alexametrics
25 C
Probolinggo
Tuesday, 5 July 2022

PPKM Ada yang Kesulitan, Tapi Ada Juga Yang Senang Mobilitas Dibatasi

PASURUAN, Radar Bromo – Kebijakan pembatasan mobilitas yang diambil pemerintah di tengah pandemi Covid-19, memunculkan respons beragam dari masyarakat. Ada yang biasa-biasa saja, merasa jenuh, bahkan ada yang senang.

Hal itu diketahui dari hasil survei perilaku masyarakat pada masa pandemi Covid-19. Survei ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan. Tercatat ada 792 responden yang mengikuti survei online ini.

Kepala BPS Kota Pasuruan Sri Kadarwati mengatakan, responden didominasi kaum Hawa. Sebanyak 53,3 persen. Sisanya responden laki-laki. Ternyata, kejenuhan terhadap adanya pembatasan mobilitas lebih banyak dirasakan responden laki-laki. “Responden laki-laki cenderung merasa sangat jenuh dibandingkan responden perempuan,” ujarnya.

Ada 30,81 persen responden yang mengaku jenuh. Sedangkan, 37,5 persen responden mengaku biasa-biasa saja dalam menyikapi pembatasan mobilitas.

Adakah yang merasa senang? Ada. Namun, persentasenya lebih sedikit. Mereka mendukung upaya pemerintah melakukan pembatasan mobilitas untuk segera mentas dari bayang-bayang korona. “Sebesar 3,28 persen dari seluruh responden mengaku senang,” kata Wati.

Bagaimana cara mereka menyikapi situasi pembatasan mobilitas, sebagian besar dengan memperbanyak ibadah. Ada yang lebih sering berkomunikasi dengan keluarga atau teman melalui telepon maupun media sosial, melakukan hobi, dan berolahraga. Ada juga yang memilih mengurangi akses informasi yang berkaitan dengan Covid-19.

Di sisi lain, Wati menjelaskan, beberapa kebutuhan utama masyarakat di tengah pandemi. Seperti bahan pokok, obat-obatan dan vitamin, serta alat kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Masyarakat berharap mendapat kemudahan untuk mengakses empat jenis kebutuhan tersebut. Dari empat kebutuhan itu, masyarakat cenderung kesulitan mendapatkan alat kesehatan.

“Dari empat jenis kebutuhan utama pada masa pandemi, responden survei cenderung lebih sulit memenuhi kebutuhan alat kesehatan (alkes) yang menunjang. Seperti oximeter, tabung oksigen, nebulizer, dan lain-lain,” jelas Wati.

Sedangkan kebutuhan terhadap obat-obatan dan vitamin, masih cukup mudah dipenuhi. Sebanyak 54,84 persen responden mengaku mudah mendapatkannya. Sebagian juga masih merasa kesulitan memenuhi kebutuhan bahan pokok dan mendapat layanan kesehatan.

“Kemudahan mengakses kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan masih di bawah 50 persen,” bebernya. (tom/rud)

PASURUAN, Radar Bromo – Kebijakan pembatasan mobilitas yang diambil pemerintah di tengah pandemi Covid-19, memunculkan respons beragam dari masyarakat. Ada yang biasa-biasa saja, merasa jenuh, bahkan ada yang senang.

Hal itu diketahui dari hasil survei perilaku masyarakat pada masa pandemi Covid-19. Survei ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan. Tercatat ada 792 responden yang mengikuti survei online ini.

Kepala BPS Kota Pasuruan Sri Kadarwati mengatakan, responden didominasi kaum Hawa. Sebanyak 53,3 persen. Sisanya responden laki-laki. Ternyata, kejenuhan terhadap adanya pembatasan mobilitas lebih banyak dirasakan responden laki-laki. “Responden laki-laki cenderung merasa sangat jenuh dibandingkan responden perempuan,” ujarnya.

Ada 30,81 persen responden yang mengaku jenuh. Sedangkan, 37,5 persen responden mengaku biasa-biasa saja dalam menyikapi pembatasan mobilitas.

Adakah yang merasa senang? Ada. Namun, persentasenya lebih sedikit. Mereka mendukung upaya pemerintah melakukan pembatasan mobilitas untuk segera mentas dari bayang-bayang korona. “Sebesar 3,28 persen dari seluruh responden mengaku senang,” kata Wati.

Bagaimana cara mereka menyikapi situasi pembatasan mobilitas, sebagian besar dengan memperbanyak ibadah. Ada yang lebih sering berkomunikasi dengan keluarga atau teman melalui telepon maupun media sosial, melakukan hobi, dan berolahraga. Ada juga yang memilih mengurangi akses informasi yang berkaitan dengan Covid-19.

Di sisi lain, Wati menjelaskan, beberapa kebutuhan utama masyarakat di tengah pandemi. Seperti bahan pokok, obat-obatan dan vitamin, serta alat kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Masyarakat berharap mendapat kemudahan untuk mengakses empat jenis kebutuhan tersebut. Dari empat kebutuhan itu, masyarakat cenderung kesulitan mendapatkan alat kesehatan.

“Dari empat jenis kebutuhan utama pada masa pandemi, responden survei cenderung lebih sulit memenuhi kebutuhan alat kesehatan (alkes) yang menunjang. Seperti oximeter, tabung oksigen, nebulizer, dan lain-lain,” jelas Wati.

Sedangkan kebutuhan terhadap obat-obatan dan vitamin, masih cukup mudah dipenuhi. Sebanyak 54,84 persen responden mengaku mudah mendapatkannya. Sebagian juga masih merasa kesulitan memenuhi kebutuhan bahan pokok dan mendapat layanan kesehatan.

“Kemudahan mengakses kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan masih di bawah 50 persen,” bebernya. (tom/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/