SUARA Arifin, warga RT 2/RW 1, Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, terdengar begitu berat. Namun tekad pria 66 tahun ini untuk mengumandangkan azan setiap waktu salat, tak pernah surut. Bahkan, tekadnya menjadi muazin sampai ajal menjemput.
Suara berat dan parau itu selalu terdengar dari pengeras suara Musala Al Huda di Kelurahan Tapaan. Setiap memasuki waktu salat maktubah, pria yang akrab disapah Gus Sul ini selalu mengumandangkan azan. Tercatat sudah 33 tahun ia menjadi muazin.
Puluhan tahun menjadi muazin, keistiqamahannya patut diacungi jempol. Menurutnya, perjalanan menjadi muazin tidak semudah saat mengumandangkan azan. Sejak awal menikah pada 1990, ia tidak diperbolehkan bekerja oleh mertuanya.
“Sebelum menikah, saya jadi kuli bangunan. Karena mertua punya santri, akhirnya dengan bekal ilmu agama, saya juga amalkan meneruskan mertua,” ujarnya.
Sejak menikah, pria asal Desa Mendalan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, ini tinggal di rumah istrinya di Kelurahan Tapaan. Sejak saat itulah, Gus Sul “didapuk” menjadi muazin di musalah yang hanya lima langkah dari rumahnya.
Menjadi menantu seorang kiai, Gus Sul juga dituntut harus bisa mengurus musala tempat para santri mengaji. Karena itu, selain tugas utama sebagai muazin, ia juga harus siap menjadi imam salat dan mengajar para santri mengaji Alquran.
Bertahun-tahun menjadi muazin, Gus Sul mengaku telah merasa nyaman. Kebahagiaan terbesar karena bisa menjadi “penjaga” waktu warga untuk menunaikan salat lima waktu. Mulai Subuh, Duhur, Asar, Magrib, dan Isya.
Puluhan tahun tanggung jawab menyerukan panggilan salat dilakukan seorang diri. Tak heran bila warga sekitar begitu hafal dengan suaranya. Termasuk ketika Ramadan dan Salat Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
“Kalau azan kan berdiri. Sekarang setelah azan duduk saja. Lama berdiri rasanya sakit,” ujarnya, ketika ditemui di Musala Al Huda.
Namun, faktor usia tak memaksanya menyerah. Gus Sul tak mau begitu saja melepas amanahnya sebagai muazin. Ia hanya menguranginya. Dua waktu azan lainnya diserahkan kepada anggota takmir yang lain.
“Tapi kalau mengumandang azan, mungkin sampai mati saya akan selalu begini. Kalau pekerjaan hanya sekedar buka toko ini aja,” katanya. (fuad alyzen/rud)
Editor : Moch Vikry Romadhoni