alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Warga Lekok Sita Backhoe, Protes Pembangunan Sekolah Marinir

LEKOK, Radar Bromo – Suasana Desa Semedusari, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, sedikit memanas, Selasa (27/4) pagi. Ratusan warga dari sejumlah desa di Lekok menyita alat berat backhoe milik TNI AL. Warga tidak terima ada kegiatan pembangunan di areal lahan pertanian.

Awalnya, diketahui ada sebuah backhoe di lahan sebelah timur lapangan penerbangan milik Kolatmar TNI AL. Saat itu juga, menyebar informasi bahwa pembangunan sekolah bintara infanteri marinir di tempat itu akan dimulai.

Warga pun langsung bereaksi. Mereka tidak terima aktivitas pembangunan dilakukan dekat lahan pertanian. Lalu, sekitar 300 warga ramai-ramai datang ke Semedusari. Mereka dari Desa Pasinan, Semedusari, dan Wates.

Mereka datang ke lahan tempat backhoe disiapkan. Warga lantas membawa backhoe ini menjauh dari lokasi hingga ke pertigaan Dusun Semendung Timur, Desa Pasinan. Di pertigaan itu, warga pun berkumpul.

SEMPAT BERSITEGANG: Warga Semedusari saat berkumpul dan melakukan protes dan sempat terjadi ketegangan bahkan cekcok. Inset: Lahan untuk sekolah bintara yang diprotes warga. (Foto: M Zubaidillah-Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejam kemudian, 20 anggota marinir dari TNI AL tiba di lokasi tersebut. Adu mulut terjadi antara warga dan marinir. Salah satu marinir berteriak dan menanyakan alasan warga menyita backhoe tersebut. Padahal, backhoe itu digunakan untuk membangun sekolah marinir yang merupakan program dari pemerintah pusat.

“Kenapa main sita. Ini program dari pusat, Pak. Kalau bapak-bapak menyita begini, urusannya sudah hukum. Sebab, ini proyek resmi. Mau bapak-bapak dilaporkan secara hukum,” ungkap salah seorang anggota marinir.

Tak mau kalah, seorang warga minta marinir itu menunjukkan surat resmi tentang program tersebut. Namun, marinir membalas dan menantang warga untuk menunjukkan surat kepemilikan lahan di lokasi tersebut. Sebab, jika memang ada bukti surat kepemilikan, tentu TNI AL tidak akan membangun di lokasi tersebut.

“Siapa di sini koordinatornya. Ayo yang paham masalah hukum, ikut kami ke kantor. Jangan semua, cukup perwakilan saja. Jangan beraninya keroyokan seperti ini,” sebut anggota marinir lainnya.

Namun, warga kukuh aksi ini spontanitas dan tidak ada koordinatornya. Sempat cekcok dan adu mulut selama 15 menit, massa akhirnya membubarkan diri. Backhoe yang sempat disita, dikembalikan ke lokasi semula di Desa Semedusari. Lalu, beberapa marinir TNI AL berjaga mengamankan lokasi.

Sumber internal dari Kolatmar TNI AL menjelaskan, TNI AL sebenarnya sudah menyosialisasikan rencana ini sejak lama. Bahkan, plakat pembangunan sekolah bintara infanteri marinir sudah dipasang sejak setahun terakhir.

Di sisi lain, lokasi yang dibangun merupakan lahan milik TNI AL. Dan pembangunan sekolah itu merupakan program dari pemerintah pusat. Karena itu, pihaknya tidak memahami tindakan warga tersebut.

“Sudah disosialisasikan sejak lama kok, Mas. Bahkan, plakatnya sudah dipasang sejak kami melakukan penghijauan di sekitar lokasi lahan pembangunan pada tahun 2020,” sebut salah satu marinir TNI AL yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan.

Menurut pengamatan Jawa Pos Radar Bromo, lokasi rencana pembangunan itu memang ada di tengah lahan pertanian. Namun, cukup jauh dari lahan milik warga. Di lokasi itu, sudah dipasang plakat atau papan pemberitahuan pembangunan sekolah bintara infanteri marinir.

Muin, 25, seorang warga Pasinan menyebut aksi ini dilakukan spontan. Warga ingin melindungi tempat mereka mencari makan. Sebab, sekitar 1 kilometer dari areal lapangan penerbangan itu ada lebih dari 10 hektare lahan pertanian milik warga. Dikhawatirkan, pembangunan itu akan meluas sampai ke lahan pertanian warga.

“Spontanitas saja ini. Tidak ada koordinatornya. Sebab, warga khawatir. Takutnya pembangunan merembet ke lahan pertanian di sekitar lahan yang dibangun. Padahal ini tempat warga untuk mencari makan,” jelasnya. (riz/hn)

LEKOK, Radar Bromo – Suasana Desa Semedusari, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, sedikit memanas, Selasa (27/4) pagi. Ratusan warga dari sejumlah desa di Lekok menyita alat berat backhoe milik TNI AL. Warga tidak terima ada kegiatan pembangunan di areal lahan pertanian.

Awalnya, diketahui ada sebuah backhoe di lahan sebelah timur lapangan penerbangan milik Kolatmar TNI AL. Saat itu juga, menyebar informasi bahwa pembangunan sekolah bintara infanteri marinir di tempat itu akan dimulai.

Warga pun langsung bereaksi. Mereka tidak terima aktivitas pembangunan dilakukan dekat lahan pertanian. Lalu, sekitar 300 warga ramai-ramai datang ke Semedusari. Mereka dari Desa Pasinan, Semedusari, dan Wates.

Mereka datang ke lahan tempat backhoe disiapkan. Warga lantas membawa backhoe ini menjauh dari lokasi hingga ke pertigaan Dusun Semendung Timur, Desa Pasinan. Di pertigaan itu, warga pun berkumpul.

SEMPAT BERSITEGANG: Warga Semedusari saat berkumpul dan melakukan protes dan sempat terjadi ketegangan bahkan cekcok. Inset: Lahan untuk sekolah bintara yang diprotes warga. (Foto: M Zubaidillah-Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejam kemudian, 20 anggota marinir dari TNI AL tiba di lokasi tersebut. Adu mulut terjadi antara warga dan marinir. Salah satu marinir berteriak dan menanyakan alasan warga menyita backhoe tersebut. Padahal, backhoe itu digunakan untuk membangun sekolah marinir yang merupakan program dari pemerintah pusat.

“Kenapa main sita. Ini program dari pusat, Pak. Kalau bapak-bapak menyita begini, urusannya sudah hukum. Sebab, ini proyek resmi. Mau bapak-bapak dilaporkan secara hukum,” ungkap salah seorang anggota marinir.

Tak mau kalah, seorang warga minta marinir itu menunjukkan surat resmi tentang program tersebut. Namun, marinir membalas dan menantang warga untuk menunjukkan surat kepemilikan lahan di lokasi tersebut. Sebab, jika memang ada bukti surat kepemilikan, tentu TNI AL tidak akan membangun di lokasi tersebut.

“Siapa di sini koordinatornya. Ayo yang paham masalah hukum, ikut kami ke kantor. Jangan semua, cukup perwakilan saja. Jangan beraninya keroyokan seperti ini,” sebut anggota marinir lainnya.

Namun, warga kukuh aksi ini spontanitas dan tidak ada koordinatornya. Sempat cekcok dan adu mulut selama 15 menit, massa akhirnya membubarkan diri. Backhoe yang sempat disita, dikembalikan ke lokasi semula di Desa Semedusari. Lalu, beberapa marinir TNI AL berjaga mengamankan lokasi.

Sumber internal dari Kolatmar TNI AL menjelaskan, TNI AL sebenarnya sudah menyosialisasikan rencana ini sejak lama. Bahkan, plakat pembangunan sekolah bintara infanteri marinir sudah dipasang sejak setahun terakhir.

Di sisi lain, lokasi yang dibangun merupakan lahan milik TNI AL. Dan pembangunan sekolah itu merupakan program dari pemerintah pusat. Karena itu, pihaknya tidak memahami tindakan warga tersebut.

“Sudah disosialisasikan sejak lama kok, Mas. Bahkan, plakatnya sudah dipasang sejak kami melakukan penghijauan di sekitar lokasi lahan pembangunan pada tahun 2020,” sebut salah satu marinir TNI AL yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan.

Menurut pengamatan Jawa Pos Radar Bromo, lokasi rencana pembangunan itu memang ada di tengah lahan pertanian. Namun, cukup jauh dari lahan milik warga. Di lokasi itu, sudah dipasang plakat atau papan pemberitahuan pembangunan sekolah bintara infanteri marinir.

Muin, 25, seorang warga Pasinan menyebut aksi ini dilakukan spontan. Warga ingin melindungi tempat mereka mencari makan. Sebab, sekitar 1 kilometer dari areal lapangan penerbangan itu ada lebih dari 10 hektare lahan pertanian milik warga. Dikhawatirkan, pembangunan itu akan meluas sampai ke lahan pertanian warga.

“Spontanitas saja ini. Tidak ada koordinatornya. Sebab, warga khawatir. Takutnya pembangunan merembet ke lahan pertanian di sekitar lahan yang dibangun. Padahal ini tempat warga untuk mencari makan,” jelasnya. (riz/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/