Waspada, Gelombang Laut Bisa Capai 2,4 Meter, Nelayan Diimbau Tak Nekat Melaut

PASURUAN, Radar Bromo - Laut belum tentu bersahabat meski langit terlihat cerah. Nelayan di pesisir Pasuruan diminta tidak nekat melaut saat kondisi perairan berisiko. Gelombang tinggi hingga 2,4 meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan Jawa Timur, selama periode 28 Oktober hingga 1 November 2026.
Peringatan ini menjadi perhatian bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Terlebih, pada waktu yang hampir bersamaan, wilayah pesisir juga menghadapi potensi pasang maksimum air laut yang dapat memicu banjir rob.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Rendy Irawadi mengatakan, prakiraan gelombang tinggi ini dikeluarkan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya. Ketinggian gelombang di setiap wilayah perairan berbeda, tergantung pada kondisi masing-masing lokasi.
Di perairan Pasuruan, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 0,26–0,81 meter. Sementara, perairan Sidoarjo mencapai 0,25–1,01 meter. Untuk perairan Surabaya-Bangkalan, gelombang diperkirakan berkisar 0,26–1,01 meter. Kondisi lebih tinggi berpotensi terjadi di perairan lain di Jawa Timur. Gelombang di perairan Banyuwangi diprakirakan mencapai 2,44 meter pada 28 Oktober.
Rendy mengingatkan, kondisi laut dapat berubah sewaktu-waktu. Keberadaan awan cumulonimbus yang luas dan gelap juga berpotensi menambah kecepatan angin serta tinggi gelombang.
“Masyarakat, terutama nelayan dan pengguna jasa transportasi laut, diharapkan selalu memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini BMKG sebelum beraktivitas di perairan," ujarnya.
Di sisi lain, ancaman bagi masyarakat pesisir tidak hanya datang dari gelombang laut. Pasang maksimum air laut juga berpotensi memicu banjir rob di sejumlah kawasan pesisir Jawa Timur.
BMKG memperkirakan pasang maksimum di wilayah Surabaya Timur, termasuk Sidoarjo, Pasuruan, dan Madura, terjadi pada 27–28 Oktober 2026 sekitar pukul 23.00. Ketinggian pasang diperkirakan mencapai 130 sentimeter dari rata-rata muka air laut.
Kasat Polairud Polres Pasuruan Kota AKP Edy Suseno meminta masyarakat pesisir dan nelayan tidak menganggap remeh kondisi tersebut. Menurutnya, banjir rob memang menjadi fenomena alam yang terjadi setiap tahun di wilayah pesisir. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan untuk menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan.
"Masyarakat pesisir dan nelayan kami imbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob. Fenomena ini memang terjadi setiap tahun, tetapi masyarakat harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan keselamatan saat beraktivitas," ujarnya.



