alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Polemik PDIP Kota Pasuruan; Pudjo Siap jika Dipecat

PASURUAN, Radar Bromo – Konflik yang terjadi di internal PDIP Kota Pasuruan semakin meruncing. Dua tokoh senior sekaligus mantan ketua di partai politik berlambang banteng moncong putih itu terancam dipecat dari keanggotaan PDIP.

Keduanya yaitu Pudjo Basuki dan Luluk Mauludiyah. Kamis (5/11) lalu, keduanya bahkan “disidang” oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP. Agenda klarifikasi itu digelar secara daring dan dipimpin oleh Ketua Bidang Kehormatan DPP PDIP Komarudin Watubun.

Selain menghadirkan Pudjo dan Luluk, klarifikasi daring itu juga diikuti oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Cabang (DPC). Masing-masing yang diundang ialah Ketua, Sekretaris dan Wakil Ketua bidang Kehormatan. Akan tetapi, dari DPC PDIP Kota Pasuruan hanya diikuti oleh Ketua DPC Raharto Teno Prasetyo dan Sekretaris DPC Teddy Armanto.

“Kemarin hanya Pak Teno dan saya. Karena Wakil Ketua bidang kehormatan, pak Pranoto kan tidak pernah aktif,” kata Sekretaris DPC PDIP Kota Pasuruan Teddy Armanto.

Pihaknya juga baru kemarin mengikuti proses yang bergulir atas usulan pemecatan terhadap Pudjo Basuki dan Luluk Mauludiyah. “DPC baru tahu kemarin, kalau sebelumnya kami belum tahu prosesnya seperti apa,” terangnya.

Teddy mengatakan, pemecatan itu diusulkan oleh DPD. Dia juga mengatakan usulan pemecatan itu bergulir karena sikap dua kader yang pernah memimpin partai banteng di Kota Pasuruan.

Dia memastikan usulan pemecatan bukan semata karena sikap politik pada Pilwali Pasuruan 2020. Melainkan karena konflik internal sejak pergantian pucuk pimpinan DPC PDIP Kota Pasuruan. “Bukan itu (soal dukungan pada Pilwali) saja,” jelas Teddy.

Pudjo dan Luluk memang berseberangan dengan keputusan partai. Dalam beberapa kesempatan, keduanya memang menyatakan dukungan kepada paslon nomor urut 1 Saifullah Yusuf-Adi Wibowo. Hal itu jelas berbeda dengan keputusan PDIP yang sudah bulat mengusung paslon nomor urut 2, Raharto Teno Prasetyo-Mochammad Hasjim Asjari. “Ya (konflik) dari awal dulu,” terangnya.

Menurut Teddy, klarifikasi yang berlangsung secara daring itu juga terekam. Rekaman agenda klarifikasi itu ada di DPP. “Intinya kemarin itu klarifikasi. Semua pembicaraan terekam di DPP, jadi keputusannya ada di DPP,” tutur dia.

Terpisah, Pudjo Basuki membenarkan adanya usulan pemecatan yang ditujukan kepadanya. Dia bahkan menyatakan siap menerima konsekuensi atas sikapnya yang tidak sejalan dengan partai tersebut. “Saya rela dan siap dipecat,” katanya.

Pudjo bahkan tetap berpegang pada sikap politiknya pada Pilwali Pasuruan 2020. Yakni berada di barisan paslon Gus Ipul-Mas Adi sebagai rival paslon Raharto Teno Prasetyo-Mochammad Hasjim Asjari.

Dia mengaku punya alasan mendasar mengapa dirinya tak turut mendukung calon dari PDIP. Sebab dia menilai PDIP salah menentukan figur calon itu sendiri.

Hanya saja, Pudjo juga tak habis pikir kenapa dirinya sampai diusulkan pemecatan. Mengingat posisinya di partai saat ini hanya sebagai kader, bukan pengurus.

“Saya memahami, ini organisasi, ada aturan dan batasan. Waktu yang akan memberikan jawaban, hubungan saya dengan partai kedepan akan seperti apa. Kebenaran akan terbuka seiring berjalannya waktu,” tuturnya. (tom/mie)

PASURUAN, Radar Bromo – Konflik yang terjadi di internal PDIP Kota Pasuruan semakin meruncing. Dua tokoh senior sekaligus mantan ketua di partai politik berlambang banteng moncong putih itu terancam dipecat dari keanggotaan PDIP.

Keduanya yaitu Pudjo Basuki dan Luluk Mauludiyah. Kamis (5/11) lalu, keduanya bahkan “disidang” oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP. Agenda klarifikasi itu digelar secara daring dan dipimpin oleh Ketua Bidang Kehormatan DPP PDIP Komarudin Watubun.

Selain menghadirkan Pudjo dan Luluk, klarifikasi daring itu juga diikuti oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Cabang (DPC). Masing-masing yang diundang ialah Ketua, Sekretaris dan Wakil Ketua bidang Kehormatan. Akan tetapi, dari DPC PDIP Kota Pasuruan hanya diikuti oleh Ketua DPC Raharto Teno Prasetyo dan Sekretaris DPC Teddy Armanto.

“Kemarin hanya Pak Teno dan saya. Karena Wakil Ketua bidang kehormatan, pak Pranoto kan tidak pernah aktif,” kata Sekretaris DPC PDIP Kota Pasuruan Teddy Armanto.

Pihaknya juga baru kemarin mengikuti proses yang bergulir atas usulan pemecatan terhadap Pudjo Basuki dan Luluk Mauludiyah. “DPC baru tahu kemarin, kalau sebelumnya kami belum tahu prosesnya seperti apa,” terangnya.

Teddy mengatakan, pemecatan itu diusulkan oleh DPD. Dia juga mengatakan usulan pemecatan itu bergulir karena sikap dua kader yang pernah memimpin partai banteng di Kota Pasuruan.

Dia memastikan usulan pemecatan bukan semata karena sikap politik pada Pilwali Pasuruan 2020. Melainkan karena konflik internal sejak pergantian pucuk pimpinan DPC PDIP Kota Pasuruan. “Bukan itu (soal dukungan pada Pilwali) saja,” jelas Teddy.

Pudjo dan Luluk memang berseberangan dengan keputusan partai. Dalam beberapa kesempatan, keduanya memang menyatakan dukungan kepada paslon nomor urut 1 Saifullah Yusuf-Adi Wibowo. Hal itu jelas berbeda dengan keputusan PDIP yang sudah bulat mengusung paslon nomor urut 2, Raharto Teno Prasetyo-Mochammad Hasjim Asjari. “Ya (konflik) dari awal dulu,” terangnya.

Menurut Teddy, klarifikasi yang berlangsung secara daring itu juga terekam. Rekaman agenda klarifikasi itu ada di DPP. “Intinya kemarin itu klarifikasi. Semua pembicaraan terekam di DPP, jadi keputusannya ada di DPP,” tutur dia.

Terpisah, Pudjo Basuki membenarkan adanya usulan pemecatan yang ditujukan kepadanya. Dia bahkan menyatakan siap menerima konsekuensi atas sikapnya yang tidak sejalan dengan partai tersebut. “Saya rela dan siap dipecat,” katanya.

Pudjo bahkan tetap berpegang pada sikap politiknya pada Pilwali Pasuruan 2020. Yakni berada di barisan paslon Gus Ipul-Mas Adi sebagai rival paslon Raharto Teno Prasetyo-Mochammad Hasjim Asjari.

Dia mengaku punya alasan mendasar mengapa dirinya tak turut mendukung calon dari PDIP. Sebab dia menilai PDIP salah menentukan figur calon itu sendiri.

Hanya saja, Pudjo juga tak habis pikir kenapa dirinya sampai diusulkan pemecatan. Mengingat posisinya di partai saat ini hanya sebagai kader, bukan pengurus.

“Saya memahami, ini organisasi, ada aturan dan batasan. Waktu yang akan memberikan jawaban, hubungan saya dengan partai kedepan akan seperti apa. Kebenaran akan terbuka seiring berjalannya waktu,” tuturnya. (tom/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/