WUJUD pengabdian tulus seringkali bisa dilakukan dengan bentuk kesederhanaan dan keikhlasan dalam menjaga rumah Allah SWT. Seperti dilakukan oleh M. Suyono, 74. Marbot atau petugas dan penjaga kebersihan Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan, ini telah lebih 30 tahun merawat tempat ibadah umat Islam itu.
Usianya sudah tidak lagi muda, M. Suyono masih tampak bugar dan semangat dalam menjaga Masjid Agung Al Anwar. Di masjid terbesar di Kota Pasuruan, ini pengabdiannya kerap menjadi suri tauladan bagi jemaah. Baginya, merawat Masjid Al Anwar adalah salah satu bentuk ibadah.
Keputusan untuk menjaga kebersihan masjid ini diteguhkan sejak 1971. Saat itu, lelaki yang akrab disapa Yono ini, terpanggil untuk memakmurkan rumah ibadah umat Islam tertua di Kota Pasuruan ini. Kebetulan, ia baru saja boyong dari pondok di Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan asuhan Almarhum K.H. Abdul Hamid.
“Waktu itu Masjid Al Anwar masih bangunan lama. Belum seperti saat ini. Masih satu lantai," katanya saat ditemui di Masjid Agung Al Anwar.
Karena saat itu petugas yang menjaga masjid terbatas, ia bertanggung jawab terhadap kebersihan seluruh areal masjid. Mulai dari bangunan dalam, kamar mandi, serta toilet laki-laki serta perempuan. Termasuk halaman depan masjid. Ia juga dapat tanggung jawab melihat benjret atau jam bencet (jam matahari), alat tradisional sebagai penentu masuk waktu Duhur dan Asar.
“Saat itu bangunan masjid masih satu lantai, bencet bisa digunakan pada Duhur dan Asar. Saat ini cuma Duhur karena terhalang bangunan," jelasnya.
Meski tanggung jawabnya cukup banyak, warga Desa Sambirejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, ini tidak pernah mengeluh. Pegangannya dawuh Kiai Abdul Hamid. Kala itu, almarhum pernah berpesan kepadanya untuk selalu sabar dan ikhlas dalam mengejar rida Allah SWT. Yono pun yakin, keikhlasan merawat masjid membawa barokah dalam hidup.
Sejak 2011, tanggung jawabnya berkurang. Pihak takmir memperkerjakan sejumlah petugas tambahan. Kini total ada 100 orang. Mereka berbagi tugas. Mulai yang bertanggung jawab menjaga keamanan, kebersihan, hingga ketertiban. Yono fokus melihat jam bencet, membersihkan kamar mandi, dan tempat wudu laki-laki. Tempat-tempat itu, dibersihkan dua kali pada pagi dan sore.
“Yang membersihkan lantai 1 dan 2 masjid atau halaman depan, ada petugasnya sendiri. Saya fokus pada areal laki-laki dan melihat benjret," jelasnya.
Ayah tiga anak ini mengaku tidak pernah libur selama mengabdikan diri menjadi marbot. Bahkan, ketika Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Alasannya, tanggung jawab merawat rumah Allah SWT membuatnya tidak bisa meninggalkannya meski satu hari. Ketika Lebaran, Yono hanya meninggalkan masjid untuk sonjo dengan tetangga.
“Setelah itu, saya tinggalkan untuk bersih masjid. Apalagi saat hari raya, jemaah ramai, pasti butuh saya. Kalau ada tamu, ya pulang sebentar,” terangnya.
Pria asli Kabupaten Pasuruan ini mengaku, selama menjadi marbot, hidupnya dimudahkan. Tidak pernah kekurangan atau bingung dalam urusan dapur. Diberi kesehatan hingga kini usia lebih dari 70 tahun. Anak sulungnya telah lulus dari Pondok Salafiyah dan telah berkeluarga. Begitu pula dengan putra keduanya. Sementara, anak bungsunya telah menyandang gelar sarjana dari Universitas PGRI Wiranegara.
“Istri selalu menerima pemberian dari saya. Alhamdulillah Allah SWT selalu memudahkan. Hidup selalu diberi kelancaran,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. (fahrizal firmani/rud)
Editor : Fahreza Nuraga