alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Dewan Minta Kaji Ulang Penutupan Pasar Hewan di Kabupaten Pasuruan

BANGIL, Radar Bromo-Penutupan pasar hewan di Kabupaten Pasuruan imbas merebaknya wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) pada ternak masih jadi polemik. DPRD setempat pun minta pemkab mengkaji lagi penutupan pasar hewan itu.

Sebab, penutupan tersebut justru memunculkan masalah baru. Salah satunya, pedagang sapi akhirnya berjualan di tepian jalan pasar. “Mereka tidak masuk. Karena memang ada larangan. Tapi efeknya, membuat tepian jalan dekat pasar dipenuhi pedagang dan ternaknya,” kata Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, H. Fauzi.

Politisi dari F-Gerindra ini mengaku, banyak memperoleh aduan dari para pedagang sapi, maupun kambing. Mereka meminta solusi agar tetap bisa berjualan. Kalau memang pasar hewan ditutup, harus ada tempat bisa berdagang.

“Bisnis jual beli sapi itu kan memang pencaharian mereka. Sementara, efek penyakit mulut dan kuku ini membuat Pemkab Pasuruan mengeluarkan kebijakan menutup pasar hewan. Lalu mereka harus jualan di mana?” katanya.

Saat pedagang kambing, maupun sapi akhirnya berjualan di tepi jalan, hal itu ternyata juga dibiarkan. “Lalu apa manfaatnya penutupan pasar hewan kalau akhirnya mereka berjualan di tepi jalan. Akhirnya juga membuat macet jalanan dan tak nyaman,” imbuhnya.

Karena itulah, ia minta ada solusi dari pemerintah daerah. Evaluasi terhadap kebijakan penutupan pasar hewan perlu dilakukan. Sosialisasi juga perlu digencarkan.

Beberapa solusi bisa dilakukan. Misalnya, mengarantina ternak yang terinfeksi PMK.  Atau menyembelihnya untuk kemudian dijual. Jika memang hewan tersebut tidak membahayakan manusia.

BANGIL, Radar Bromo-Penutupan pasar hewan di Kabupaten Pasuruan imbas merebaknya wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) pada ternak masih jadi polemik. DPRD setempat pun minta pemkab mengkaji lagi penutupan pasar hewan itu.

Sebab, penutupan tersebut justru memunculkan masalah baru. Salah satunya, pedagang sapi akhirnya berjualan di tepian jalan pasar. “Mereka tidak masuk. Karena memang ada larangan. Tapi efeknya, membuat tepian jalan dekat pasar dipenuhi pedagang dan ternaknya,” kata Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, H. Fauzi.

Politisi dari F-Gerindra ini mengaku, banyak memperoleh aduan dari para pedagang sapi, maupun kambing. Mereka meminta solusi agar tetap bisa berjualan. Kalau memang pasar hewan ditutup, harus ada tempat bisa berdagang.

“Bisnis jual beli sapi itu kan memang pencaharian mereka. Sementara, efek penyakit mulut dan kuku ini membuat Pemkab Pasuruan mengeluarkan kebijakan menutup pasar hewan. Lalu mereka harus jualan di mana?” katanya.

Saat pedagang kambing, maupun sapi akhirnya berjualan di tepi jalan, hal itu ternyata juga dibiarkan. “Lalu apa manfaatnya penutupan pasar hewan kalau akhirnya mereka berjualan di tepi jalan. Akhirnya juga membuat macet jalanan dan tak nyaman,” imbuhnya.

Karena itulah, ia minta ada solusi dari pemerintah daerah. Evaluasi terhadap kebijakan penutupan pasar hewan perlu dilakukan. Sosialisasi juga perlu digencarkan.

Beberapa solusi bisa dilakukan. Misalnya, mengarantina ternak yang terinfeksi PMK.  Atau menyembelihnya untuk kemudian dijual. Jika memang hewan tersebut tidak membahayakan manusia.

MOST READ

BERITA TERBARU

/