MASYARAKAT Desa Randuati, Kecamatan Nguling kini bisa menghemat waktu menuju Desa Kedawang, Kecamatan Nguling. Mereka tidak perlu lagi memutar jauh.
Pemdes telah membangun jembatan penghubung.
Sebelumnya, masyarakat harus memutar sejauh dua kilometer ke arah timur. Melintasi Desa Nguling untuk menuju Desa Kedawang.
Beberapa orang yang memilih melewati jembatan ini, harus berhati-hati agar tidak jatuh.
Kepala Desa Randuati, Suriyah mengungkapkan jembatan penghubung ini, dibangun di Dusun Krajan.
Sebenarnya, ada jembatan lama. Namun jembatan ini, sudah mulai rapuh dimakan usia. Sehingga mereka yang melintas harus pelan-pelan.
“Kalau naik motor, lebih rawan. Karena kayunya itu, berjungkat-jungkit kalau dilewati. Sudah tidak menempel sempurna,” ungkapnya.
Karena itulah, tahun 2024 lalu, pihaknya memperbaiki jembatan sepanjang 12 meter dan lebar 2,2 meter itu.
Kini, masyarakat tidak perlu was-was saat melewati jembatan ini.
Meski pemanfaatannya, baru terbatas untuk kendaraan roda dua. Mengingat, lebarnya yang terbatas.
“Meski begitu, manfaatnya sangat besar. Masyarakat tidak perlu memutar jauh, karena jembatannya sudah diperbaiki. Dahulu, memang membuat was-was karena jembatannya rapuh,” kata Suriyah.
Selain itu, pihaknya mendorong agar masyarakat Randuati, lebih sejahtera melalui program ketahanan pangan.
Mengingat, mayoritas masyarakat memiliki pekerjaan sebagai petani. Maklum, tanah pertanian di desa ini, cukup luas. Lebih dari 90 hektar. Dan mayoritas memang menanam padi.
Di luar itu, adapula masyarakat yang menanam tanaman tomat dan cabai. Mereka menanam sepanjang musim. Bukan hanya musim tertentu, seperti kebanyakan petani.
Ada sekitar 40 hektar lahan yang digunakan untuk menanam dua jenis komoditi ini. Dalam setahun, bisa dipanen empat kali.
Hasilnya, dikonsumsi sendiri, dijual ke sesama warga desa atau dijual lewat pengepul.
“Memang paling banyak, ya menanam padi. Tapi ada juga yang menanam komoditi lainnya. Seperti tomat dan cabai,” beber Suriyah.
Ia menjelaskan, ada beberapa petani di desanya memilih menanam tomat atau cabai karena hasilnya lebih banyak.
Alasannya, hasil yang diperoleh menggiurkan. Dalam luas lahan sempit sebesar 25 meter persegi, tomat bisa menghasilkan 1,5 kuintal.
“Memang risikonya lebih tinggi. Namun jika untung ya lebih besar. Mungkin gangguannya ya hama,” sebutnya.
Cegah Banjir dengan Bangun SPA
Setiap kali musim penghujan datang, air kerap menggenangi jalan desa di Dusun Krajan.
Kondisi ini, sering dikeluhkan warga Desa Randuati. Sebab, jalan menjadi becek dan susah untuk dilewati.
Karena itulah, Pemerintah Desa (Pemdes) Randuati, berniat membangun Saluran Pembuabgan Air (SPA) di dusun setempat tahun 2025 ini.
Rencananya, SPA ini akan dibangun sepanjang 100 meter dengan lebar 70 meter.
Kepala Desa Randuati, Suriyah menyebut, pembangunan SPA ini bertujuan untuk mengurangi dampak banjir.
Sebab saat hujan deras, jalan pasti tergenang. Hal ini dipengaruhi, tidak adanya drainase atau selokan yang memadai di dusun ini.
"Saat ini, proses pembangunan. Agar cepat selesai, kami menyiapkan 12 pekerja untuk mengebut penggarapannya," tutur Suriyah.
SPA ini juga bermanfaat, agar masyarakat yang membuat limbah rumah tangga bisa nyaman tanpa berbau.
Karena selokan belum memadai, banyak limbah yang tidak terbuang sempurna. Sehingga, mencemari lingkungan sekitar.
"Dengan pembangunan SPA, limbah bisa teraliri ke utara. Terbuang ke sungai," tutur Suriyah.
Selain itu, pihaknya juga membangun jalan menuju Masjid Baitur Rohman di Dusun Krajan.
Jalan tersebut dibangun sepanjang 120 meter dan lebar 2,5 meter. Sebelumnya jalan ini masih berupa tanah.
"Dan jalan ini, sudah terbangun. Masyarakat tidak perlu takut becek saat hujan," bebernya. (riz/one)
Tentang Desa Randuati, Kecamatan Nguling
Jumlah Dusun: dua (Krajan dan Batuan)
Jumlah RT dan RW: RT 14, RW 7
Jumlah Penduduk: 2.005 jiwa
Luas Wilayah: 101 hektare
Program fisik 2024
- Bangun jembatan penghubung dengan Desa Kedawang
- Bangun drainase di Dusun Batuan dan Dusun Krajan
Program fisik 2025
- Bangun SPA di Dusun Krajan
- Bangun jalan menuju Masjid Baitur Rohmah