alexametrics
32C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Terpidana Korupsi TKD Meninggal, Kejari Telusuri Asetnya

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

BANGIL, Radar Bromo – Terpidana kasus korupsi TKD Bulusari Yudono, meninggal dunia. Eks kepala desa Bulusari, Kecamatan Gempol, itu meninggal dunia Selasa (23/2) saat menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, Yudono meninggal dunia kemarin petang. Ketika itu, ia tengah menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo karena sakit komplikasi yang dideritanya. Namun upaya tim medis untuk menyelamatkannya tak berhasil.

Kabar meninggalnya Yudono dibenarkan oleh Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra. Denny menjelaskan, sejak putusan kasasi dari MA diterima, Kejari kemudian melakukan eksekusi terhadap terpidana kasus TKD Bulusari itu.

Eksekusi dilakukan sebagai upaya menjalankan keputusan kasasi dari MA. “Kami melakukan eksekusi akhir Januari 2021. Ia sempat ditahan di Lapas Pasuruan,” ujar Denny.

Namun kondisi kesehatan Yudono terus menurun. Hingga akhirnya, Yudono dibantarkan ke RSUD Bangil. Pihak keluarga kemudian mengajukan permohonan agar Yudono dirawat di RSUD Sidoarjo. Harapannya ia bisa mendapatkan penanganan kesehatan yang lebih baik.

Permohonan keluarga itu pun dikabulkan Kejari. Yudono bahkan sudah dua pekan dirawat di RSUD Sidoarjo. Tapi kondisi kesehatannya ternyata semakin memburuk. Hingga akhirnya, Yudono meninggal dunia.

Meski meninggal dunia, kata Denny, tidak serta merta hukumannya hilang begitu saja. Karena Yudono masih memiliki tanggungan untuk membayar kerugian negara sebesar kurang lebih Rp 1,4 miliar.

Kasasi Turun, Vonis Eks Kades Bulusari Malah Lebih Berat

“Kalau untuk hukuman badan dan denda, memang gugur. Karena yang bersangkutan telah meninggal. Tapi untuk membayar kerugian negara tidak bisa dihapuskan,” bebernya.

Karena itu, pihaknya akan menelusuri aset-aset yang dimiliki Yudono. Supaya kerugian negara atas perbuatan yang dilakukannya bisa dilunasi melalui aset-aset yang dimilikinya itu.

“Aset-asetnya akan kami telusuri dan tidak menutup kemungkinan akan kami sita untuk mengganti kerugian negara,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mantan Kades Bulusari, Yudono dan Mantan Ketua BPD Bulusari Bambang, dijebloskan ke tahanan. Keduanya menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas dugaan korupsi TKD Bulusari.

Mereka mengeruk TKD seluas 4,6 hektare serta meraih keuntungan dari kegiatan penambangan TKD Bulusari. Hingga menyebabkan kerugian negara hampir Rp 2,9 miliar. Dugaan pengerukan tersebut berlangsung pada 2014 sampai 2016.

Hingga kasus ini menyeruak dan pihak kejaksaan melakukan penelusuran sejak tahun 2017. Kasus ini pun berjalan lambat. Sampai tahun 2019, dua orang dijadikan tersangka. Mereka adalah Eks Kades Bulusari Yudono dan Eks Ketua BPD Bulusari Bambang.

Bambang ditahan sejak Oktober 2019. Sementara, Yudono sempat mendapatkan penangguhan penahanan karena sakit. Hingga kemudian putusan kasasi didapatkannya dan dia ditahan di Lapas Pasuruan. Dia juga sampai melakukan perlawanan hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Namun kasasinya malah semakin berat. (one/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

BANGIL, Radar Bromo – Terpidana kasus korupsi TKD Bulusari Yudono, meninggal dunia. Eks kepala desa Bulusari, Kecamatan Gempol, itu meninggal dunia Selasa (23/2) saat menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, Yudono meninggal dunia kemarin petang. Ketika itu, ia tengah menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo karena sakit komplikasi yang dideritanya. Namun upaya tim medis untuk menyelamatkannya tak berhasil.

Kabar meninggalnya Yudono dibenarkan oleh Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra. Denny menjelaskan, sejak putusan kasasi dari MA diterima, Kejari kemudian melakukan eksekusi terhadap terpidana kasus TKD Bulusari itu.

Mobile_AP_Half Page

Eksekusi dilakukan sebagai upaya menjalankan keputusan kasasi dari MA. “Kami melakukan eksekusi akhir Januari 2021. Ia sempat ditahan di Lapas Pasuruan,” ujar Denny.

Namun kondisi kesehatan Yudono terus menurun. Hingga akhirnya, Yudono dibantarkan ke RSUD Bangil. Pihak keluarga kemudian mengajukan permohonan agar Yudono dirawat di RSUD Sidoarjo. Harapannya ia bisa mendapatkan penanganan kesehatan yang lebih baik.

Permohonan keluarga itu pun dikabulkan Kejari. Yudono bahkan sudah dua pekan dirawat di RSUD Sidoarjo. Tapi kondisi kesehatannya ternyata semakin memburuk. Hingga akhirnya, Yudono meninggal dunia.

Meski meninggal dunia, kata Denny, tidak serta merta hukumannya hilang begitu saja. Karena Yudono masih memiliki tanggungan untuk membayar kerugian negara sebesar kurang lebih Rp 1,4 miliar.

Kasasi Turun, Vonis Eks Kades Bulusari Malah Lebih Berat

“Kalau untuk hukuman badan dan denda, memang gugur. Karena yang bersangkutan telah meninggal. Tapi untuk membayar kerugian negara tidak bisa dihapuskan,” bebernya.

Karena itu, pihaknya akan menelusuri aset-aset yang dimiliki Yudono. Supaya kerugian negara atas perbuatan yang dilakukannya bisa dilunasi melalui aset-aset yang dimilikinya itu.

“Aset-asetnya akan kami telusuri dan tidak menutup kemungkinan akan kami sita untuk mengganti kerugian negara,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mantan Kades Bulusari, Yudono dan Mantan Ketua BPD Bulusari Bambang, dijebloskan ke tahanan. Keduanya menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas dugaan korupsi TKD Bulusari.

Mereka mengeruk TKD seluas 4,6 hektare serta meraih keuntungan dari kegiatan penambangan TKD Bulusari. Hingga menyebabkan kerugian negara hampir Rp 2,9 miliar. Dugaan pengerukan tersebut berlangsung pada 2014 sampai 2016.

Hingga kasus ini menyeruak dan pihak kejaksaan melakukan penelusuran sejak tahun 2017. Kasus ini pun berjalan lambat. Sampai tahun 2019, dua orang dijadikan tersangka. Mereka adalah Eks Kades Bulusari Yudono dan Eks Ketua BPD Bulusari Bambang.

Bambang ditahan sejak Oktober 2019. Sementara, Yudono sempat mendapatkan penangguhan penahanan karena sakit. Hingga kemudian putusan kasasi didapatkannya dan dia ditahan di Lapas Pasuruan. Dia juga sampai melakukan perlawanan hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Namun kasasinya malah semakin berat. (one/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2