alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Peneliti BRIN: Airlangga Kandidat Kuat Capres KIB

JAKARTA—Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Siti Zuhro mengakui ketokohan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga sebagai sosok yang pintar. Ia mengaku sudah sering berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu tentang banyak hal.

“Saya sering berdiskusi dengan Pak Airlangga, kelihatan sekali kalau dia menguasai banyak masalah, tidak hanya ekonomi,” tutur Zuhro saat acara gelar wicara ‘Membaca Arah Koalisi Indonesia Bersatu’ yang digelar Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) di Kopi Lima Detik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/6).

Zuhro juga memuji Ketum Golkar sebagai sosok yang ramah terhadap siapapun. Menurut pengalamannya, setiap berdiskusi, Airlangga tidak pernah menunjukkan gelagat sombong atau acuh terhadap lawan bicaranya.

“Selain pintar, Pak Airlangga juga sangat ramah, tidak mendongak,” tegas Siti Zuhro.

Ia menambah, dengan sosok seperti itu, menurutnya, tidak mengherankan jika nantinya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) mengusung Airlangga sebagai calon presiden 2024. Meskipun, soal pengusungan capres masih tergantung dinamika di internal KIB sendiri.

“Saya tidak heran kalau nantinya KIB memutuskan Pak Airlangga Hartarto sebagai capres 2024,” ujarnya.

Zuhro juga menyarankan KIB tidak terpaku pada hasil survei untuk mengusung capres di Pilpres 2024. Terlebih, peneliti politik BRIN ini mengaku termasuk orang yang tidak percaya pada hasil lembaga survei soal elektabilitas dan popularitas tokoh.

KIB disarankan mempertimbangkan secara cermat pilihan sosok yang akan diusung sebagai capres dan cawapres dengan mengedepankan kompetensi dan kapabilitas.

“KIB semestinya mempertimbangkan secara cermat calon pemimpin yang nemiliki kualifikasi. Tak sekadar hanya terpaku pada hasil-hasil survei tentang popularitas saja yang tak ada jaminan mengenai kompetensi dan kapabilitas calon,” kata Siti Zuhro.

Terlebih, KIB diinisiasi oleh Golkar, PPP, dan PAN untuk mengikis polarisasi yang terjadi di masyarakat sejak Pilpres 2014. Misi ini sebagai misi mulia karena berupaya menyatukan kembali masyarakat Indonesia di tengah perbedaan pilihan politik.

Selain Siti Zuhro, diskusi LKI Partai Golkar juga menghadirkan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Timur Muhammad Sarmuji, Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DR. Syarifah Amelia, dan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno. (*)

JAKARTA—Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Siti Zuhro mengakui ketokohan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga sebagai sosok yang pintar. Ia mengaku sudah sering berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu tentang banyak hal.

“Saya sering berdiskusi dengan Pak Airlangga, kelihatan sekali kalau dia menguasai banyak masalah, tidak hanya ekonomi,” tutur Zuhro saat acara gelar wicara ‘Membaca Arah Koalisi Indonesia Bersatu’ yang digelar Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) di Kopi Lima Detik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/6).

Zuhro juga memuji Ketum Golkar sebagai sosok yang ramah terhadap siapapun. Menurut pengalamannya, setiap berdiskusi, Airlangga tidak pernah menunjukkan gelagat sombong atau acuh terhadap lawan bicaranya.

“Selain pintar, Pak Airlangga juga sangat ramah, tidak mendongak,” tegas Siti Zuhro.

Ia menambah, dengan sosok seperti itu, menurutnya, tidak mengherankan jika nantinya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) mengusung Airlangga sebagai calon presiden 2024. Meskipun, soal pengusungan capres masih tergantung dinamika di internal KIB sendiri.

“Saya tidak heran kalau nantinya KIB memutuskan Pak Airlangga Hartarto sebagai capres 2024,” ujarnya.

Zuhro juga menyarankan KIB tidak terpaku pada hasil survei untuk mengusung capres di Pilpres 2024. Terlebih, peneliti politik BRIN ini mengaku termasuk orang yang tidak percaya pada hasil lembaga survei soal elektabilitas dan popularitas tokoh.

KIB disarankan mempertimbangkan secara cermat pilihan sosok yang akan diusung sebagai capres dan cawapres dengan mengedepankan kompetensi dan kapabilitas.

“KIB semestinya mempertimbangkan secara cermat calon pemimpin yang nemiliki kualifikasi. Tak sekadar hanya terpaku pada hasil-hasil survei tentang popularitas saja yang tak ada jaminan mengenai kompetensi dan kapabilitas calon,” kata Siti Zuhro.

Terlebih, KIB diinisiasi oleh Golkar, PPP, dan PAN untuk mengikis polarisasi yang terjadi di masyarakat sejak Pilpres 2014. Misi ini sebagai misi mulia karena berupaya menyatukan kembali masyarakat Indonesia di tengah perbedaan pilihan politik.

Selain Siti Zuhro, diskusi LKI Partai Golkar juga menghadirkan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Timur Muhammad Sarmuji, Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DR. Syarifah Amelia, dan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/