alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

4 Proyek Rehab Jalan Nasional di Pasuruan-Probolinggo Dilanjut Tahun Depan

PASURUAN, Radar Bromo – Pandemi Coronavirus Disease (Covid) 19 juga berdampak pada proyek perbaikan jalan nasional. Anggaran perbaikan dan pemeliharaan jalan nasional wilayah Gempol hingga Probolinggo dikepras.

Lantaran itu, satu proyek jalan nasional harus digarap multiyears. Dengan begitu, proyek pengerjaan jalan tak rampung keseluruhan tahun ini. Atau dilanjutkan dan untuk dirampungkan awal tahun 2021 mendatang.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII wilayah Gempol hingga Probilinggo Rudy Napitupulu mengungkapkan, awalnya BBPJN VIII memperoleh anggaran Rp 34 M tahun ini dari APBN.

Anggaran miliaran rupiah itu diperuntukkan pemeliharaan jalan nasional sepanjang 119 kilometer. Mulai Gempol hingga Probolinggo.

Selain itu, BBPJN juga melakukan rehab berat pada empat ruas jalan. Yaitu, Jalan Raya Gempol sampai batas kota Bangil, Kabupaten Pasuruan sepanjang 400 meter. Penanganannya dengan mengganti aspal lama menggunakan beton.

Lalu Jalan Kartini, Bangil sepanjang 400 meter. Ruas Jalan ini ditangani dengan mengganti aspal lama menggunakan aspal karet.

Kemudian Jalan Prof Hamka Probolinggo sepanjang 2,8 kilometer dengan mengganti aspal lama dengan beton.

Serta Jalan Laweyan Sukapura sepanjang 400 meter dengan aspal plastik. Empat proyek fisik ini ditarget rampung pada Oktober mendatang. Namun, rencana itu berubah usai ada refocusing anggaran penanganan Covid-19.

“Namun, ternyata anggaran kami dipotong jadi Rp 26,5 miliar. Otomatis empat proyek ini tidak akan diselesaikan seluruhnya tahun ini. Kami targetkan hanya rampung 80 persen saja,” ungkapnya.

Pria asal Kota Medan, Sumut, ini menjelaskan, kondisi itu membuat proyek rehab fisik jalan nasional ini tidak diselesaikan tahun ini atau digarap multiyears. Proyek itu ditargetkan rampung pada Februari mendatang.

Sehingga, sisa pengerjaan sebanyak 20 persen nantinya ikut pada awal tahun depan. Namun, jika ternyata pelaksana berhasil menyelesaikan proyek fisik hingga 90 persen, pembayaran untuk 20 persennya tetap dibayarkan pada 2021.

“Kalau di lapangan, riilnya sudah 30 persen. Adanya Covid membuat anggaran kami dipotong. Jadi pembayaran untuk 20 persennya baru bisa dilakukan pada tahun depan,” sebut Rudy. (riz/mie)

PASURUAN, Radar Bromo – Pandemi Coronavirus Disease (Covid) 19 juga berdampak pada proyek perbaikan jalan nasional. Anggaran perbaikan dan pemeliharaan jalan nasional wilayah Gempol hingga Probolinggo dikepras.

Lantaran itu, satu proyek jalan nasional harus digarap multiyears. Dengan begitu, proyek pengerjaan jalan tak rampung keseluruhan tahun ini. Atau dilanjutkan dan untuk dirampungkan awal tahun 2021 mendatang.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII wilayah Gempol hingga Probilinggo Rudy Napitupulu mengungkapkan, awalnya BBPJN VIII memperoleh anggaran Rp 34 M tahun ini dari APBN.

Anggaran miliaran rupiah itu diperuntukkan pemeliharaan jalan nasional sepanjang 119 kilometer. Mulai Gempol hingga Probolinggo.

Selain itu, BBPJN juga melakukan rehab berat pada empat ruas jalan. Yaitu, Jalan Raya Gempol sampai batas kota Bangil, Kabupaten Pasuruan sepanjang 400 meter. Penanganannya dengan mengganti aspal lama menggunakan beton.

Lalu Jalan Kartini, Bangil sepanjang 400 meter. Ruas Jalan ini ditangani dengan mengganti aspal lama menggunakan aspal karet.

Kemudian Jalan Prof Hamka Probolinggo sepanjang 2,8 kilometer dengan mengganti aspal lama dengan beton.

Serta Jalan Laweyan Sukapura sepanjang 400 meter dengan aspal plastik. Empat proyek fisik ini ditarget rampung pada Oktober mendatang. Namun, rencana itu berubah usai ada refocusing anggaran penanganan Covid-19.

“Namun, ternyata anggaran kami dipotong jadi Rp 26,5 miliar. Otomatis empat proyek ini tidak akan diselesaikan seluruhnya tahun ini. Kami targetkan hanya rampung 80 persen saja,” ungkapnya.

Pria asal Kota Medan, Sumut, ini menjelaskan, kondisi itu membuat proyek rehab fisik jalan nasional ini tidak diselesaikan tahun ini atau digarap multiyears. Proyek itu ditargetkan rampung pada Februari mendatang.

Sehingga, sisa pengerjaan sebanyak 20 persen nantinya ikut pada awal tahun depan. Namun, jika ternyata pelaksana berhasil menyelesaikan proyek fisik hingga 90 persen, pembayaran untuk 20 persennya tetap dibayarkan pada 2021.

“Kalau di lapangan, riilnya sudah 30 persen. Adanya Covid membuat anggaran kami dipotong. Jadi pembayaran untuk 20 persennya baru bisa dilakukan pada tahun depan,” sebut Rudy. (riz/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/