alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Wilayah Kekeringan di Kab Pasuruan Menyempit, Tersisa 3 Kecamatan

BANGIL, Radar Bromo – Musim hujan memang mulai datang. Namun, sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan ternyata masih mengalami kekeringan. BPBD Kabupaten Pasuruan terus menyisir desa-desa yang warganya mengalami kekurangan air. Jumlahnya jauh menurun.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Ridwan Haris menyatakan, status kedaruratan bencana kekeringan sejatinya sudah dicabut awal Oktober lalu. Pencabutan dilakukan seiring dengan masuknya peralihan musim.

Namun, ternyata informasi kekeringan masih masuk ke BPBD. Karena itulah masih perlu dilakukan asesmen dan evaluasi. Tujuannya, memastikan debit air dalam sumber-sumber air di Kabupaten Pasuruan. ”Pengiriman air bisa dilakukan jika benar-benar perlu,” beber Haris.

Haris menambahkan, penyaluran air bersih memang sempat dihentikan. Penghentian itu diberlakukan seiring dengan kebijakan pencabutan status kedaruratan. Namun, itu tidak berarti pengiriman air bersih tidak dilakukan lagi. BPBD bakal tetap menyalurkan air bersih kalau mendesak dan urgen. ”Karena itulah, kami evaluasi lagi,” ujarnya.

Saat ini sudah masuk musim hujan. Namun, guyurannya belum merata. Terlebih lagi, intensitasnya masih rendah. Penyaluran air bersih juga tidak hanya dilakukan saat terjadi kekeringan, tetapi juga ketika dibutuhkan. ”Seperti kalau ada banjir,” tambahnya.

BPBD mencatat, jumlah kasus kekeringan memang turun. Hanya ada sembilan desa yang mengalami kekeringan. Lokasinya tersebar di tiga kecamatan. Yaitu. Kecamatan Lumbang, Lekok, dan Kecamatan Pasrepan.

Di Kecamatan Lumbang, krisis air bersih terjadi di Watulumbung, Karangjati, dan Cukurguling. Di Kecamatan Lekok, ada Desa Balunganyar, Wates, Semedusari, dan Pasinan. Sementara di Kecamatan Pasrepan, kekeringan terjadi di Mangguan dan Ngantungan.

BANGIL, Radar Bromo – Musim hujan memang mulai datang. Namun, sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan ternyata masih mengalami kekeringan. BPBD Kabupaten Pasuruan terus menyisir desa-desa yang warganya mengalami kekurangan air. Jumlahnya jauh menurun.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Ridwan Haris menyatakan, status kedaruratan bencana kekeringan sejatinya sudah dicabut awal Oktober lalu. Pencabutan dilakukan seiring dengan masuknya peralihan musim.

Namun, ternyata informasi kekeringan masih masuk ke BPBD. Karena itulah masih perlu dilakukan asesmen dan evaluasi. Tujuannya, memastikan debit air dalam sumber-sumber air di Kabupaten Pasuruan. ”Pengiriman air bisa dilakukan jika benar-benar perlu,” beber Haris.

Haris menambahkan, penyaluran air bersih memang sempat dihentikan. Penghentian itu diberlakukan seiring dengan kebijakan pencabutan status kedaruratan. Namun, itu tidak berarti pengiriman air bersih tidak dilakukan lagi. BPBD bakal tetap menyalurkan air bersih kalau mendesak dan urgen. ”Karena itulah, kami evaluasi lagi,” ujarnya.

Saat ini sudah masuk musim hujan. Namun, guyurannya belum merata. Terlebih lagi, intensitasnya masih rendah. Penyaluran air bersih juga tidak hanya dilakukan saat terjadi kekeringan, tetapi juga ketika dibutuhkan. ”Seperti kalau ada banjir,” tambahnya.

BPBD mencatat, jumlah kasus kekeringan memang turun. Hanya ada sembilan desa yang mengalami kekeringan. Lokasinya tersebar di tiga kecamatan. Yaitu. Kecamatan Lumbang, Lekok, dan Kecamatan Pasrepan.

Di Kecamatan Lumbang, krisis air bersih terjadi di Watulumbung, Karangjati, dan Cukurguling. Di Kecamatan Lekok, ada Desa Balunganyar, Wates, Semedusari, dan Pasinan. Sementara di Kecamatan Pasrepan, kekeringan terjadi di Mangguan dan Ngantungan.

MOST READ

BERITA TERBARU

/