Ribuan Siswa Antusias Ikut Festival Dolanan untuk Lestarikan Permainan Tradisional

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Banyak cara untuk melestarikan permainan tradisional. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Ponpes Bayt Al Hikmah di Jalan Pati Unus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, selama dua hari terakhir.

Sejak Sabtu (25/1) hingga Minggu (26/1), ponpes setempat mengadakan Festival Dolanan Yok. Sejumlah permainan tradisional yang terkenal di masyarakat dilombakan dengan melibatkan ribuan pelajar pada puluhan lembaga mulai tingkat SD/hingga SMP.

Ketua Panitia Festival Dolanan Yok Abdul Karim mengungkapkan, 1.800 pelajar ambil bagian dalam kegiatan ini. Rinciannya, 1.700 pelajar dari 42 SD di Kota dan Kabupaten Pasuruan dan 100 pelajar dari 5 SMP di Jawa Timur. Serta, ada 18 permainan tradisional yang dilombakan, 14 di antaranya untuk kategori SD dan sisanya untuk SMP.

BENTENGAN: Sejumlah siswa saat bermain bentengan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Seperti bentangan, patil lele, enggrang bambu, kelereng, dan bola tembak untuk yang dimainkan khusus laki-laki. Ada pula bekel batu, lompat tali, hingga balap karung yang dimainkan khusus perempuan.

Ia menjelaskan, antusiasme peserta tahun ini sangat luar biasa. Selama dua bulan setelah pengumuman, ribuan pelajar langsung mendaftarkan diri untuk ikut festival ini. Karena itu, pihaknya pun melakukan sejumlah antisipasi dengan menerjunkan puluhan personel untuk pengamanan dan kenyamanan peserta selama bertanding.

“Ada masing-masing 10 orang untuk kategori putra dan putri yang diterjunkan dalam pengamanan. Mereka disebar agar acara berjalan dengan sukses dan aman,” ungkapnya.

Penanggung Jawab Festival Dolanan Yuk KH Muhammad Nailur Rohman menjelaskan, Festival Dolanan Yuk ini sudah memasuki tahun keempat sejak diselenggarakan pertama kali pada 2017 lalu. Ini rutin diadakan untuk memperingati harlah Ponpes Bayt Al Hikmah.

Gus Ammak –sapaan akrabnya- menyebut tema festival tahun ini adalah melestarikan permainan tradisional di era milenial. Tujuannya adalah agar anak dapat mengurangi kecanduan pada gadget. Menurutnya, lembaga SD dan SMP saat ini memiliki silabus permainan tradisional dalam kurikulum olahraga dan kesenian.

Namun, upaya ini terkadang kurang maksimal karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan untuk memainkannya. “Event yang melombakan permainan tradisional maupun kesempatan bagi anak untuk bermain ini semakin sedikit. Lahan untuk memainkan juga terbatas,” jelasnya.

“Insyaallah tahun depan kami akan ikut lagi. Kalau perlu saya akan berupaya untuk dimaksimalkan dengan menyediakan peralatan di sekolah,” terangnya. (riz/fun)