Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Normalisasi Kali Tidak Cukup, Kapasitas Sungai Rejoso Harus Ditingkatkan

Ronald Fernando • Jumat, 17 Februari 2023 | 18:11 WIB
KORBAN SUNGAI: Genangan air bah dari luapan Sungai Rejoso membanjiri perkampungan rumah warga Desa Rejoso Lor pada Senin (13/2). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
KORBAN SUNGAI: Genangan air bah dari luapan Sungai Rejoso membanjiri perkampungan rumah warga Desa Rejoso Lor pada Senin (13/2). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
PASURUAN, Radar Bromo – Luapan Sungai Rejoso sering memicu banjir. Setiap musim hujan, sungai tersebut menjadi momok bagi masyarakat di Kecamatan Winongan, Grati, dan Rejoso. Banjir terjadi sampai berhari-hari.

Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang Pekalen Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur Anton Dharma mengatakan, Sungai Rejoso memang mengirimkan air ke permukiman setiap tahun. Dia tidak menutup mata akan hal itu. Namun, upaya-upaya mengatasinya telah dilakukan.

"Kami terus berupaya melakukan normalisasi. Tahun ini kami juga telah mengajukan normalisasi," ungkapnya.

Namun, lanjut Anton, untuk membuat Sungai Rejoso tidak lagi memicu banjir, normalisasi saja tidak cukup. Harus dilakukan juga peningkatan daya tampung sungai. Sebab, saat ini, sungai yang ada di wilayah timur Kabupaten Pasuruan itu hanya berdaya tampung sekitar 200 meter kubik per detik.

"Daya tampung itu adalah hasil penelitian beberapa kampus. Seperti ITS dan Brawijaya," katanya.

Buktinya, saat hujan pada 10 Februari, hujan terjadi dengan intensitas tinggi dan cukup lama. Baik di hilir maupun di hulu. Akibatnya, debit air sungai mencapai 300–400 meter kubik per detik.

"Itu yang membuat banjir. Jadi harus dilakukan juga peningkatan kapasitas penampungan air," terangnya.

Photo
Photo
SUDAH DINORMALISASI: Sungai Rejoso yang seringkali meluap. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Dinas SDA telah menyiapkan rencana normalisasi dan peningkatan kapasitas sungai. Direncanakan, ada normalisasi sepanjang kurang lebih 40 kilometer. Tapi, rencana tersebut dilakukan bertahap karena membutuhkan biaya yang tidak kecil.

”Anggarannya banyak yang pasti. Dan ini akan dilakukan dengan anak-anak sungainya,” tandasnya.

Anton menyebutkan, normalisasi juga masih akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya, banyak rumah di sebelah kanan-kiri sungai. Misalnya, di area Kedawung. Kondisi itu menyebabkan alat berat tidak bisa masuk untuk mengeruk sungai.

"Banyak kendalanya. Padahal, kan dalam aturan, kanan-kiri sungai termasuk tanah SDA," tandasnya. (sid/far) Editor : Ronald Fernando
#banjir rejoso #sungai rejoso