Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang Pekalen Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur Anton Dharma mengatakan, Sungai Rejoso memang mengirimkan air ke permukiman setiap tahun. Dia tidak menutup mata akan hal itu. Namun, upaya-upaya mengatasinya telah dilakukan.
"Kami terus berupaya melakukan normalisasi. Tahun ini kami juga telah mengajukan normalisasi," ungkapnya.
Namun, lanjut Anton, untuk membuat Sungai Rejoso tidak lagi memicu banjir, normalisasi saja tidak cukup. Harus dilakukan juga peningkatan daya tampung sungai. Sebab, saat ini, sungai yang ada di wilayah timur Kabupaten Pasuruan itu hanya berdaya tampung sekitar 200 meter kubik per detik.
"Daya tampung itu adalah hasil penelitian beberapa kampus. Seperti ITS dan Brawijaya," katanya.
Buktinya, saat hujan pada 10 Februari, hujan terjadi dengan intensitas tinggi dan cukup lama. Baik di hilir maupun di hulu. Akibatnya, debit air sungai mencapai 300–400 meter kubik per detik.
"Itu yang membuat banjir. Jadi harus dilakukan juga peningkatan kapasitas penampungan air," terangnya.
Dinas SDA telah menyiapkan rencana normalisasi dan peningkatan kapasitas sungai. Direncanakan, ada normalisasi sepanjang kurang lebih 40 kilometer. Tapi, rencana tersebut dilakukan bertahap karena membutuhkan biaya yang tidak kecil.
”Anggarannya banyak yang pasti. Dan ini akan dilakukan dengan anak-anak sungainya,” tandasnya.
Anton menyebutkan, normalisasi juga masih akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya, banyak rumah di sebelah kanan-kiri sungai. Misalnya, di area Kedawung. Kondisi itu menyebabkan alat berat tidak bisa masuk untuk mengeruk sungai.
"Banyak kendalanya. Padahal, kan dalam aturan, kanan-kiri sungai termasuk tanah SDA," tandasnya. (sid/far) Editor : Ronald Fernando