alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Air PDAM ke Gili Ketapang Mampet, Warga Andalkan Air Hujan

SUMBERASIH, Radar Bromo – Putusnya pipa PDAM Kabupaten Probolinggo sebagai penyuplai air ke Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo benar-benar membuat warga kelimpungan untuk memenuhi air bersih. Syukur masih hujan, sehingga mereka bisa mengandalkan air hujan.

Kepala Desa Gili Ketapang Suparyono mengatakan, putusnya pipa PDAM ini jadi musibah bagi warganya. Sebab, membuat warganya krisis air bersih. Karena saluran pipa PDAM itu satu-satunya penyuplai air bersih ke Desa Gili Ketapang.

“Untungnya masih musim hujan, warga bisa menggunakan air hujan untuk mandi dan minum. Namun untuk dikonsumsi, dimasak terlebih dahulu. Selain itu, warga juga memanfaatkan air mineral untuk minum,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Kaur Kesra Desa Gili Ketapang Solehudin, 46. Pihaknya berharap PDAM segera memperbaiki sambungan pipanya. Sebab, saluran air bersih itu dibutuhkan oleh sekitar 9.000 warganya.

“Jika perbaikannya makan waktu satu minggu, kemudian masih tunggu pembuatan beton serta cuaca buruk, bisa jadi sampai tiga pekan. Jika sampai tiga minggu, saya rasa terlalu lama. Soalnya air bersih di sini sangat dibutuhkan warga,” ujarnya.

Meski mandi bisa menggunakan air laut, menurut Solehudin, selama ini warga masih membilasnya menggunakan air tawar. Sementara ini, warga memanfaatkan air hujan dan kemasan untuk kebutuhan mandi dan minum.

“Untungnya pas hujan, jadi sementara waktu kami memanfaatkan air hujan untuk mandi serta minum. Juga air kemasan untuk minum. Semoga segera diperbaiki agar kami dapat segera teraliri air bersih,” ujarnya.

 

Upaya PDAM

PDAM Kabupaten Probolinggo terus berusaha segera menyambung putusnya pipa penyuplai air ke Pulau Gili. Salah satunya dengan menyiapkan dua klem.

Dengan adanya dua klem itu perbaikan bisa segera dilaksanakan. Namun, proses perbaikanitu diperkirakan butuh waktu sepakan dengan catatan kondisi cuaca baik.

Direktur PDAM Kabupaten Probolinggo Ghandi Hartoyo mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan klem untuk menyambunng pipa yang putus itu. Kini, pekerja masih membuat beton benahan pipa di bawah laut.

“Beton penahan pipa agar tetap berada di dasar laut itu tidak ada di toko. Kami harus membuatnya sendiri. Juga masih menunggu beton itu kering. Setidaknya membutuhkan 80 buah beton penahan pipa agar tetap berada di dasar laut,” jelasna, kemarin.

Untuk memperbaikinya, Ghandi mengaku akan melibatkan pihak ketiga yang sudah biasa bekerja sama dengan PDAM untuk pemasangan pipa di dasar laut. “Untuk pemasanganya sendiri ditaksir makan waktu sepekan. Dengan catatan kondisi cuaca baik,” katanya.

Ghandi mengaku, kini pihaknya masih terus mengkaji terkait putusnya pipa berukuran 8 dim ini. Apalagi, sejauh ini belum dilihat langsung ke dasar laut untuk melihat seberapa parah kerusakannya. “JMasalah teknisnya masih belum. Termasuk berapa panjang pipa yang rusak. Namun yang jelas untuk perbaikanya akan dilakukan dari PDAM sendiri,” katanya.

Masalah lapora ke Polres Probolinggo Kota, Sabtu (30/1) lalu, Ghandi mengatakan, awalnya memang hendak melaporkan kasus ini ke kepolisian. Namun, setelah berkoordinasi, tidak jadi melapor.

“Kami hanya koordinasi. Sebab, jika laporan, kami juga harus punya cukup bukti dan saksi. Termasuk siapa atau kapal mana yang dilaporkan. Sementara kami belum tahu. Kami hanya mendapatkan informasi jika ada kapal tanker batu bara yang terseret ombak. Sehingga, yang mulanya berada di tengah bergeser ke tetpian. Pada saat keseret itulah diduga jangkar kapal tersebut mengenai pipa,” jelasnya.

Awalnya, kata Ghandi, sambungan pipa itu sudah ada tandanya. Namun, seiring berjalanya waktu hilang. “Kami tidak tahu hilangnya akibat icuri atau bagaimana. Yang jelas dulu ada penandanya. Ke depan akan kami pasang lagi penanda jika di dasar laut ada saluran pipa PDAM. Meski kapal besar biasanya juga telah memiliki sensor,” ujarnya. (rpd/rud)

SUMBERASIH, Radar Bromo – Putusnya pipa PDAM Kabupaten Probolinggo sebagai penyuplai air ke Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo benar-benar membuat warga kelimpungan untuk memenuhi air bersih. Syukur masih hujan, sehingga mereka bisa mengandalkan air hujan.

Kepala Desa Gili Ketapang Suparyono mengatakan, putusnya pipa PDAM ini jadi musibah bagi warganya. Sebab, membuat warganya krisis air bersih. Karena saluran pipa PDAM itu satu-satunya penyuplai air bersih ke Desa Gili Ketapang.

“Untungnya masih musim hujan, warga bisa menggunakan air hujan untuk mandi dan minum. Namun untuk dikonsumsi, dimasak terlebih dahulu. Selain itu, warga juga memanfaatkan air mineral untuk minum,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Kaur Kesra Desa Gili Ketapang Solehudin, 46. Pihaknya berharap PDAM segera memperbaiki sambungan pipanya. Sebab, saluran air bersih itu dibutuhkan oleh sekitar 9.000 warganya.

“Jika perbaikannya makan waktu satu minggu, kemudian masih tunggu pembuatan beton serta cuaca buruk, bisa jadi sampai tiga pekan. Jika sampai tiga minggu, saya rasa terlalu lama. Soalnya air bersih di sini sangat dibutuhkan warga,” ujarnya.

Meski mandi bisa menggunakan air laut, menurut Solehudin, selama ini warga masih membilasnya menggunakan air tawar. Sementara ini, warga memanfaatkan air hujan dan kemasan untuk kebutuhan mandi dan minum.

“Untungnya pas hujan, jadi sementara waktu kami memanfaatkan air hujan untuk mandi serta minum. Juga air kemasan untuk minum. Semoga segera diperbaiki agar kami dapat segera teraliri air bersih,” ujarnya.

 

Upaya PDAM

PDAM Kabupaten Probolinggo terus berusaha segera menyambung putusnya pipa penyuplai air ke Pulau Gili. Salah satunya dengan menyiapkan dua klem.

Dengan adanya dua klem itu perbaikan bisa segera dilaksanakan. Namun, proses perbaikanitu diperkirakan butuh waktu sepakan dengan catatan kondisi cuaca baik.

Direktur PDAM Kabupaten Probolinggo Ghandi Hartoyo mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan klem untuk menyambunng pipa yang putus itu. Kini, pekerja masih membuat beton benahan pipa di bawah laut.

“Beton penahan pipa agar tetap berada di dasar laut itu tidak ada di toko. Kami harus membuatnya sendiri. Juga masih menunggu beton itu kering. Setidaknya membutuhkan 80 buah beton penahan pipa agar tetap berada di dasar laut,” jelasna, kemarin.

Untuk memperbaikinya, Ghandi mengaku akan melibatkan pihak ketiga yang sudah biasa bekerja sama dengan PDAM untuk pemasangan pipa di dasar laut. “Untuk pemasanganya sendiri ditaksir makan waktu sepekan. Dengan catatan kondisi cuaca baik,” katanya.

Ghandi mengaku, kini pihaknya masih terus mengkaji terkait putusnya pipa berukuran 8 dim ini. Apalagi, sejauh ini belum dilihat langsung ke dasar laut untuk melihat seberapa parah kerusakannya. “JMasalah teknisnya masih belum. Termasuk berapa panjang pipa yang rusak. Namun yang jelas untuk perbaikanya akan dilakukan dari PDAM sendiri,” katanya.

Masalah lapora ke Polres Probolinggo Kota, Sabtu (30/1) lalu, Ghandi mengatakan, awalnya memang hendak melaporkan kasus ini ke kepolisian. Namun, setelah berkoordinasi, tidak jadi melapor.

“Kami hanya koordinasi. Sebab, jika laporan, kami juga harus punya cukup bukti dan saksi. Termasuk siapa atau kapal mana yang dilaporkan. Sementara kami belum tahu. Kami hanya mendapatkan informasi jika ada kapal tanker batu bara yang terseret ombak. Sehingga, yang mulanya berada di tengah bergeser ke tetpian. Pada saat keseret itulah diduga jangkar kapal tersebut mengenai pipa,” jelasnya.

Awalnya, kata Ghandi, sambungan pipa itu sudah ada tandanya. Namun, seiring berjalanya waktu hilang. “Kami tidak tahu hilangnya akibat icuri atau bagaimana. Yang jelas dulu ada penandanya. Ke depan akan kami pasang lagi penanda jika di dasar laut ada saluran pipa PDAM. Meski kapal besar biasanya juga telah memiliki sensor,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/