24.2 C
Probolinggo
Tuesday, March 21, 2023

Bullying

Oleh: Rozi Al Jufri


ANAK-anak kita tumbuh dalam ”asuhan” perangkat digital. Mereka tidak bisa lagi hidup tanpa internet. Beragam perangkat teknologi digital itu menyuplai asupan informasi. Contoh, model, teladan, dan panutan. Juga, pengalaman yang mungkin berbeda dari dunia nyata. Sering tanpa perimbangan pengasuhan yang sehat di dalam keluarga.

Maka, jangan heran apabila remaja yang sebelumnya terlihat baik-baik saja mendadak jadi brutal. Kriminal. Sadistis. Contohnya seorang santri ponpes yang membakar juniornya di Pandaan. Tidak ada yang menduga. Remaja 16 tahun itu menyiapkan bensin dalam botol. Menyiramkan ke tubuh juniornya. Lalu, menyulut korek api. Tewaslah bocah 13 tahun itu dengan tubuh terluka bakar sampai 70 persen.

Baca Juga:  Upaya Memahami Gus Yahya Menyoal Isu Feminisme; NU yang Selalu Unik

Apa pemicunya? Pelaku menuduh korban mencuri uang. Lalu, meluapkan kekesalan dengan sadis. Yang entah ditirunya dari siapa perbuatan kejam itu. Hakim pun memutuskan hukuman 5 tahun. Hukuman itu lebih tepat untuk perbuatannya, bukan diri pribadi remajanya. Agar muncul efek jera para remaja lain. Sebab, pelaku masih punya masa depan. Dia berhak didampingi dan dipulihkan mentalnya.

Itu tragedi awal tahun 2023 lalu.

Kamis siang, 2 Maret, kita dibuat mengelus dada lagi. Seorang pelajar SMP dikeroyok empat orang. Dihajar ala smack down dalam pertarungan bebas. Videonya menyebar liar. Dari sebuah warung kopi di Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Si korban, bocah 15 tahun itu, tampak tidak melawan sama sekali.

Baca Juga:  Relasi Derasnya Orderan di E-Commerce dengan Limbah di Perbatasan Laut Asean

Dia sendirian. Dihajar habis. Sebaliknya, pelaku terlihat brutal. Memukul, menendang, membanting. Hingga sekujur tubuh korban luka-luka. Adegan kekerasan itu sengaja direkam. Dan, tersebar luas sore harinya.

Mengapa sampai dihajar sesadis itu? Ternyata korban tidak mau masuk grup WA para pelaku. Grup sejenis gang remaja. Sebelum ”dihakimi” ala gerombolan jalanan, korban mengalami perundungan (bullying). Diancam, ditakut-takuti, diintimidasi.

Ya. Bullying ini telah menjadi ombak besar. Menelan banyak korban. Perundungan subur terjadi di dunia nyata maupun dunia maya (bullying dan cyberbullying). Yang awalnya terjadi di media sosial bisa berlanjut dalam interaksi keseharian.

Oleh: Rozi Al Jufri


ANAK-anak kita tumbuh dalam ”asuhan” perangkat digital. Mereka tidak bisa lagi hidup tanpa internet. Beragam perangkat teknologi digital itu menyuplai asupan informasi. Contoh, model, teladan, dan panutan. Juga, pengalaman yang mungkin berbeda dari dunia nyata. Sering tanpa perimbangan pengasuhan yang sehat di dalam keluarga.

Maka, jangan heran apabila remaja yang sebelumnya terlihat baik-baik saja mendadak jadi brutal. Kriminal. Sadistis. Contohnya seorang santri ponpes yang membakar juniornya di Pandaan. Tidak ada yang menduga. Remaja 16 tahun itu menyiapkan bensin dalam botol. Menyiramkan ke tubuh juniornya. Lalu, menyulut korek api. Tewaslah bocah 13 tahun itu dengan tubuh terluka bakar sampai 70 persen.

Baca Juga:  HUT ke-23 JP Radar Bromo; Adaptasi-Kolaborasi Hadapi Persaingan Era Digital

Apa pemicunya? Pelaku menuduh korban mencuri uang. Lalu, meluapkan kekesalan dengan sadis. Yang entah ditirunya dari siapa perbuatan kejam itu. Hakim pun memutuskan hukuman 5 tahun. Hukuman itu lebih tepat untuk perbuatannya, bukan diri pribadi remajanya. Agar muncul efek jera para remaja lain. Sebab, pelaku masih punya masa depan. Dia berhak didampingi dan dipulihkan mentalnya.

Itu tragedi awal tahun 2023 lalu.

Kamis siang, 2 Maret, kita dibuat mengelus dada lagi. Seorang pelajar SMP dikeroyok empat orang. Dihajar ala smack down dalam pertarungan bebas. Videonya menyebar liar. Dari sebuah warung kopi di Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Si korban, bocah 15 tahun itu, tampak tidak melawan sama sekali.

Baca Juga:  Persoalan Distribusi Pupuk, Kembalikan ke Mekanisme Pasar

Dia sendirian. Dihajar habis. Sebaliknya, pelaku terlihat brutal. Memukul, menendang, membanting. Hingga sekujur tubuh korban luka-luka. Adegan kekerasan itu sengaja direkam. Dan, tersebar luas sore harinya.

Mengapa sampai dihajar sesadis itu? Ternyata korban tidak mau masuk grup WA para pelaku. Grup sejenis gang remaja. Sebelum ”dihakimi” ala gerombolan jalanan, korban mengalami perundungan (bullying). Diancam, ditakut-takuti, diintimidasi.

Ya. Bullying ini telah menjadi ombak besar. Menelan banyak korban. Perundungan subur terjadi di dunia nyata maupun dunia maya (bullying dan cyberbullying). Yang awalnya terjadi di media sosial bisa berlanjut dalam interaksi keseharian.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru