BANGIL, Radar Bromo - Upaya Satgas Pangan dalam menekan harga bahan pokok tampaknya harus berhadapan dengan hukum alam.
Hanya berselang sehari setelah mereka melakukan inspeksi mendadak (sidak), harga berbagai jenis cabai di pasar tradisional justru semakin "pedas" alias mengalami kenaikan signifikan.
Berdasarkan data terbaru dari laman Siskaperbapo, lonjakan harga cabai rawit dan cabai merah besar menembus angka lebih dari empat persen.
Tren kenaikan ini tentu membuat dahi para ibu rumah tangga berkerut, mengingat mereka baru saja bernapas lega saat mendengar ada petugas yang turun ke pasar.
Kanit Tindak Pidana Ekonomi Satreskrim Polres Pasuruan, Ipda Eko Hadi Saputro, memaparkan, kenaikan harga ini murni dipicu oleh faktor alam, bukan ulah spekulan.
“Harga cabai yang naik itu murni dikarenakan kondisi cuaca yang buruk, bukan karena adanya praktik penimbunan,” tegas Ipda Eko.
Sehari sebelumnya, korps berseragam cokelat dengan instansi terkait memang sempat menyisir 14 jenis bahan pokok penting (bapokting) di Pasar Bangil.
Hasilnya, stok beras, minyak goreng, gula, hingga daging sapi dipastikan aman terkendali.
Namun, komoditas hortikultura seperti cabai memang memiliki sensitivitas tinggi terhadap iklim.
“Kemarin kami sudah sidak dan memastikan stok aman serta tersedia di pasar,” tambahnya meyakinkan bahwa rantai distribusi masih sehat.
Meski stok aman, angka di papan harga tidak bisa bohong. Cabai merah keriting kini sudah menembus Rp 29.000 per kilogram.
Sementara itu, primadona dapur, yakni cabai rawit merah, kian tak terjangkau dengan harga mencapai Rp 49.000 per kilogram.
Kondisi ini memaksa warga untuk "mengecer" belanjaan agar dapur tetap bisa mengepul.
Polisi berjanji tidak akan tinggal diam. Pemantauan melalui sistem informasi digital maupun pengecekan fisik di pasar-pasar akan terus dilakukan secara berkala.
Hal ini untuk memastikan tidak ada oknum nakal yang sengaja "menggoreng" harga dengan berlindung di balik alasan cuaca buruk. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin