Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjaga Sabuk Hijau sebagai Benteng Pesisir Pasuruan

F
Penulis: Fuad Alyzen❯
POTENSI BAHARI: Hutan mangrove yang berada di wilayah Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Keberadaan mangrove tersebut memiliki potensi besar untuk pengembangan wisata bahari.
POTENSI BAHARI: Hutan mangrove yang berada di wilayah Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Keberadaan mangrove tersebut memiliki potensi besar untuk pengembangan wisata bahari. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

Advertisement

 

OMBAK yang menghantam pantai bukan satu-satunya ancaman bagi kawasan pesisir Pasuruan. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kondisi benteng alami pantai yang semakin membutuhkan perhatian. Hutan mangrove atau tanaman bakau yang tumbuh di sepanjang pesisir memiliki peran penting dalam menjaga daratan dari pengikisan air laut.

Di sejumlah kawasan pesisir Kabupaten dan Kota Pasuruan, keberadaan mangrove menjadi bagian dari upaya perlindungan pantai. Tanaman tersebut bukan sekadar penghijauan. Akar-akarnya membantu mengikat sedimen, memperlambat aliran air, serta mengurangi energi gelombang sebelum mencapai daratan.

Advertisement

Ketika sabuk hijau pesisir terjaga, kawasan di belakangnya memiliki perlindungan alami. Tambak, permukiman, dan aktivitas ekonomi masyarakat berpeluang lebih terlindungi dari hantaman gelombang.

Sebaliknya, ketika kawasan mangrove rusak atau berkurang, pantai kehilangan salah satu pelindung alaminya. Ombak dapat lebih mudah menghantam daratan dan mempercepat proses pengikisan di titik-titik tertentu.

Ancaman ITU relevan dengan kondisi pesisir Pasuruan yang memiliki sejumlah kawasan rawan abrasi. Di Kabupaten Pasuruan, wilayah Lekok, Nguling, Rejoso, Kraton, hingga Bangil memiliki karakteristik pantai dan tingkat kerentanan yang berbeda. di Kota Pasuruan, kawasan pesisir Panggungrejo dan sekitarnya juga membutuhkan perlindungan ekosistem pantai.

Advertisement

Persoalannya bukan hanya berapa banyak pohon bakau yang telah ditanam. Lebih penting lagi, apakah tanaman tersebut mampu tumbuh dan membentuk kawasan mangrove yang berfungsi secara ekologis.

Sebab, program penanaman mangrove tidak selalu berhasil hanya dengan menanam bibit. Kondisi gelombang, jenis tanah, karakteristik lumpur, pemilihan jenis tanaman, hingga pemeliharaan sangat menentukan tingkat keberhasilannya.

Bibit yang ditanam di lokasi dengan hantaman gelombang kuat berisiko hanyut atau rusak sebelum berkembang. Begitu pula jika jenis mangrove tidak sesuai dengan karakteristik kawasan pantai. Tanpa perawatan lanjutan, kegiatan penanaman bisa berhenti sebagai kegiatan seremonial tanpa menghasilkan benteng hijau yang kuat.

Dampak kerusakan kawasan pesisir tersebut juga dirasakan masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut. Kasat Polairud Polres Pasuruan Kota AKP Edy Suseno menjelaskan, abrasi tidak hanya mengakibatkan pengikisan daratan, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha masyarakat pesisir.

Advertisement

Artikel Terkait

Gubernur Jawa Timur Lepas 300 Kepiting-Tanam 3.000 Mangrove di Probolinggo

Gubernur Jawa Timur Lepas 300 Kepiting-Tanam 3.000 Mangrove di Probolinggo

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama musisi Kaka Slank melakukan aksi pelestarian lingkungan. Di antaranya, melepasliarkan 3

Normalisasi Sungai Petung Pasuruan Dilanjutkan 340 Meter, Jalur ke Muara Terkendala Mangrove

Normalisasi Sungai Petung Pasuruan Dilanjutkan 340 Meter, Jalur ke Muara Terkendala Mangrove

Normalisasi Sungai Petung di Kota Pasuruan segera berlanjut. Pekan depan, pengerjaan di kawasan hulu sepanjang 340 meter akan dimulai.

Abrasi Menggerus Pesisir Pasuruan, Rumah dan Tambak Terancam Hilang

Abrasi Menggerus Pesisir Pasuruan, Rumah dan Tambak Terancam Hilang

Daratan di kawasan pesisir Pasuruan yang selama ini menjadi tempat tinggal dan sumber penghidupan mulai terkikis hantaman ombak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer