Di Dusun / Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, terdapat saluran air yang tampilannya cukup unik.
Bentuknya berunduk atau bertingkat. Saluran tersebut, ternyata memiliki sejarah panjang, karena merupakan peninggalan Belanda.
----------------------
Warga menyebut saluran air sekunder itu, Kedung Prenteng. Saluran tersebut memiliki undukan sebanyak 15 tingkatan.
Panjangnya sekitar 60-70 meter. Sementara lebarnya, hanya kisaran tiga meter.
Dinding saluran air tersebut, terbuat dari pasangan batu kali. Sebagian sudah tersentuh modernisasi. Yakni dilakukan pengecatan oleh warga.
Pengecatan itu dilakukan, bersamaan dengan pembersihan dan pelebaran jalan, akses menuju sawah di sisi timur Kedung Prenteng.
"Sejak dahulu, warga menyebut bangunan ini, Kedung Prenteng. Saluran peninggalan Belanda ini, dibangun sekitar tahun 1912,” kata Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad.
Keberadaan Kedung Prenteng, memberi banyak manfaat bagi warga. Terutama para petani.
Karena air dari saluran tersebut, sepenuhnya dimanfaatkan untuk pengairan ke sawah. Mulai dari Dusun Randupitu hingga Dusun Babat, Desa Randupitu, Kecamatan Gempol.
Menurut Fuad, air dari saluran Kedung Prenteng mengalir setiap saat. Bahkan, ketika musim kemarau sekalipun.
Tak heran, tanaman padi di area persawahan setempat, tumbuh subur. Setahun, bisa panen hingga tiga kali.
"Fungsi utamanya, ya untuk irigasi persawahan warga. Selain memberi manfaat, juga membawa berkah tersendiri bagi warga, terutama petani di desa kami,” akunya.
Kedung Prenteng, merupakan saluran air berundak. Bisa dikatakan, saluran air terjunan.
Seperti halnya yang disampaikan Baron Efendy, asal Prigen, sekaligus pemerhati saluran air peninggalan Belanda.
"Bahasa Belandanya, disebut e stordam. Saluran sekunder Randupitu itu, masuk jaringan irigasi Pateguhan," jelasnya.
Ia menambahkan, Kedung Prenteng adalah saluran air peninggalan Belanda dengan ciri-ciri, bangunannya cenderung kasar tapi kuat. Spasi pada pasangan batu kalinya, rata-rata timbul.
Ada kemungkinan, pembangunannya bersamaan dengan Talang Abang, di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan.
"Fungsi bangunan terjunan air seperti Kedung Printing ini, adalah untuk mengurangi kecepatan aliran dan energi air, pada saluran yang curam. Sehingga mencegah erosi ," bebernya.
Bangunan ini, juga berfungsi untuk menurunkan ketinggian atau elevasi aliran air. Supaya, alirannya landai dan aman bagi saluran atau bangunan lainnya.
Airnya yang tak pernah surut, karena merupakan gabungan dari Sungai Trawas, Sungai Krobyokan dan Sungai Tretes yang dibendung di Dam Winong atau posisi damnya di atas Talang Abang. "Jadi debit airnya selalu ada," ulasnya. (zal/one)
----------------
Jadi Jujukan Bermain Anak Sekolah
Bentuknya yang estetik, tak jarang membuat orang kepincut untuk mengunjungi bangunan peninggalan Belanda, Kedung Prenteng.
Lokasi menuju ke saluran air setempat, cukup mudah dijangkau. Bisa dengan naik motor ataupun jalan kaki. Pengunjung, bisa melewati jalan perkampungan berpaving hingga jalan persawahan.
"Untuk menuju Kedung Prenteng, bisa lewat Dusun / Desa Randupitu. Atau bisa juga via Dusun Kabunan, Desa Kepulungan. Karena berada di perbatasan antara Desa Randupitu dengan Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol," kata Kades Randupitu Mochammad Fuad.
Bagi yang naik motor, bisa berhenti di jalan paving terakhir perkampungan baik di Desa Randupitu maupun di Desa Kepulungan. Setelah itu, motor diparkir. Kemudian bisa menempuhnya dengan jalan kaki.
“Lokasinya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jaraknya malah lebih dekat dengan Desa Kepulungan," terangnya.
Keberadaan Kedung Prenteng ini, tidak banyak orang yang mengetahui. Kecuali, sebagian warga Desa Randupitu dan Desa Kepulungan.
"Paling sering ya didatangi anak-anak. Mereka mandi dan bermain air, sepulang dari sekolah. Namun sekarang, sudah jarang, tidak seramai dahulu," ungkapnya. (zal/one)
----------------------
Memiliki Potensi Wisata
Tak jauh dari lokasi Kedung Prenteng, sempat terdapat waduk. Namun,, waduk tersebut kini telah berubah menjadi sawah. Waduk tersebut, dahulu dibangun saat kolonial Belanda.
"Dulu selain ada Kedung Prenteng, juga ada embung. Keduanya dibangun di tahun yang sama. Namun sekarang, embungnya sudah berganti menjadi sawah,” beber Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad.
Embung tersebut tidaklah terlalu luas. Hanya sekitar 2.000 meter persegi. Meski berganti sawah, namun jejaknya masih ada.
Yakni berupa saluran pembuang, dari pasangan batu dan mengalir ke persawahan di samping.
"Kami dari pemdes, akan berupaya untuk mengajukan permohonan ke instansi terkait, agar embung tersebut bisa difungsikan kembali. Agar bisa dikombinasikan dengan Kedung Prenteng. Sehingga ke depan, bisa kami manfaatkan untuk menjadi wisata desa selain sekedar irigasi persawahan,” sampainya. (zal/one)
Editor : Fahreza Nuraga