alexametrics
33.9 C
Probolinggo
Wednesday, 20 October 2021

Dispendik Kab Pasuruan: Tatap Muka Lancar Tanpa Klaster Sekolah

PASURUAN, Radar Bromo ­– Sekolah-sekolah diwanti-wanti agar betul-betul menegakkan protokol kesehatan (prokes). Dispendik Kabupaten Pasuruan memastikan belum ada klaster Covid-19 selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

PTM terbatas memang sudah berjalan sekitar satu bulan di Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini, tingkat kepatuhan prokes masih di bawah 100 persen. Kepala Dispendik Ninuk Ida Suryani mengatakan, pemerintah selalu mengawasi pelaksanaan PTM. Yang diutamakan adalah keselamatan siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Dispendik mencatat, selama sebulan terakhir, 2.187 sekolah sukses menjalankan PTM terbatas. Baik PAUD, TK, SD, sampai SMP. Semua tetap menerapkan prokes secara ketat.

”Semua prokes dijalankan dengan sangat ketat. Kasus Covid-19 di sekolah tidak ada,” katanya.

Menurut Ninuk, sekolah diharuskan mengevaluasi secara berkala pelaksanaan PTM terbatas. Bahkan, Dispendik meminta laporan secara tertulis dari masing-masing lembaga. Dengan begitu, kejadian yang tidak diinginkan bisa dicegah sejak dini.

Bagaimana peran kepala sekolah? Dispendik, kata Ninuk, selalu mengingatkan para kepala sekolah agar benar-benar mengawasi dan melaksanakan prokes. Mulai mencuci tangan, menjaga jarak, serta memakai masker. Mereka juga diingatkan untuk selalu patuh pada Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan. Misalnya, aturan tentang kuota dan kapasitas.

”PTM tetap digelar 50 persen dari kuota. Kantin ditutup. Anak-anak diminta membawa bekal dari rumah. Itu harus ditekankan,” katanya.

Ditanya soal pelaksanaan vaksinasi, Ninuk menyebutkan, total sudah 95 persen di antara 15.669 guru yang sudah vaksinasi. Dari TK sampai SMP. Sisanya sekitar 5 persen masih menunggu karena ada beberapa kendala. Ada yang sedang sakit. Ada juga yang memiliki penyakit penyerta (komorbit), hamil muda, menyusui, dan kendala lainnya.

Yang tidak bisa vaksinasi harus memiliki surat keterangan dari dokter. Selama belum vaksin, mereka tidak boleh tatap muka. Tetap harus daring. ”Simpelnya seperti itu,” ungkap Ninuk. (sid/far)

PASURUAN, Radar Bromo ­– Sekolah-sekolah diwanti-wanti agar betul-betul menegakkan protokol kesehatan (prokes). Dispendik Kabupaten Pasuruan memastikan belum ada klaster Covid-19 selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

PTM terbatas memang sudah berjalan sekitar satu bulan di Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini, tingkat kepatuhan prokes masih di bawah 100 persen. Kepala Dispendik Ninuk Ida Suryani mengatakan, pemerintah selalu mengawasi pelaksanaan PTM. Yang diutamakan adalah keselamatan siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Dispendik mencatat, selama sebulan terakhir, 2.187 sekolah sukses menjalankan PTM terbatas. Baik PAUD, TK, SD, sampai SMP. Semua tetap menerapkan prokes secara ketat.

”Semua prokes dijalankan dengan sangat ketat. Kasus Covid-19 di sekolah tidak ada,” katanya.

Menurut Ninuk, sekolah diharuskan mengevaluasi secara berkala pelaksanaan PTM terbatas. Bahkan, Dispendik meminta laporan secara tertulis dari masing-masing lembaga. Dengan begitu, kejadian yang tidak diinginkan bisa dicegah sejak dini.

Bagaimana peran kepala sekolah? Dispendik, kata Ninuk, selalu mengingatkan para kepala sekolah agar benar-benar mengawasi dan melaksanakan prokes. Mulai mencuci tangan, menjaga jarak, serta memakai masker. Mereka juga diingatkan untuk selalu patuh pada Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan. Misalnya, aturan tentang kuota dan kapasitas.

”PTM tetap digelar 50 persen dari kuota. Kantin ditutup. Anak-anak diminta membawa bekal dari rumah. Itu harus ditekankan,” katanya.

Ditanya soal pelaksanaan vaksinasi, Ninuk menyebutkan, total sudah 95 persen di antara 15.669 guru yang sudah vaksinasi. Dari TK sampai SMP. Sisanya sekitar 5 persen masih menunggu karena ada beberapa kendala. Ada yang sedang sakit. Ada juga yang memiliki penyakit penyerta (komorbit), hamil muda, menyusui, dan kendala lainnya.

Yang tidak bisa vaksinasi harus memiliki surat keterangan dari dokter. Selama belum vaksin, mereka tidak boleh tatap muka. Tetap harus daring. ”Simpelnya seperti itu,” ungkap Ninuk. (sid/far)

MOST READ

BERITA TERBARU