alexametrics
30 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

PCR di Kota Pasuruan Masih Tunggu Izin Operasional

PASURUAN, Radar Bromo – Meski sudah memiliki mesin polymerase chain reaction (PCR), Pemkot Pasuruan masih belum bisa mengoperasikannya. Hal itu dikarenakan masih perlu mendapatkan izin operasional lebih dulu.

Koordinator Kuratif dan Tracing Gugus Tugas Covid-19 Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengatakan, izin operasional itu diajukan ke Pemprov Jawa Timur. Selasa (22/12), tim dari Pemprov sudah melakukan visitasi guna mengecek kesiapan mesin serta sarana prasarana penunjangnya.

“Dalam visitasi kemarin dicek semua kesiapannya. Ruangan yang akan digunakan dan sebagainya,” kata Kokoh.

Menurutnya, mesin PCR yang telah dibeli Pemkot sejatinya sudah siap digunakan. Pihaknya juga telah memastikan ketersediaan sarana prasarana yang diperlukan.

Seperti ruangan bertekanan negatif hingga SDM. “Setelah visitasi itu, nanti kalau sudah siap semua akan dikeluarkan izin operasional,” beber Kokoh.

Diketahui, mesin PCR itu dibeli menggunakan dana yang bersumber dari APBD 2020. Nilainya sekitar Rp 4 miliar. Rinciannya, untuk pengadaan alat senilai Rp 475 juta, mesin ekstraksi Rp 325 juta, serta 1.000 unit reagen pemeriksaan sampel senilai Rp 1,8 miliar.

Di samping itu, pemkot juga menyediakan ruangan khusus di RSUD dr R Soedarsono sebagai tempat alat PCR. Karenanya, diperlukan renovasi ruangan bertekanan negatif. Anggarannya senilai Rp 1,4 miliar. (tom/mie)

PASURUAN, Radar Bromo – Meski sudah memiliki mesin polymerase chain reaction (PCR), Pemkot Pasuruan masih belum bisa mengoperasikannya. Hal itu dikarenakan masih perlu mendapatkan izin operasional lebih dulu.

Koordinator Kuratif dan Tracing Gugus Tugas Covid-19 Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengatakan, izin operasional itu diajukan ke Pemprov Jawa Timur. Selasa (22/12), tim dari Pemprov sudah melakukan visitasi guna mengecek kesiapan mesin serta sarana prasarana penunjangnya.

“Dalam visitasi kemarin dicek semua kesiapannya. Ruangan yang akan digunakan dan sebagainya,” kata Kokoh.

Menurutnya, mesin PCR yang telah dibeli Pemkot sejatinya sudah siap digunakan. Pihaknya juga telah memastikan ketersediaan sarana prasarana yang diperlukan.

Seperti ruangan bertekanan negatif hingga SDM. “Setelah visitasi itu, nanti kalau sudah siap semua akan dikeluarkan izin operasional,” beber Kokoh.

Diketahui, mesin PCR itu dibeli menggunakan dana yang bersumber dari APBD 2020. Nilainya sekitar Rp 4 miliar. Rinciannya, untuk pengadaan alat senilai Rp 475 juta, mesin ekstraksi Rp 325 juta, serta 1.000 unit reagen pemeriksaan sampel senilai Rp 1,8 miliar.

Di samping itu, pemkot juga menyediakan ruangan khusus di RSUD dr R Soedarsono sebagai tempat alat PCR. Karenanya, diperlukan renovasi ruangan bertekanan negatif. Anggarannya senilai Rp 1,4 miliar. (tom/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/