Anak Masih Rawan Jadi Korban Kekerasan

Kabupaten Pasuruan masih punya pekerjaan rumah (PR) di peringatan hari anak nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli lalu. Yakni, kasus kekerasan pada anak masih kerap terjadi.

————

Awal Juli lalu, warga Kabupaten Pasuruan digegerkan dengan tragedi yang menyayat hati. Bocah perempuan yang berusia 5 tahun dibunuh secara keji. Ironisnya, sebelum dibunuh, korban sempat diperkosa.

Yang mengejutkan, pelakunya adalah pasangan suami-istri (pasutri) yang baru saja menikah. Pasutri itu masih tetangga korban di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.

Kasus itu menambah panjang, angka kekerasan pada anak yang terjadi sepanjang tahun ini di Kabupaten Pasuruan. Dari catatan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) setempat, Kabupaten Pasuruan belum zero kasus kekerasan pada anak. Tiap tahun masih ditemui laporan kekerasan pada anak. Kekerasan yang dialami pun beragam jenisnya.

Wakil Ketua LPA Kabupaten Pasuruan Daniel Polozakan mengungkapkan, tren kasus kekerasan pada anak yang diterima pihaknya memang cenderung mengalami penurunan.

Dari catatan LPA, sepanjang 2017 tercatat ada 34 kali laporan. Jumlah ini menurun dua kali lipat pada 2018 sebanyak 17 kasus. Sementara tahun lalu, ada 10 kali laporan.

Untuk tahun ini, laporan kasus kekerasan pada anak, rawan naik lagi. Sebab, pada semester awal atau Januari-Juni, sudah ada 7 laporan kasus kekerasan pada anak yang masuk.

Kekerasan yang dialami oleh korban pun beragam. Mulai dari persetubuhan, pencabulan hingga pemerkosaan. Rata-rata, pelakunya masih didominasi orang terdekat.

“Mulai dari teman maupun tetangga, bahkan oleh orang yang seharusnya melindungi korban. Entah itu paman atau orang tua. Ini sangat memprihatinkan. Wilayah Pasuruan masih masuk rawan kekerasan pada anak,”ungkapnya.

Hal itu seperti juga yang terjadi di Kecamatan Lekok pada April lalu. Saat itu, seorang Bapak Tiri yang seharusnya menjaga anak tirinya malah tega menggagahi anak tiri sendiri. Parahnya aksi itu tak hanya terjadi sekali. Namun, hingga dua kali.

Daniel menjelaskan kondisi itu, tidak terlepas dari pengawasan orang tua maupun wali terdekat dengan anak masih lemah. Tak hanya itu, pemahaman tentang kekerasan dan cara memperlakukan anak juga masih kurang.

Pihaknya pun berharap agar setiap kecamatan memperhatikan ini. Misalnya dengan memberikan pemahaman tentang cara pengawasan dan perlakuan pada anak yang benar.

LPA sendiri selalu melakukan pendampingan pada korban yang mengalami kekerasan. Pendampingan ini dilakukan sampai psikis dan mental korban pulih seperti sediakala.

Dan jika memang diperlukan, LPA bisa melakukan antar jemput korban ke sekolah. Tak hanya itu, sosialisasi yang lebih massif pada orang tua juga harus dilakukan. Baik melalui, pemerintah daerah maupun kecamatan dan desa.

“Utamanya terkait tata cara pola asuh. Tujuannya untuk mengamankan korban dari predator anak. Semua lapisan harus terlibat karena kekerasan pada anak itu merupakan kejahatan luar biasa,”terang Daniel. (riz/mie)