alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

PKB Tak Soal Bila Kader dari Luar Partai Dicalonkan DPP untuk Bacawali, Asalkan Begini

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Figur yang bakal diusung PKB dalam Pilwali 2020 Kota Pasuruan, masih menjadi pertanyaan besar. Kecenderungan PKB yang sebelumnya menguat kepada M. Nailur Rohman atau Gus Amak, perlahan redup.

Sebab, semua nama yang diusulkan DPC PKB Kota Pasuruan, punya peluang sama untuk direkomendasi oleh DPP. Karena itu, PKB memilih untuk menunggu rekomendasi DPP.

Ketua DPC PKB Kota Pasuruan Ismail Marzuki Hasan mengatakan, pihaknya tengah menunggu rekomendasi DPP tentang bakal calon yang akan diusung. Ismail menyebut, semua figur yang diusulkan ke DPP memiliki peluang sama menjadi bakal calon.

“Belum ada rekomendasi, ya kemungkinan pertengahan bulan ini sudah turun,” ungkapnya.

Jauh hari sebelumnya, ada nama M. Nailur Rohman atau Gus Amak yang santer bakal diusung PKB. Seiring waktu, PKB mengusulkan sejumlah nama ke DPP.

Ada nama Gus Amak di dalamnya. Tiga yang lain merupakan kader PKB. Yaitu, Abdullah Junaedi, M. Nawawi, dan Mochammad Machfudz. Terakhir, Ismail Nachu yang juga ketua ICMI Jawa Timur.

Selama dinamika politik bergulir, peluang PKB untuk bisa mengusung Gus Amak kian menipis. Sumber di internal PKB menyebutkan, Gus Amak tak berniat maju di pilwali. Lantaran itu, hanya ada empat nama yang sekarang memiliki kesempatan mendapatkan rekomendasi.

Ismail sendiri enggan mengomentari hal itu. Begitu pula saat ditanya mengenai kecenderungan PKB yang disebut bakal mengusung Ismail Nachu. Secara tidak langsung, Ismail mengakui bahwa saat ini nama Ismail Nachu kian santer dibicarakan.

“Di luar, memang yang muncul Ismail Nachu. Boleh saja dikatakan seperti itu. Tapi, sampai sekarang belum ada rekomendasi. Sampai sekarang lagi berproses di DPP,” sebutnya.

Artinya, Ismail Nachu masih memiliki peluang untuk mengantongi rekomendasi PKB. Sekalipun bukan kader PKB.

Ismail sendiri menegaskan, PKB akan tetap mengusung bakal calon wali kota. Karena itu, ia bersikeras bahwa pemegang rekomendasi harus dipastikan menjadi bagian dari PKB. “Kalau yang direkomendasi dari luar ya harus di-PKB-kan,” katanya.

Sementara Abdullah Junaedi, salah satu kader PKB yang diusulkan ke DPP mengaku sangat siap bertarung dalam Pilwali 2020. Katanya, dua kader yang lain, M Nawawi dan Mochammad Machfudz juga menyatakan kesiapannya menjalankan perintah partai.

“Kalau DPP merekomendasi kader internal, kami sangat siap. Kalau yang direkomendasi nonkader, konsekuensinya memang harus masuk PKB dulu,” kata pria yang juga sekretaris DPC PKB Kota Pasuruan itu.

Menurut Junaedi, persyaratan menjadi kader bagi pemegang rekomendasi, cukup beralasan. Sebab, hal itu terkait erat dengan kinerja bakal calon apabila menang dalam kontestasi politik. Terutama ketika duduk di pemerintahan.

“Artinya, kalau ada ketidakpuasan masyarakat karena ketidakcakapan dalam bekerja, PKB bisa mengingatkan kadernya,” beber dia.

Akan tetapi, Junaedi juga berpendapat 8 kursi di parlemen menjadi modal kuat bagi PKB untuk mengusung kadernya sendiri. Namun, lagi-lagi hal itu juga masih tergantung keputusan DPP.

“Tetapi sangat ironis ketika PKB bisa berangkat sendiri, tapi mengusung dari luar,” ujarnya.

Dia lantas menyebut pengalaman di beberapa agenda pilwali yang telah dilalui PKB selama ini. Dimana, figur bakal calon yang diusung juga dari internal partai. “Pengalaman PKB selama ini mengusung kader internal, seperti Pak Amin, almarhum Pak Hasani. Jadi bukan naturalisasi,” sebutnya.

Saat ditanya mengenai sosok Nailur Rohman atau Gus Amak, Junaedi juga bersikap terbuka. Sebab, hubungan PKB dan NU selama ini sudah sangat harmonis.

“Kalau seandainya Gus Amak, PKB juga siap mengusung. Karena hubungan PKB dengan dengan NU sekarang ini sangat harmonis,” katanya. (tom/hn/fun)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Figur yang bakal diusung PKB dalam Pilwali 2020 Kota Pasuruan, masih menjadi pertanyaan besar. Kecenderungan PKB yang sebelumnya menguat kepada M. Nailur Rohman atau Gus Amak, perlahan redup.

Sebab, semua nama yang diusulkan DPC PKB Kota Pasuruan, punya peluang sama untuk direkomendasi oleh DPP. Karena itu, PKB memilih untuk menunggu rekomendasi DPP.

Ketua DPC PKB Kota Pasuruan Ismail Marzuki Hasan mengatakan, pihaknya tengah menunggu rekomendasi DPP tentang bakal calon yang akan diusung. Ismail menyebut, semua figur yang diusulkan ke DPP memiliki peluang sama menjadi bakal calon.

“Belum ada rekomendasi, ya kemungkinan pertengahan bulan ini sudah turun,” ungkapnya.

Jauh hari sebelumnya, ada nama M. Nailur Rohman atau Gus Amak yang santer bakal diusung PKB. Seiring waktu, PKB mengusulkan sejumlah nama ke DPP.

Ada nama Gus Amak di dalamnya. Tiga yang lain merupakan kader PKB. Yaitu, Abdullah Junaedi, M. Nawawi, dan Mochammad Machfudz. Terakhir, Ismail Nachu yang juga ketua ICMI Jawa Timur.

Selama dinamika politik bergulir, peluang PKB untuk bisa mengusung Gus Amak kian menipis. Sumber di internal PKB menyebutkan, Gus Amak tak berniat maju di pilwali. Lantaran itu, hanya ada empat nama yang sekarang memiliki kesempatan mendapatkan rekomendasi.

Ismail sendiri enggan mengomentari hal itu. Begitu pula saat ditanya mengenai kecenderungan PKB yang disebut bakal mengusung Ismail Nachu. Secara tidak langsung, Ismail mengakui bahwa saat ini nama Ismail Nachu kian santer dibicarakan.

“Di luar, memang yang muncul Ismail Nachu. Boleh saja dikatakan seperti itu. Tapi, sampai sekarang belum ada rekomendasi. Sampai sekarang lagi berproses di DPP,” sebutnya.

Artinya, Ismail Nachu masih memiliki peluang untuk mengantongi rekomendasi PKB. Sekalipun bukan kader PKB.

Ismail sendiri menegaskan, PKB akan tetap mengusung bakal calon wali kota. Karena itu, ia bersikeras bahwa pemegang rekomendasi harus dipastikan menjadi bagian dari PKB. “Kalau yang direkomendasi dari luar ya harus di-PKB-kan,” katanya.

Sementara Abdullah Junaedi, salah satu kader PKB yang diusulkan ke DPP mengaku sangat siap bertarung dalam Pilwali 2020. Katanya, dua kader yang lain, M Nawawi dan Mochammad Machfudz juga menyatakan kesiapannya menjalankan perintah partai.

“Kalau DPP merekomendasi kader internal, kami sangat siap. Kalau yang direkomendasi nonkader, konsekuensinya memang harus masuk PKB dulu,” kata pria yang juga sekretaris DPC PKB Kota Pasuruan itu.

Menurut Junaedi, persyaratan menjadi kader bagi pemegang rekomendasi, cukup beralasan. Sebab, hal itu terkait erat dengan kinerja bakal calon apabila menang dalam kontestasi politik. Terutama ketika duduk di pemerintahan.

“Artinya, kalau ada ketidakpuasan masyarakat karena ketidakcakapan dalam bekerja, PKB bisa mengingatkan kadernya,” beber dia.

Akan tetapi, Junaedi juga berpendapat 8 kursi di parlemen menjadi modal kuat bagi PKB untuk mengusung kadernya sendiri. Namun, lagi-lagi hal itu juga masih tergantung keputusan DPP.

“Tetapi sangat ironis ketika PKB bisa berangkat sendiri, tapi mengusung dari luar,” ujarnya.

Dia lantas menyebut pengalaman di beberapa agenda pilwali yang telah dilalui PKB selama ini. Dimana, figur bakal calon yang diusung juga dari internal partai. “Pengalaman PKB selama ini mengusung kader internal, seperti Pak Amin, almarhum Pak Hasani. Jadi bukan naturalisasi,” sebutnya.

Saat ditanya mengenai sosok Nailur Rohman atau Gus Amak, Junaedi juga bersikap terbuka. Sebab, hubungan PKB dan NU selama ini sudah sangat harmonis.

“Kalau seandainya Gus Amak, PKB juga siap mengusung. Karena hubungan PKB dengan dengan NU sekarang ini sangat harmonis,” katanya. (tom/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/