alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

HUT ke-23 JP Radar Bromo; Adaptasi-Kolaborasi Hadapi Persaingan Era Digital

Oleh. H.A Suyuti, Direktur Radar Bromo


“SAYA belum percaya (sebuah berita), kalau belum membaca Radar Bromo”. Pernyataan ini beberapa kali saya dengar dari pembaca. Saya berkesimpulan: Di tengah berkembangnya era digital, pembaca masih menjadikan harian Radar Bromo sebagai rujukan tepercaya untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Fakta ini menjadikan kami semakin optimistis terhadap perkembangan Radar Bromo ke depan. Di saat menjamurnya media online, masih ada yang membaca Radar Bromo. Tentu ini berita menggembirakan. Sekaligus menjadi tantangan dan peluang bagi kami sebagai pengelola perusahaan surat kabar.

Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh International Newsmedia Marketing Association (INMA) pada tahun 2015, surat kabar di dunia diprediksi akan punah. Di Amerika Serikat bakal habis di tahun 2017, Inggris dan Islandia tahun 2019. Indonesia tidak tercantum dan hanya dimasukkan dalam kelompok Rest of The World, yang media cetaknya akan punah setelah tahun 2040.

Prediksi itu sampai saat ini belum terbukti. Meski ada beberapa media cetak yang tutup.  Tapi, penyebabnya beragam. Mulai salah kelola, hingga ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan era digital. Tidak  mampu karena memang tidak mau mengikuti perkembangan. Ada juga yang langsung shifting ke media online, yang secara bisnis belum bisa menyamai media cetak.

Kami juga menyadari, jika media cetak head to head dengan media online, tentu tidak akan pernah ketemu. Media cetak tidak akan bisa mengimbangi media online soal kecepatan penyajian sebuah informasi. Tapi, soal kedalaman dan kedetailan sebuah informasi, tentu media cetak lebih unggul dibanding media online. Yang pas adalah saling melengkapi dan menutupi kekurangannya.

Hal ini yang dilakukan beberapa surat kabar di dunia, termasuk di Indonesia. Mereka mulai menyesuaikan business plan-nya dengan perkembangan era digital. Tidak hanya fokus mengembangkan surat kabar cetak. Tapi mulai mengembangkan versi digitalnya dan mendiversifikasi bisnisnya.

Salah satunya The New York Times. Koran yang lahir tahun 1851 ini, sampai sekarang masih terbit edisi cetaknya. Itu terjadi karena sejak tahun 1996, sudah mengembangkan website-nya. Jauh sebelum pesatnya era digital. Maka jangan heran jika sampai saat ini masih hidup dan menguntungkan secara bisnis.

Oleh. H.A Suyuti, Direktur Radar Bromo


“SAYA belum percaya (sebuah berita), kalau belum membaca Radar Bromo”. Pernyataan ini beberapa kali saya dengar dari pembaca. Saya berkesimpulan: Di tengah berkembangnya era digital, pembaca masih menjadikan harian Radar Bromo sebagai rujukan tepercaya untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Fakta ini menjadikan kami semakin optimistis terhadap perkembangan Radar Bromo ke depan. Di saat menjamurnya media online, masih ada yang membaca Radar Bromo. Tentu ini berita menggembirakan. Sekaligus menjadi tantangan dan peluang bagi kami sebagai pengelola perusahaan surat kabar.

Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh International Newsmedia Marketing Association (INMA) pada tahun 2015, surat kabar di dunia diprediksi akan punah. Di Amerika Serikat bakal habis di tahun 2017, Inggris dan Islandia tahun 2019. Indonesia tidak tercantum dan hanya dimasukkan dalam kelompok Rest of The World, yang media cetaknya akan punah setelah tahun 2040.

Prediksi itu sampai saat ini belum terbukti. Meski ada beberapa media cetak yang tutup.  Tapi, penyebabnya beragam. Mulai salah kelola, hingga ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan era digital. Tidak  mampu karena memang tidak mau mengikuti perkembangan. Ada juga yang langsung shifting ke media online, yang secara bisnis belum bisa menyamai media cetak.

Kami juga menyadari, jika media cetak head to head dengan media online, tentu tidak akan pernah ketemu. Media cetak tidak akan bisa mengimbangi media online soal kecepatan penyajian sebuah informasi. Tapi, soal kedalaman dan kedetailan sebuah informasi, tentu media cetak lebih unggul dibanding media online. Yang pas adalah saling melengkapi dan menutupi kekurangannya.

Hal ini yang dilakukan beberapa surat kabar di dunia, termasuk di Indonesia. Mereka mulai menyesuaikan business plan-nya dengan perkembangan era digital. Tidak hanya fokus mengembangkan surat kabar cetak. Tapi mulai mengembangkan versi digitalnya dan mendiversifikasi bisnisnya.

Salah satunya The New York Times. Koran yang lahir tahun 1851 ini, sampai sekarang masih terbit edisi cetaknya. Itu terjadi karena sejak tahun 1996, sudah mengembangkan website-nya. Jauh sebelum pesatnya era digital. Maka jangan heran jika sampai saat ini masih hidup dan menguntungkan secara bisnis.

MOST READ

BERITA TERBARU

/