alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Istighfar

Oleh: H. Ismail Marzuki Hasan, S.E, Ketua DPRD Kota Pasuruan


DALAM kehidupan sehari-hari, manusia seringkali tak luput dari kesalahan dan khilaf. Tentunya hal ini menyebabkan dosa yang tidak kita sadari. Sehingga sebagai umat muslim, kita harus senantiasa bersabar dan beristighfar jika kita tidak sengaja berbuat dosa dan mendapatkan musibah.

Bahkan dalam Islam, kita senantiasa diajarkan untuk selalu beristighfar agar diampuni dosanya dan mendapatkan karunia Allah Swt.

Di antara amalan yang banyak dilakukan oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam yaitu beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT. Terkadang dalam suatu majelis beliau beristighfar sampai 70 kali. Dalam riwayat yang lain disebutkan sampai 100 kali. Padahal Rasulullah SAW adalah seorang Nabi yang ma’sum yang telah dijaga oleh Allah dan telah mendapatkan jaminan ampunan dari Allah.

Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat dan kepada para umatnya untuk banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT. Allah memerintahkan beliau untuk beristighfar dan memohonkan ampun untuk umat beliau.

Secara etimologi, kata istighfar berasal dari akar kata dengan huruf-huruf gha, fa, ra yang bermakna dasar “menutup”. “al-Ghaffar” berarti antara lain,”Dia menutupi/atau mengampuni dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya”.

Secara istilah istighfar berarti permohonan untuk ditutupi, atau diampuni kesalahan/atau dosa yang telah dilakukan selama ini baik yang disengaja atau pun karena khilaf.

Dalam Islam ada 2 bentuk istighfar. Yang pertama dalam artian permohonan ampun atas kesalahan atau dosa yang telah dilakukan. Dan yang kedua adalah zikir untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Sedangkan hikmah dalam beristighfar adalah untuk mendambakan ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidup. Untuk menggapainya menurut hadis Nabi Saw tidak sulit, cukup dengan membudayakan dalam hidup dengan banyak beristighfar serta senantiasa bertaubat kepada Allah Swt. Sebagaimana sabda Nabi saw dalam HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas, yang terjemahnya seperti berikut,

“Barang siapa yang membiasakan diri untuk beristighfar, Allah SWT. Akan memberikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan, serta memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka”.

Sedangkan dalam Bulan Ramadan ini, dalam fase 10 hari pertama bulan Ramadan. Yang sudah pasti cukup berat karena tubuh, pikiran, tenaga, beradaptasi dengan kondisi awal puasa. Pada fase kedua/atau fase 10 hari kedua Ramadhan ini mungkin akan terasa lebih ringan karena tubuh sudah mulai terbiasa dengan aktivitas puasa, yang menuntut seseorang untuk tidak makan dan minum dimulai sejak matahari terbit hingga saat terbenamnya.

Tujuan pada fase kedua atau fase 10 hari kedua Ramadan ini, adalah Allah membukakan pintu magfirah atau pengampunan yang seluas-luasnya terhadap siapa yang ingin diampuni atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan (QS Al-Baqarah/2:284), selama dalam menjalankan ibadah puasa. Dalam arti Allah mengampuni terhadap siapa yang hendak diampuni atas kesalahan/atau dosa yang telah dilakukan. Serta menyiksa siapa yang hendak disiksa dari hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah/2:284). Dengan demikian, pengampunan dan siksa lebih banyak berkaitan dengan kehendak manusia, bukan kehendak Allah SWT.

Sehingga marilah kita bersama di Bulan yang penuh ampunan ini, kita semua beristighfar dan meminta ampunan kepada Allah SWT, dan semoga Allah membukakan pintu maaf seluas-luasnya kepada kita semua. Amin-Amin Ya Robbal Alamin. (*)

Oleh: H. Ismail Marzuki Hasan, S.E, Ketua DPRD Kota Pasuruan


DALAM kehidupan sehari-hari, manusia seringkali tak luput dari kesalahan dan khilaf. Tentunya hal ini menyebabkan dosa yang tidak kita sadari. Sehingga sebagai umat muslim, kita harus senantiasa bersabar dan beristighfar jika kita tidak sengaja berbuat dosa dan mendapatkan musibah.

Bahkan dalam Islam, kita senantiasa diajarkan untuk selalu beristighfar agar diampuni dosanya dan mendapatkan karunia Allah Swt.

Di antara amalan yang banyak dilakukan oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam yaitu beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT. Terkadang dalam suatu majelis beliau beristighfar sampai 70 kali. Dalam riwayat yang lain disebutkan sampai 100 kali. Padahal Rasulullah SAW adalah seorang Nabi yang ma’sum yang telah dijaga oleh Allah dan telah mendapatkan jaminan ampunan dari Allah.

Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat dan kepada para umatnya untuk banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT. Allah memerintahkan beliau untuk beristighfar dan memohonkan ampun untuk umat beliau.

Secara etimologi, kata istighfar berasal dari akar kata dengan huruf-huruf gha, fa, ra yang bermakna dasar “menutup”. “al-Ghaffar” berarti antara lain,”Dia menutupi/atau mengampuni dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya”.

Secara istilah istighfar berarti permohonan untuk ditutupi, atau diampuni kesalahan/atau dosa yang telah dilakukan selama ini baik yang disengaja atau pun karena khilaf.

Dalam Islam ada 2 bentuk istighfar. Yang pertama dalam artian permohonan ampun atas kesalahan atau dosa yang telah dilakukan. Dan yang kedua adalah zikir untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Sedangkan hikmah dalam beristighfar adalah untuk mendambakan ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidup. Untuk menggapainya menurut hadis Nabi Saw tidak sulit, cukup dengan membudayakan dalam hidup dengan banyak beristighfar serta senantiasa bertaubat kepada Allah Swt. Sebagaimana sabda Nabi saw dalam HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas, yang terjemahnya seperti berikut,

“Barang siapa yang membiasakan diri untuk beristighfar, Allah SWT. Akan memberikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan, serta memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka”.

Sedangkan dalam Bulan Ramadan ini, dalam fase 10 hari pertama bulan Ramadan. Yang sudah pasti cukup berat karena tubuh, pikiran, tenaga, beradaptasi dengan kondisi awal puasa. Pada fase kedua/atau fase 10 hari kedua Ramadhan ini mungkin akan terasa lebih ringan karena tubuh sudah mulai terbiasa dengan aktivitas puasa, yang menuntut seseorang untuk tidak makan dan minum dimulai sejak matahari terbit hingga saat terbenamnya.

Tujuan pada fase kedua atau fase 10 hari kedua Ramadan ini, adalah Allah membukakan pintu magfirah atau pengampunan yang seluas-luasnya terhadap siapa yang ingin diampuni atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan (QS Al-Baqarah/2:284), selama dalam menjalankan ibadah puasa. Dalam arti Allah mengampuni terhadap siapa yang hendak diampuni atas kesalahan/atau dosa yang telah dilakukan. Serta menyiksa siapa yang hendak disiksa dari hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah/2:284). Dengan demikian, pengampunan dan siksa lebih banyak berkaitan dengan kehendak manusia, bukan kehendak Allah SWT.

Sehingga marilah kita bersama di Bulan yang penuh ampunan ini, kita semua beristighfar dan meminta ampunan kepada Allah SWT, dan semoga Allah membukakan pintu maaf seluas-luasnya kepada kita semua. Amin-Amin Ya Robbal Alamin. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/