Gus Ipul Punya Rekam Jejak Banyak Pengalaman di Pemerintahan

AMANAH: Gaya Gus Ipul mengendarai Vespa. Dia mengaku mendapatkan amanah maju menjadi calon walikota Pasuruan. Amanah tersebut berasal dari tokoh agama dan tokoh masyarakat. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Sarat pengalaman di ilmu politik dan pemerintahan. Inilah yang tergambar di pandangan mayoritas orang pada sosok Saifullah Yusuf. Perjalanan karirnya memang cukup mentereng. Jabatan strategis pernah diembannya baik level nasional maupun tingkat provinsi. Kini Gus Ipul, panggilan akrabnya, mencalonkan diri sebagai Calon Wali Kota Pasuruan.

—————

LAHIR dan besar di lingkungan pesantren, membuat pria kelahiran Pasuruan ini kental dengan Nahdhotul Ulama (NU). Di ormas terbesar se-Asia Tenggara ini, Gus Ipul pernah menjabat sebagai Ketua Umum GP Ansor. Di masa ini juga tercatat Gus Ipul sempat menjadi asisten pribadi KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

Rekam jejak politik suami Ummu Fatma ini dimulai ketika dirinya menjadi anggota DPR RI pada tahun 1999 silam. Kemudian laju politiknya beralih ke eksekutif dengan menjadi Menteri Negera Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tahun 2004-2007. Ketika menjadi menteri ini juga Gus Ipul dikenal sebagai pejabat negara yang sering blusukan ke daerah-daerah.

Blusukan sangat efektif mengetahui problematika riil suatu daerah, sehingga kita bisa menentukan solusi yang memang dibutuhkan,” kata Gus Ipul saat ditemui di Pintu Langit.

MOTIVASI: Gus Ipul dan istri serta keempat anaknya. Keluarga menjadi otovasi bagi Gus Ipul ketika berpolitik. (Foto: dok Pribadi)

 

Selepas menjabat menteri, bapak empat anak ini melanjutkan karirnya sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur selama dua periode. Pertama pada tahun 2008 Gus Ipul berpasangan dengan Soekarwo dan sukses meraih suara terbanyak pada Pilkada Jatim kala itu. Kemudian masih bersama Soekarwo, Gus Ipul kembali menjabat pada periode 2014-2019.

Sukses menjabat Wakil Gubernur, Gus Ipul mencalonkan diri sebagai Gubernur berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno di tahun 2018. Namun takdir berkata lain, Gus Ipul kalah bersaing kala itu dan karir politiknya sempat berhenti disini.

Selepas dari hingar-bingar kancah politik, Gus Ipul memilih pulang kampung ke tanah kelahirannya di Pasuruan. Gus Ipul beralih ke sektor pariwisata dengan membuka tempat wisata yang diberi nama Pintu Langit. Selain itu, Gus Ipul juga memiliki kesibukan baru dengan melakukan aktivitas pertanian.

“Selain mengembangkan Pintu Langit yang berlandaskan wisata halal, saya juga mengembangkan tanaman organik tomat ceri dan budi daya ikan nila dan lele,” tuturnya.

Berbekal segudang pengalaman yang dimilikinya, Gus Ipul mantap melangkah maju sebagai calon Wali Kota Pasuruan. Bersama pasangannya, Adi Wibowo, Gus Ipul mengaku sudah memiliki program besar melalui gagasan yang disesuaikan kultur Kota Pasuruan.

“Program ini kami buat setelah melewati riset dan dilengkapi masukan-masukan dari beberapa tokoh agama, tokoh masyarakat dan lapisan masyarakat lainnya,” kata Gus Ipul. Ditambahkanya, program tersebut dipadukan kultur yang melekat di masyarakat.

 

LUANG WAKTU: Bercocok tanam, kegiatan yang dilakukan Gus Ipul di waktu senggangnya. Selain tomat ceri, Gus Ipul juga budi daya ikan nila dan lele. (Foto: dok Pribadi)

 

Berjuang, Motivasi Utama Mencalonkan Sebagai Wali Kota

Di awal kemunculan namanya, Gus Ipul dianggap “turun kelas” Anggapan ini memang wajar mengingat Gus Ipul pernah jadi Menteri, lalu Wakil Gubernur dan kini mau menjadi calon Wali Kota Pasuruan. Menjawab penilaian publik ini, Gus Ipul mempunyai penjelasan tersendiri. Berikut petikan wawancara antara Jawa Pos Radar Bromo (RB) dan Gus Ipul (GI)

 

RB: Masyarakat menilai adanya “downgrade” mengingat jabatan sebelumnya di level nasional. Bagaimana anda melihatnya?

GI: Ini bukan soal turun kelas,melainkan soal amanah. Lebih tentang bagaimana kita bisa menerima kepercayaan itu dengan baik. Cukup lama saya baru bisa memberikan jawaban atas amanah amanah dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan komponen masyarakat lainnya untuk berjuang. Yang namanya berjuang itu tidak bisa memandang luas dan sempit, atau besar dan kecil. Tapi adalah targetnya kepentingan orang banyak.

 

RB: Amanah yang seperti apa?

GI: Amanah mempercepat kemajuan kota Pasuruan. Kemajuan di segala bidang mulai dari ekonomi, kesejahteraan dan tersedianya lapangan kerja.

 

RB: Menurut Gus Ipul, titik mana yang menjadi prioritas?

 

GI: Harus diutamakan pembangunan di segala bidang. Arah pembangunan harus dirumuskan dengan baik. Arah pembangunan yang terukur, otomatis yang lain akan mengikuti. Banyak sektor yang patut dijadikan prioritas. Pertama ekonomi, bisnis dan perdagangan, kesehatan, dan juga pendidikan, termasuk eksplorasi potensi alam Kota Pasuruan yang berlimpah.

 

RB: Kota Pasuruan kental dengan kultur religinya. Bagaimana menyelaraskannya?

GI: Kultur religi kota santri adalah kultur kuat, atau norma lama yang baik dan harus kita pertahankan. Kemudian kita melakukan gerakan pembaharuan dan perubahan dengan tetap memadukan kekuatan kultur religi dan tantangan modernisasi. Perubahan ini kita pakai menjadi solusi mengejar ketertinggalan.

 

RB: Dalam berbagai kesempatan, Gus Ipul menyampaikan Kota Pasuruan bisa seperti Surabaya. Apakah bisa dan bagaimana caranya?

GI: Jelas bisa. Sumber daya melimpah, potensinya juga besar dan ditunjang letak geografisnya yang strategis. Tinggal kita menggabungkannya menjadi sesuatu yang bernilai besar. Prinsip yang harus dijadikan penyemangat perjuangan kita adalah jika Surabaya bisa kenapa kita tidak?

 

RB: Terdengar banyak sekali program yang ditawarkan. Darimana memulainya?

GI: Kita akan melakukan konsep pembangunan jangka pendek, Menengah dan panjang. Semisal menata kembali alun-alun menjadi pusat wisata religi.Kemudian pembenahan potensi daerah pesisir termasuk pelabuhan dengan kekuatannya untuk mendukung sektor bisnis dan perdagangan. Selanjutnya mewujudkan pelayanan publik yang optimal dan memuaskan bagi masyarakat. Diantaranya pelayanan kesehatan, pendidikan, dan juga layanan cepat kependudukan. (unt/adv)