
Oleh: M. Busthomi, wartawan Jawa Pos Radar Bromo
DEWI Justitia tidak hanya memegang timbangan. Di satu tangannya yang lain, ada pedang. Keduanya sudah lama menjadi personifikasi alegoris dari keadilan dalam sistem hukum.
Timbangan mengukur benar dan salah. Pedang melambangkan daya paksa.
Yang satu tanpa yang lain hanya melahirkan ketimpangan. Timbangan tanpa pedang adalah nasihat yang tak berdaya; pedang tanpa timbangan adalah kekuatan yang hilang arah.
Mungkin karena itu, orang-orang Romawi tak pernah memisahkan keduanya.
Tetapi Justitia bukan dewi keadilan pertama. Jauh sebelum ia lahir dari imajinasi Romawi, bangsa Yunani mengenal Themis, titan perempuan yang melambangkan tata tertib kosmis. Mengatur tidak hanya hukum manusia, batas antara yang boleh dan yang tidak, tetapi juga memastikan segala sesuatu di alam semesta berjalan seimbang. Pendeknya, ia memegang hukum Ilahi.
Hanya saja Themis tidak memegang pedang. Ia hanya memegang timbangan. Dan duduk di sisi Zeus, sebagai penasihat, sekaligus istri kedua.
Romawi mengubah tradisi itu. Mereka memberi Justitia pedang, dan dengan itu, memberi keadilan sesuatu yang belum pernah dimiliki Themis: ”daya paksa”.
Sebab ketertiban yang tak memiliki daya paksa hanya bertahan selama semua orang bersedia mematuhinya. Dan sejarah terlalu sering membuktikan bahwa tidak semua orang bersedia.



