Salah satunya seperti yang dirasakan Wantoro. Petani asal Desa Podokoyo ini mengaku, tanaman kentang miliknya tak tersisa. Ini terjadi sejak cuaca tidak menentu. Kadang panas, kadang tiba-tiba hujan turun dengan intensitas cukup tinggi.
"Tanaman kentang punya saya mati semua. Tak tersisa sama sekali," katanya.
Wantoro sendiri menanam kentang di lahan sekitar 1 hektare. Dan semua tanaman kentang miliknya mati di lahan itu. Memang, tak langsung semua kentang mati. Tetapi, perlahan hingga tak ada sama sekali.
"Awalnya tanaman yang di pinggiran. Kemudian merambat ke tengah dan mati semua," ujarnya.
Akibatnya, ia harus menelan kerugian cukup besar. Yaitu, sekitar Rp 10 juta. Biaya itu dia gunakan mulai dari pembibitan hingga penanaman.
Saat ini, Wantoro membiarkan lahannya kosong. Sebab, cuaca masih tidak menentu. Setelah cuaca kembali bersahabat, baru Wantoro akan bertanam lagi.
"Nunggu cuaca bersahabat dulu. Kalau dipaksakan takut rugi lagi," tuturnya.
Pada bulan-bulan ini, sebenarnya merupakan musim tanam kedua kentang pada tahun ini. Tetapi, banyak yang menunda tanam. Sebab, banyak tanaman kentang milik petani lain yang mati.
Singgih misalnya, petani asal Desa Ngadiwono. Ia pun merugi, karena tanaman kentangnya mati. Namun,ia tidak menyebut berapa jumlah luasan lahan yang mati.
"Iya ada yang mati. Cuacanya tidak bagus," katanya.
Pada musim tanam kedua ini, memang banyak petani mulai menanam lagi. Namun, ada juga yang baru panen. Mereka yang baru panen ini adalah petani yang musim tanam pertama terlambat menanam. Sehingga panen baru bisa dilakukan pada akhir musim.
Namun, meskipun didera cuaca yang tidak bagus menurut Singgih, dirinya tetap bersyukur. Mengingat, harga kentang saat ini stabil. Dengan demikian, petani tidak terlalu rugi banyak.
"Harga jual kentang stabil. Jadi tidak rugi-rugi amat kalau ada yang tersisa," tandasnya. (sid/hn) Editor : Ronald Fernando