan

Sementara itu, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kota Probolinggo mendata kerusakan lahan sawah dan ternak setelah banjir di wilayah Selatan kota. Namun, sampai saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan sawah dan ternak.

“Berdasarkan pendataan dari teman-teman penyuluh pertanian, sampai saat ini tidak ada yang terdampak dari sawah maupun ternak,” ujar Yoyok Imam Siswahyudi, Plt Kepala Dispertahankan Kota Probolinggo, kemarin (3/1).

Memang menurutnya, sempat terjadi genangan di sawah sebelah barat RSUD baru dan selatan jalan seluas kurang lebih 2 hektar. Lokasi itu masuk Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok. Namun, banjir cepat surut. Sehingga, tidak sampai merusak tanaman padi.

Yoyok menjelaskan, tidak semua padi di sawah yang terendam banjir perlu disulam. Perlu melihat usia tanaman padi untuk penyulaman.

“Jika padi yang ditanam masih muda dan terkena banjir, baiknya memang segera diganti dan tanam baru. Sedangkan untuk tanaman padi yang usianya 3 bulan, masih bisa dipertahankan,” terangnya.

Sementara untuk ternak menurutnya, biasanya pemilik langsung memindah ternaknya saat banjir. Sehingga kondisi ternak relatif lebih aman. (mas/put/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2