alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Air Meluber-Sampah Ikut Terbawa saat Banjir Rob Landa Kota Pasuruan

PANGGUNGREJO, Radar Bromo– Fenomena super blood moon yang terjadi Rabu (26/5) malam berdampak luas. Air laut mengalami pasang. Meski tak begitu signifikan. Para nelayan terpaksa libur mencari ikan. Di Kota Pasuruan, sebagian kawasan terdampak banjir rob.

Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 10.00 kemarin (27/5). Seorang nelayan, Samian, mengakui air pasang kali ini lebih tinggi dibanding kondisi normal. Ketinggian air yang menggenangi jalan sekitar 10 sentimeter. “Meluber sampai ke jalan,” ungkap Samian.

Akibatnya, tidak hanya jalanan di kawasan pelabuhan yang tergenang air laut. Sampah-sampah yang berasal dari laut juga berserakan di jalan. karena terbawa air. Samian menyebut banjir rob kali ini terjadi karena diakibatkan fenomena gerhana bulan total.

Nelayan lain, Munir mengaku banjir rob itu memang sudah biasa terjadi. Umumnya pada saat bulan purnama. “Rutin kalau tanggal 15 jawa memang airnya tinggi,” katanya. Namun kali ini gelombang pasang lebih tinggi. Munir juga menduga hal itu diakibatkan gerhana bulan total. Dia memilih tak melaut kemarin.

“Paling cuma hari ini saja, karena anginnya kencang, gelombang tinggi. Jadi libur dulu,” bebernya.

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto membenarkan jika fenomena gerhana bulan memang memiliki beberapa dampak terhadap perubahan kondisi alam. Salah satunya gelombang air laut yang pasang. Hal itu dikarenakan saat gerhana bulan total, bulan berada di posisi dekat dengan bumi.

“Nah saat lintasan bulan berada di jarak terdekat dengan bumi, gelombang laut maksimal,” kata Suwarto.

MASUK: Air laut di pesisir Panggungrejo. Saat banjir rob terjadi, air masuk pemukiman. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Menurutnya, naiknya gelombang laut memang sudah biasa terjadi. Suwarto juga menyebut kondisi itu bahkan bisa terjadi saat bulan purnama. Akan tetapi ketinggian gelombang tidak begitu tinggi. “Bedanya air pasang itu lebih tinggi pada saat fenomena tadi malam dibandingkan bulan purnama,” tambahnya.

Suwarto juga memastikan banjir rob yang terjadi dikawasan pesisir tidak berlangsung lama. Diperkirakan hanya sampai beberapa hari saja. “Efek dari gerhana bulan ini periodik, hanya beberapa hari saja. Tidak ada potensi tsunami. Karena kenaikan gelombang lautnya juga tidak signifikan. Tidak sampai 10 meter sehingga tidak berpotensi menimbulkan tsunami,” beber dia. (tom/fun)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo– Fenomena super blood moon yang terjadi Rabu (26/5) malam berdampak luas. Air laut mengalami pasang. Meski tak begitu signifikan. Para nelayan terpaksa libur mencari ikan. Di Kota Pasuruan, sebagian kawasan terdampak banjir rob.

Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 10.00 kemarin (27/5). Seorang nelayan, Samian, mengakui air pasang kali ini lebih tinggi dibanding kondisi normal. Ketinggian air yang menggenangi jalan sekitar 10 sentimeter. “Meluber sampai ke jalan,” ungkap Samian.

Akibatnya, tidak hanya jalanan di kawasan pelabuhan yang tergenang air laut. Sampah-sampah yang berasal dari laut juga berserakan di jalan. karena terbawa air. Samian menyebut banjir rob kali ini terjadi karena diakibatkan fenomena gerhana bulan total.

Nelayan lain, Munir mengaku banjir rob itu memang sudah biasa terjadi. Umumnya pada saat bulan purnama. “Rutin kalau tanggal 15 jawa memang airnya tinggi,” katanya. Namun kali ini gelombang pasang lebih tinggi. Munir juga menduga hal itu diakibatkan gerhana bulan total. Dia memilih tak melaut kemarin.

“Paling cuma hari ini saja, karena anginnya kencang, gelombang tinggi. Jadi libur dulu,” bebernya.

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto membenarkan jika fenomena gerhana bulan memang memiliki beberapa dampak terhadap perubahan kondisi alam. Salah satunya gelombang air laut yang pasang. Hal itu dikarenakan saat gerhana bulan total, bulan berada di posisi dekat dengan bumi.

“Nah saat lintasan bulan berada di jarak terdekat dengan bumi, gelombang laut maksimal,” kata Suwarto.

MASUK: Air laut di pesisir Panggungrejo. Saat banjir rob terjadi, air masuk pemukiman. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Menurutnya, naiknya gelombang laut memang sudah biasa terjadi. Suwarto juga menyebut kondisi itu bahkan bisa terjadi saat bulan purnama. Akan tetapi ketinggian gelombang tidak begitu tinggi. “Bedanya air pasang itu lebih tinggi pada saat fenomena tadi malam dibandingkan bulan purnama,” tambahnya.

Suwarto juga memastikan banjir rob yang terjadi dikawasan pesisir tidak berlangsung lama. Diperkirakan hanya sampai beberapa hari saja. “Efek dari gerhana bulan ini periodik, hanya beberapa hari saja. Tidak ada potensi tsunami. Karena kenaikan gelombang lautnya juga tidak signifikan. Tidak sampai 10 meter sehingga tidak berpotensi menimbulkan tsunami,” beber dia. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/