alexametrics
30.2 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Gus Ipul Jadi Wali Kota Pasuruan, Ini Setumpuk PR yang Menanti

Jumat (26/2) Saifullah Yusuf–Adi Wibowo resmi menjabat Wali Kota–Wakil Wali Kota Pasuruan periode 2021–2024. Keduanya akan dilantik Gubernur Jatim di gedung Grahadi Surabaya, pukul 13.00. Tak bisa bersantai, setumpuk pekerjaan rumah (PR) pun menanti keduanya setelah dilantik.

 PANDEMI Covid-19 sebagai bencana nonalam yang melanda seluruh belahan dunia mau tak mau harus diselesaikan. Wali Kota Saifullah Yusuf dan Wakil Wali Kota Adi Wibowo pun bakal menaruh perhatian penuh dalam penanganan virus korona, begitu resmi memimpin kota dengan empat kecamatan ini.

Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan, penanganan Covid-19 akan menjadi fokus utama dalam masa kepemimpinannya. Untuk itu, pihaknya akan lekas memetakan semua hal yang menjadi kendala dalam mengatasi pandemi selama ini. Terutama dari sisi pelayanan kesehatan.

Misalnya saja pelayanan di RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan. Gus Ipul menyebut, sekitar 70 persen masyarakat kota kecewa dengan pelayanan kesehatan rumah sakit milik pemerintah itu.

Karena itu, pihaknya akan membenahi sejumlah aspek yang menunjang pelayanan kesehatan. Sehingga, masyarakat bisa kembali menaruh kepercayaannya dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.

“Memang harus segera dibenahi agar masyarakat bisa terlayani dengan baik. Mulai dari sisi manajerial, teknologi, dan SDM,” ungkap Gus Ipul.

Sebagai satu-satunya rumah sakit milik pemerintah, RSUD dr R Soedarsono menurutnya harus memberikan pelayanan kesehatan maksimal kepada masyarakat. Tipe rumah sakit itu menjadi salah satu indikasi pelayanan kesehatan yang diberikan. Sejauh ini, RSUD masih menyandang tipe C.

“Makanya kami juga akan konsultasikan dengan RS dr Soetomo agar pelayanan RSUD ini bisa naik menjadi tipe B,” ujarnya.

Di sisi lain, Gus Ipul mengatakan bahwa Covid-19 harus ditangani secara bersama-sama. Di samping pentingnya meningkatkan pelayanan kesehatan, menurutnya semua pelayanan yang menyangkut masyarakat juga harus mendukung penanganan Covid-19.

“Karena itu, semua perangkat daerah diminta berkontribusi dalam menangani pandemi sesuai dengan bidangnya masing-masing,” katanya.

Termasuk penyediaan sarana yang menunjang penanganan Covid-19, seperti sarana cuci tangan. Gus Ipul mengakui, sarana cuci tangan saat ini sudah ada di berbagai sudut kota. Namun selama ini terkesan dibuat sekadarnya. Bahkan, lemah dalam pemeliharaan.

“Semestinya modelnya harus menarik perhatian, pemeliharaannya juga harus maksimal. Sehingga masyarakat juga tertarik untuk sering-sering cuci tangan,” jelasnya.

Lain pandemi, lain pula banjir. Meski keduanya sama-sama bencana. Bahkan sudah menjadi persoalan menahun yang melanda Kota Pasuruan. Setiap musim hujan, bencana alam itu selalu menyapa. Kota Pasuruan yang termasuk wilayah dengan dataran rendah kerap menjadi jujukan banjir.

Bahkan, bencana banjir yang terjadi bukan hanya disebabkan intensitas hujan lokal yang tinggi. Banjir yang melanda Kota Pasuruan juga terjadi karena banjir kiriman. Luapan air sungai yang mengalir dari kawasan hulu seringkali meluber hingga menggenangi jalan dan permukiman.

MASALAH KLISE: Banjir yang terjadi di Pasuruan. Banjir menjadi persoalan yang harus diselesaikan Gus Ipul. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

Ada tiga sungai yang membelah wilayah Kota Pasuruan. Yaitu Sungai Petung yang melintasi kawasan Kecamatan Bugul Kidul, Sungai Gembong yang berada di tengah kota, serta Sungai Welang yang mengalir di wilayah sekitar Kecamatan Gadingrejo.

Berdasarkan catatan Jawa Pos Radar Bromo, banjir terbesar pernah terjadi dua kali di Kota Pasuruan. Pada 2008, puluhan rumah warga rusak, terutama yang berada di sepanjang bantaran Sungai Gembong.

Di seluruh kota, tercatat belasan kelurahan di Kecamatan Gadingrejo, Purworejo, dan Bugul Kidul terdampak. Ribuan rumah warga terendam dan puluhan hektare sawah rusak.

Kemudian pada 2018, luapan Sungai Welang yang membelah wilayah Kabupaten dan Kota Pasuruan membuat permukiman warga terendam. Jalur Pantura yang tergenang setinggi 1 meter juga lumpuh.

Wakil Ketua DPRD Kota Pasuruan Farid Misbah menuturkan, persoalan banjir di Kota Pasuruan harus dipandang sebagai persoalan bersama. Artinya, bencana itu bukan menjadi tanggung jawab Pemkot Pasuruan saja untuk mengatasinya. Apalagi, karakteristik banjir yang melanda kota selama ini merupakan kiriman dari kawasan hulu.

“Jadi yang penting upaya Pemkot berkomunikasi dengan daerah-daerah tetangga seperti Kabupaten Pasuruan dan Malang untuk mengatasinya secara bersama-sama. Tentu dengan difasilitasi pemprov,” ujarnya. (tom/hn/fun)

Jumat (26/2) Saifullah Yusuf–Adi Wibowo resmi menjabat Wali Kota–Wakil Wali Kota Pasuruan periode 2021–2024. Keduanya akan dilantik Gubernur Jatim di gedung Grahadi Surabaya, pukul 13.00. Tak bisa bersantai, setumpuk pekerjaan rumah (PR) pun menanti keduanya setelah dilantik.

 PANDEMI Covid-19 sebagai bencana nonalam yang melanda seluruh belahan dunia mau tak mau harus diselesaikan. Wali Kota Saifullah Yusuf dan Wakil Wali Kota Adi Wibowo pun bakal menaruh perhatian penuh dalam penanganan virus korona, begitu resmi memimpin kota dengan empat kecamatan ini.

Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan, penanganan Covid-19 akan menjadi fokus utama dalam masa kepemimpinannya. Untuk itu, pihaknya akan lekas memetakan semua hal yang menjadi kendala dalam mengatasi pandemi selama ini. Terutama dari sisi pelayanan kesehatan.

Misalnya saja pelayanan di RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan. Gus Ipul menyebut, sekitar 70 persen masyarakat kota kecewa dengan pelayanan kesehatan rumah sakit milik pemerintah itu.

Karena itu, pihaknya akan membenahi sejumlah aspek yang menunjang pelayanan kesehatan. Sehingga, masyarakat bisa kembali menaruh kepercayaannya dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.

“Memang harus segera dibenahi agar masyarakat bisa terlayani dengan baik. Mulai dari sisi manajerial, teknologi, dan SDM,” ungkap Gus Ipul.

Sebagai satu-satunya rumah sakit milik pemerintah, RSUD dr R Soedarsono menurutnya harus memberikan pelayanan kesehatan maksimal kepada masyarakat. Tipe rumah sakit itu menjadi salah satu indikasi pelayanan kesehatan yang diberikan. Sejauh ini, RSUD masih menyandang tipe C.

“Makanya kami juga akan konsultasikan dengan RS dr Soetomo agar pelayanan RSUD ini bisa naik menjadi tipe B,” ujarnya.

Di sisi lain, Gus Ipul mengatakan bahwa Covid-19 harus ditangani secara bersama-sama. Di samping pentingnya meningkatkan pelayanan kesehatan, menurutnya semua pelayanan yang menyangkut masyarakat juga harus mendukung penanganan Covid-19.

“Karena itu, semua perangkat daerah diminta berkontribusi dalam menangani pandemi sesuai dengan bidangnya masing-masing,” katanya.

Termasuk penyediaan sarana yang menunjang penanganan Covid-19, seperti sarana cuci tangan. Gus Ipul mengakui, sarana cuci tangan saat ini sudah ada di berbagai sudut kota. Namun selama ini terkesan dibuat sekadarnya. Bahkan, lemah dalam pemeliharaan.

“Semestinya modelnya harus menarik perhatian, pemeliharaannya juga harus maksimal. Sehingga masyarakat juga tertarik untuk sering-sering cuci tangan,” jelasnya.

Lain pandemi, lain pula banjir. Meski keduanya sama-sama bencana. Bahkan sudah menjadi persoalan menahun yang melanda Kota Pasuruan. Setiap musim hujan, bencana alam itu selalu menyapa. Kota Pasuruan yang termasuk wilayah dengan dataran rendah kerap menjadi jujukan banjir.

Bahkan, bencana banjir yang terjadi bukan hanya disebabkan intensitas hujan lokal yang tinggi. Banjir yang melanda Kota Pasuruan juga terjadi karena banjir kiriman. Luapan air sungai yang mengalir dari kawasan hulu seringkali meluber hingga menggenangi jalan dan permukiman.

MASALAH KLISE: Banjir yang terjadi di Pasuruan. Banjir menjadi persoalan yang harus diselesaikan Gus Ipul. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

Ada tiga sungai yang membelah wilayah Kota Pasuruan. Yaitu Sungai Petung yang melintasi kawasan Kecamatan Bugul Kidul, Sungai Gembong yang berada di tengah kota, serta Sungai Welang yang mengalir di wilayah sekitar Kecamatan Gadingrejo.

Berdasarkan catatan Jawa Pos Radar Bromo, banjir terbesar pernah terjadi dua kali di Kota Pasuruan. Pada 2008, puluhan rumah warga rusak, terutama yang berada di sepanjang bantaran Sungai Gembong.

Di seluruh kota, tercatat belasan kelurahan di Kecamatan Gadingrejo, Purworejo, dan Bugul Kidul terdampak. Ribuan rumah warga terendam dan puluhan hektare sawah rusak.

Kemudian pada 2018, luapan Sungai Welang yang membelah wilayah Kabupaten dan Kota Pasuruan membuat permukiman warga terendam. Jalur Pantura yang tergenang setinggi 1 meter juga lumpuh.

Wakil Ketua DPRD Kota Pasuruan Farid Misbah menuturkan, persoalan banjir di Kota Pasuruan harus dipandang sebagai persoalan bersama. Artinya, bencana itu bukan menjadi tanggung jawab Pemkot Pasuruan saja untuk mengatasinya. Apalagi, karakteristik banjir yang melanda kota selama ini merupakan kiriman dari kawasan hulu.

“Jadi yang penting upaya Pemkot berkomunikasi dengan daerah-daerah tetangga seperti Kabupaten Pasuruan dan Malang untuk mengatasinya secara bersama-sama. Tentu dengan difasilitasi pemprov,” ujarnya. (tom/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/