alexametrics
26C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Gus Ipul Prihatin Kota Pasuruan Satu-satunya Kota dengan Opini WDP

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Bagi Saifullah Yusuf, menjadi eksekutif maupun politisi adalah hal biasa. Sebelum dilantik menjadi wali kota Pasuruan, Gus Ipul pernah menjadi anggota DPR RI, juga pernah menjabat wagub Jatim selama dua periode. Jawa Pos Radar Bromo (RB) sempat bersilaturahmi ke Gus Ipul (GI).

 

 

RB: Apa yang dilakukan Gus Ipul menjelang pelantikan? Sebab, beberapa kali sejumlah pejabat Pemkot Pasuruan wara-wiri ke pendapa Kabupaten Pasuruan, tempat adiknya yakni Irsyad Yusuf, menjabat sebagai Bupati Pasuruan.

 

GI: Ya jelas, ini kan untuk menyiapkan masa transisi sekaligus membahas pelantikan. Barusan saya juga berkoordinasi dengan Pak Anom (Plh Wali Kota Pasuruan) terkait pelantikan. Sejauh ini sih belum berubah, namun teknisnya saya juga belum tahu. Tapi jauh sebelum itu, kami sudah berupaya menyiapkan transisi pemerintahan dengan eksekutif sebelumnya.

 

RB: Seberapa penting masa transisi ini diperlukan? Toh, nantinya Gus Ipul akan menjadi orang nomor satu di Kota Pasuruan.

 

GI: Saya ingin menjadikan tradisi baru saat menjabat nanti. Terutama dengan jajaran terkait. Saya sudah menjalin hubungan dengan Kapolresta dan Dandim serta sejumlah pejabat. Tentu ada hal spesifik atau khusus yang perlu saya ciptakan, apalagi ini masih pandemi. Contohnya, saya ingin mewajibkan PNS dan ASN untuk caring (berjemur, Red) sebelum masuk kantor agar sehat. Diakui atau tidak, pandemi ini membuat segalanya berubah.

 

RB: Soal pandemi, semua daerah tentu menghadapi kendala. Lalu apa program Gus Ipul menghadapi pandemi ini?

 

GI: Pandemi ini membuat segalanya berubah. Ini juga saya alami dengan keluarga. Terutama kaitannya dengan pendidikan. Pandemi membuat pendidikan sulit. Bayangkan saja, jika nantinya ini berjalan tiga tahun. Misalnya lho. Saat ada anak SD kelas 6 dan pendidikan (tatap muka, Red) baru normal berjalan tiga tahun lagi. Saat dia masuk sekolah sudah SMA. Lha, ini kan jadi persoalan. Tingkatnya SMA, tapi mental siswanya untuk bereaksi dengan sesama, baru lulus SD. Kami ingin ada percepatan. Tentu perlu dibahas dan teknis pelaksanaannya harus siap.

 

RB: Visi-misi Gus Ipul-Mas Adi sudah tertuang selama kampanye. Lalu bagaimana penerapannya nanti?

 

GI: Sebelum dilantik kami sudah menyiapkan segalanya. Mulai dari visi-misi, hingga nanti menyesuaikan dengan RPJMD provinsi dan nasional. Saat ini RPJMD lagi proses. Targetnya kalau saya dilantik, paling lambat Juni RPJMD sudah jadi. Ini nanti yang kita masukkan ke Bappeda dan DPRD, hingga menyesuaikan APBD yang sudah diketok tahun lalu. Salah satunya menyangkut pelayanan kesehatan. Termasuk soal pendidikan. Di mana keduanya bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisah.

 

Lalu juga ekonomi. Bagaimana menggerakkan ekonomi lokal. Tema APBD ke depan adalah bagaimana kesehatan masyarakat terjaga, tapi pemulihan ekonomi berjalan. Sebelum menerapkan Kota Madinah (visi-misi Gus Ipul-Mas Adi), tentu kita harus punya kekuatan. Adalah uang. APBD kita sangat terbatas. Kita pernah Rp 1 triliun, terus turun dan turun, dan sekarang kurang dari Rp 800 miliar.

 

Coba lihat kota di Jatim yang lain. Rata-rata sudah lebih dari Rp 1 triliun. Belum lagi ditambah Silpa (sisa lebih pembiayaan anggaran) yang sangat besar, Rp 250 miliar. Dari anggaran yang ada, belanja pegawai rutin itu Rp 360 miliar. Jika dibulatkan, maka kita hanya punya anggaran Rp 400 miliar. Kalau dikurangi Silpa Rp 250 miliar, berarti yang dibelanjakan hanya Rp 150 miliar. Dengan Kota Pasuruan yang ada 4 kecamatan, terus piye? Sementara status keuangan kita wajar dengan pengecualian (WDP).

TERPILIH: Gaya kebersamaan Gus Ipul-Adi Wibowo naik vespa. Keduanya bakal menjadi wali kota dan wawali Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

RB: Seberapa penting penilaian BPK atas keuangan daerah?

 

GI: Sebagian orang mungkin menganggap gak penting, apa itu WDP dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Tapi laporan BPK ini sebenarnya penting banget. Banyak temuan-temuan dari KPK maupun APH lain menindaklanjuti dari laporan BPK. Prihatin saya atas kondisi seperti ini.

 

RB: Apa yang paling urgen dari catatan BPK, yang perlu segera ditindaklanjuti?

 

GI: Pendataan aset. Saya sudah berkomunikasi dengan BPK dan ke depan kami akan bekerja sama untuk menyelesaikan ini. Karena sudah dua tahun terakhir pemkot didampingi BPK untuk menata aset-aset itu, tidak berhasil. Memprihatinkan, kata orang BPK.

 

Pertanyaannya, ini memang tidak paham atau pura-pura tidak paham? Makanya kami akan evaluasi lagi karena ini amanat BPK kepada saya. Dan saya maupun Mas Adi sudah minta agar sewa-sewa aset itu dievaluasi semua. Sebab, menurut BPK, kalau ini dibiarkan, tahun depan bisa di-sclaimer dan aset kita akan hilang. Ironis. Bahkan Surabaya sudah mengembalikan aset, sementara kita terancam kehilangan aset.

 

RB: Bagaimana target Gus Ipul dan Mas Adi agar Pemkot bisa kembali meraih WTP?

 

GI: Tahun ini kami bentuk tim untuk mengejar opini WTP. Karena kita satu-satunya kota dengan opini WDP se-Pulau Jawa. Bukan lagi se-Jatim lho, tapi se-Pulau Jawa. Kalau nanti sudah WTP, ada peluang untuk merealisasikan program-program melalui Dana Insentif Daerah. Dan itu kalau terlaksana, manfaatnya besar untuk rakyat. Tapi kalau WDP, DID terus berkurang dan rakyat yang rugi. (tom/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Bagi Saifullah Yusuf, menjadi eksekutif maupun politisi adalah hal biasa. Sebelum dilantik menjadi wali kota Pasuruan, Gus Ipul pernah menjadi anggota DPR RI, juga pernah menjabat wagub Jatim selama dua periode. Jawa Pos Radar Bromo (RB) sempat bersilaturahmi ke Gus Ipul (GI).

 

 

Mobile_AP_Half Page

RB: Apa yang dilakukan Gus Ipul menjelang pelantikan? Sebab, beberapa kali sejumlah pejabat Pemkot Pasuruan wara-wiri ke pendapa Kabupaten Pasuruan, tempat adiknya yakni Irsyad Yusuf, menjabat sebagai Bupati Pasuruan.

 

GI: Ya jelas, ini kan untuk menyiapkan masa transisi sekaligus membahas pelantikan. Barusan saya juga berkoordinasi dengan Pak Anom (Plh Wali Kota Pasuruan) terkait pelantikan. Sejauh ini sih belum berubah, namun teknisnya saya juga belum tahu. Tapi jauh sebelum itu, kami sudah berupaya menyiapkan transisi pemerintahan dengan eksekutif sebelumnya.

 

RB: Seberapa penting masa transisi ini diperlukan? Toh, nantinya Gus Ipul akan menjadi orang nomor satu di Kota Pasuruan.

 

GI: Saya ingin menjadikan tradisi baru saat menjabat nanti. Terutama dengan jajaran terkait. Saya sudah menjalin hubungan dengan Kapolresta dan Dandim serta sejumlah pejabat. Tentu ada hal spesifik atau khusus yang perlu saya ciptakan, apalagi ini masih pandemi. Contohnya, saya ingin mewajibkan PNS dan ASN untuk caring (berjemur, Red) sebelum masuk kantor agar sehat. Diakui atau tidak, pandemi ini membuat segalanya berubah.

 

RB: Soal pandemi, semua daerah tentu menghadapi kendala. Lalu apa program Gus Ipul menghadapi pandemi ini?

 

GI: Pandemi ini membuat segalanya berubah. Ini juga saya alami dengan keluarga. Terutama kaitannya dengan pendidikan. Pandemi membuat pendidikan sulit. Bayangkan saja, jika nantinya ini berjalan tiga tahun. Misalnya lho. Saat ada anak SD kelas 6 dan pendidikan (tatap muka, Red) baru normal berjalan tiga tahun lagi. Saat dia masuk sekolah sudah SMA. Lha, ini kan jadi persoalan. Tingkatnya SMA, tapi mental siswanya untuk bereaksi dengan sesama, baru lulus SD. Kami ingin ada percepatan. Tentu perlu dibahas dan teknis pelaksanaannya harus siap.

 

RB: Visi-misi Gus Ipul-Mas Adi sudah tertuang selama kampanye. Lalu bagaimana penerapannya nanti?

 

GI: Sebelum dilantik kami sudah menyiapkan segalanya. Mulai dari visi-misi, hingga nanti menyesuaikan dengan RPJMD provinsi dan nasional. Saat ini RPJMD lagi proses. Targetnya kalau saya dilantik, paling lambat Juni RPJMD sudah jadi. Ini nanti yang kita masukkan ke Bappeda dan DPRD, hingga menyesuaikan APBD yang sudah diketok tahun lalu. Salah satunya menyangkut pelayanan kesehatan. Termasuk soal pendidikan. Di mana keduanya bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisah.

 

Lalu juga ekonomi. Bagaimana menggerakkan ekonomi lokal. Tema APBD ke depan adalah bagaimana kesehatan masyarakat terjaga, tapi pemulihan ekonomi berjalan. Sebelum menerapkan Kota Madinah (visi-misi Gus Ipul-Mas Adi), tentu kita harus punya kekuatan. Adalah uang. APBD kita sangat terbatas. Kita pernah Rp 1 triliun, terus turun dan turun, dan sekarang kurang dari Rp 800 miliar.

 

Coba lihat kota di Jatim yang lain. Rata-rata sudah lebih dari Rp 1 triliun. Belum lagi ditambah Silpa (sisa lebih pembiayaan anggaran) yang sangat besar, Rp 250 miliar. Dari anggaran yang ada, belanja pegawai rutin itu Rp 360 miliar. Jika dibulatkan, maka kita hanya punya anggaran Rp 400 miliar. Kalau dikurangi Silpa Rp 250 miliar, berarti yang dibelanjakan hanya Rp 150 miliar. Dengan Kota Pasuruan yang ada 4 kecamatan, terus piye? Sementara status keuangan kita wajar dengan pengecualian (WDP).

TERPILIH: Gaya kebersamaan Gus Ipul-Adi Wibowo naik vespa. Keduanya bakal menjadi wali kota dan wawali Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

RB: Seberapa penting penilaian BPK atas keuangan daerah?

 

GI: Sebagian orang mungkin menganggap gak penting, apa itu WDP dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Tapi laporan BPK ini sebenarnya penting banget. Banyak temuan-temuan dari KPK maupun APH lain menindaklanjuti dari laporan BPK. Prihatin saya atas kondisi seperti ini.

 

RB: Apa yang paling urgen dari catatan BPK, yang perlu segera ditindaklanjuti?

 

GI: Pendataan aset. Saya sudah berkomunikasi dengan BPK dan ke depan kami akan bekerja sama untuk menyelesaikan ini. Karena sudah dua tahun terakhir pemkot didampingi BPK untuk menata aset-aset itu, tidak berhasil. Memprihatinkan, kata orang BPK.

 

Pertanyaannya, ini memang tidak paham atau pura-pura tidak paham? Makanya kami akan evaluasi lagi karena ini amanat BPK kepada saya. Dan saya maupun Mas Adi sudah minta agar sewa-sewa aset itu dievaluasi semua. Sebab, menurut BPK, kalau ini dibiarkan, tahun depan bisa di-sclaimer dan aset kita akan hilang. Ironis. Bahkan Surabaya sudah mengembalikan aset, sementara kita terancam kehilangan aset.

 

RB: Bagaimana target Gus Ipul dan Mas Adi agar Pemkot bisa kembali meraih WTP?

 

GI: Tahun ini kami bentuk tim untuk mengejar opini WTP. Karena kita satu-satunya kota dengan opini WDP se-Pulau Jawa. Bukan lagi se-Jatim lho, tapi se-Pulau Jawa. Kalau nanti sudah WTP, ada peluang untuk merealisasikan program-program melalui Dana Insentif Daerah. Dan itu kalau terlaksana, manfaatnya besar untuk rakyat. Tapi kalau WDP, DID terus berkurang dan rakyat yang rugi. (tom/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2